Hendrik Masur (Foto: Ist)

Oleh: HENDRIK MASUR, Guru di Jakarta Nanyang School

Memikirkan laku kekuasaan Presiden Jokowi periode kedua, saya tiba-tiba teringat pada dua tokoh dalam mitologi Yunani: Orpheus dan Prometheus.

Konon, Orpheus adalah seorang anak raja yang dianugerahi bakat ilahi dalam memainkan alat musik sejenis kecapi. Kepiawaiannya memetik senar-senar kecapi tak hanya dapat meruntuhkan hati setiap insan, tetapi juga bisa menaklukkan berbagai binatang buas di semesta. Karena musiknya pula, seorang bidadari, Eurydice, jatuh cinta padanya.

Suatu ketika, Eurydice digigit ular berbisa saat mengembara di hutan, dan mati. Orpheus menjadi sangat berduka, dan dia hanya mendendangkan musik penderitaaan. Semua mahluk semesta memohon kepada Zeus, kepala para dewa, untuk menolong Orpheus. Zeus tentu saja menolak permintaan yang berlebihan itu.

Tetapi Orpheus memiliki senjata andalan yaitu bakat dan kecapinya. Bunyi kecapi Orpheus meluluhkan hati Zeus. Orpheus diizinkan masuk ke dunia orang mati dan menemui Hades, penguasa “dunia bawah”. Gerbangnya dijaga anjing berkepala tiga bernama Cerberus. Baik Hades dan si anjing buas itu tunduk lesu, tak berdaya mendengar dentingan magis kecapi Orpheus. Hades pun melepaskan Eurydice, pujaan hati Orpheus, untuk kembalik ke dunia. Syaratnya satu: Orpheus tidak boleh memandang wajah Eurydice sampai sinar mentari pagi merekah.

Orpheus melanggar sumpahnya. Dalam sekejab, si cantik jelita lenyap.


Prometheus, putra Titan, diperintahkan Zeus untuk menciptakan manusia dari tanah liat. Dia memiliki saudara yang bernama Epimetheus, yang ditugaskan Zeus menciptakan berbagai jenis binatang.

Prometheus kemudian meninggalkan kehidupan yang membosankan di dunia para dewa, yaitu di gunung Olimpus. Dia memilih membantu manusia ciptaannya yang hidup dalam kemiskinan dan kegelapan.

Prometheus kemudian memutuskan mencuri api dari pusat istana para dewa dengan menyalakan sebatang jerami. Jerami yang nyala itu dijaganya dengan baik sampai ia tiba di dunia manusia. Api menjadi awal hidup manusia yang beradab. Prometheus sangat bahagia melihat umat manusia yang menikmati pemberiannya.

Jokowi

Seperti Orpheus, Presiden Jokowi memiliki “musiknya” sendiri dan pintar memainkannya. Sebagian besar rakyat jatuh cinta padanya. Para dewa-dewi petinggi partai tak kuasa menahan tarikan magnet Jokowi. Musik Jokowi menaklukan musuh-musuhnya, yang paling Bengal dan brutal sekalipun.

Sejatinya, kini rakyat ingin Jokowi berhenti menjadi Orpheus. Di periode kedua ini, rakyat ingin Jokowi melakukan semcam ‘transfigurasi’, segera bersalin rupa menjadi Prometheus yang membawa api. Cukup sudah menjadi Orpheus!

Presiden Jokowi kiranya juga segera perlu mengambil jarak dengan kediaman para dewa-dewi oligarki yang mengontrol bisnis dan sumber daya alam Republik ini. Seperti Prometheus, dia harus berani mengambil resiko demi menyalakan api harapan yang ada di hati rakyat.

Rakyat butuh api, Bapak Presiden. Api yang menghangatkan persaudaraan, api yang membakar ketamakan, dan api yang menghanguskan politisasi identitas. Tetapi bukan, bukan api yang membakar KPK.

Jangan sampai rakyat menulis dengan tinta getir bahwasannya, Presiden Jokowi, mengakhiri pertualangan politiknya seperti Orpheus: melanggar sumpah kepada rakyatnya.