BerandaPERSPEKTIFGAGASANPilkada Manggarai Bukan Hanya...

Pilkada Manggarai Bukan Hanya Soal ‘Ruteng’

Oleh: RINO GOA, Peneliti pada Lembaga Change Operator Manggarai Raya

Pembicaraan seputar Pilkada Manggarai yang puncaknya pada September mendatang sudah kian hangat. Baliho kandidat sudah menghiasi hampir seisi kabupaten. Di café, kantor-kantor, emperan toko maupun di ruang keluarga, orang-orang juga kian ramai membahas siapa yang cocok memimpin Manggarai untuk periode 2020-2025?

Jagat maya juga tak kala hebohnya. Salah satu grup Facebok yang ramai membicarakan Pilkada Manggarai adalah ‘Manggarai Bebas Berpendapat’. Serupa dengan namanya, sebelum-sebelumnya grup ini membahas apa saja. Di tahun 2020 ini, tentu karena Pilkada kian dekat, narasi soal Pilkada makin ramai.

Menarik untuk membahas isu di grup itu, karena topik pembicaraannya sudah berada di titik program apa yang patut didorong agar menjadi perhatian pemimpin baru.

Namun, sejauh yang saya amati, pembicaraan tentang Pilkada Manggarai masih seputar isu yang ada di Kota Ruteng. Saya menyebut hal ini dengan istilah Ruteng-sentris. Mari kita sepakati  maksud dari istilah itu, yakni isu yang hanya berkutat pada pengembangan kota, pertarungan aktor elit pendukung, serta lingkaran kekuasaan, sementara Manggarai secara umum hanya dijadikan “trickle down effect” dari produksi wacana elit yang mengemuka.

Contohnya pembicaraan tentang sampah di kota Ruteng, pengelolaan pasar Inpres yang bobrok, privatisasi Mbaru Wunut.

Tentu saja pembicaraan tentang soal-soal itu sah-sah saja. Namun, menurut saya, yang harusnya menjadi pusat wacana tidak hanya berkutat di situ. Mengapa? Karena, Pilkada Manggarai adalah tentang kemaslahtaan seluruh rakyat Manggarai. Pilkada Manggarai di 2020 adalah tentang 324.014 jiwa (2018) yang mendiami seluruh pelosok, di total 145 desa.

Kalaupun saat ini, ada pembicaraan soal desa, maka hampir pasti itu hanya terkait soal potensi suara di desa, soal berapa wajib pilih di desa A dan B.

Dari segi sebaran pemilih, di wilayah Kecamatan Langke Rembong, yang diidentifikasi sebagai kota, jumlah pemilih adalah 34.640 orang, sementara di luar itu berjumlah 163.758.

Membumikan Isu Desa

Temuan Change Operator di beberapa wilayah bagian utara dan selatan Manggarai mengungkapkan adanya kerinduan masyarakat desa agar penataan sistem pertanian dan perdagangan menjadi agenda yang harus disegerakan, mengingat hampir 75% penduduk Manggarai adalah petani.

Masalahnya masih berkutat di modal produksi dan pemasaran; yang hanya menyisahkan celah masuknya rentenir dan pengijon yang mengisap habis keringat petani.

Di sini petani tidak punya pilihan untuk menjual produk pertaniannya; sekalipun jatuh harga. Naik turunnya harga pun ia tak tahu persis hitungannya. Untuk masalah ini, desa (petani) tentunya mempunyai sejumlah isu penting yang harus segera diterjemahkan oleh para kandidat dan tim sukses meraka.

Kenyataan yang terjadi selama ini pembangunan di tingkat desa hanya memperhatikan soal infrastruktur yang tidak diimbangi dengan pemikiran efek ekonomi yang didapat mulai dari hulu produksi, industri pasca panen dan marketing.

Hal lain yang menjadi kerinduan penduduk desa adalah bagaimana peran pemerintah (kabupaten) agar hadir sebelum kegiatan produksi petani. Tujuanya adalah petani bisa dibebaskan dari sistem yang dibuat rentenir.

Memberi perhatian serius pada masalah di desa adalah hal yang mendesak. Pertanyaan soal bagaimana seharusnya desa dibangun dan bagaimana seharusnya desa membangun diri sendiri mesti menjadi bagian dari isu sentral dalam Pilkada.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.