Ilustrasi

Lembor, Floresa.co – Komunitas Einstein YPUP Makassar menggelar Safari Pendidikan di SMP Negeri 4 Lembor, Desa Wae Wako, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) beberapa pekan lalu.

Kepala SMP Negeri 4 Lembor, Selfiana Adim menyatakan kegiatan yang dimulai Senin (3) hingga Sabtu (8) Februari 2020 itu bertujuan meningkatkan kualitas, mental, wawasan siswa serta mempererat tali silahturami antar kedua bela pihak.

“Ini merupakan kegiatan safari pendidikan yang dilakukan oleh teman-teman komunitas Einstein YPUP yang menjadi agenda setiap tahun. Dan tahun 2020 mereka memilih SMPN 4 lembor, yang tentunya bertujuan guna meningkatkan kualitas pengetahuan peserta didik. Kali ini di ikuti oleh 101 siswa,“ ujarnya.

Ia menjelaskan, selama sepekan, para mahasiswa, bersama dengan siswa sekolah itumenyelenggarakan berbagai macam kegiatan, yakni olimpiade matematika, latihan dasar kepemimpinan (LDK), membuat taman literasi, bakti sosial dan seminar pendidikan.

“Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan sukses sampai akhir,” jelasnya.

Ia berharap, kegiatan itu memberi manfaat kepada para siswa, memberikan warna baru dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kepada teman-teman Komunitas Einstein YPUP, kami sangat berterima kasih karena kehadiran Anda di sini merupakan penghargaan yang luar biasa untuk kami, untuk kemajuan peserta didik, pendidik dan sekolah,” katanya.

“Apa yang telah kalian beri dalam bentuk apapun, piala, sertifikat, piagam, dan juga buku-buku bacaan itu merupakan luar biasa, dan kami hanya bisa menyampaikan terima kasih banyak kepada Anda mulai dari pendiri, senior, pengurus dan anggota,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia, Olivia Saiman mengaku bersyukur karen semua kegiatan berjalan lancar.

“Mudah-mudahan kesempatan yang lain ada kegiatan serupa dengan mengunjungi objek yang lain pula,” ujarnya.

SMPN 4 Lembor terletak di Desa Wae Wako, paling barat Kecamatan Lembor. Akses ke wilayah itu hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua. Sementara, mobil hanya bisa masuk saat musim kering dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit.

Kendala lain yang mempersulit akses karena terhalang oleh sungai yang sampai saat ini hanya bisa terhubung oleh jembatan gantung.

Begitu pun terkait penerangan, wilayah itu belum teraliri listrik PLN. Untuk memenuhi kebutuhan listrik, warga menggunakan tenaga surya dan mesin genset.

Friska/ARJ/Floresa