BerandaARTIKEL UTAMADiduga Intimidasi Bidan Agar...

Diduga Intimidasi Bidan Agar Dukung Petahana, Pimpinan RSUD Ben Mboi Diperiksa Bawaslu

Floresa.coBadan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Manggarai memeriksa salah satu pimpinan RSUD Ben Mboi Ruteng atas dugaan intimidasi terhadap salah seorang bidan honorer agar mendukung petahana dalam Pilkada.

Maximilian Kolbey, sekertaris rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut diperiksa pada Jumat, 7 Februari 2020, terkait beredarnya sebuah rekaman di mana ia mengintimidasi Maria Indrayati Newel alias Endak, seorang bidan honorer tenaga pendamping kesehatan yang bekerja di ruang persalinan.

Mili diperiksa sekitar pukul 10.00 Wita hingga pukul 11.30 Wita di ruang Pokja Sentra Gakumdu oleh dua Komisioner Bawaslu, yaitu Fortunatus Hamsa Manah dan Herybertus Harun.

Usai diperiksa, Mili sempat berusaha menghindari wartawan yang sudah menunggu untuk mewawancarainya.

Mulanya ia hendak meninggalkan Kantor Bawaslu. Namun ketika dihampiri wartawan, ia kembali ke dalam kantor, lalu masuk ke salah satu ruangan.

Sekitar 20 menit kemudian, ia baru keluar dan menghampiri kerumunan wartawan. Ia pun menyapa wartawan agar mewawancarainya.

“Mungkin ada yang mau ditanyakan ke saya?” tanyanya.

Wartawan pun langsung menanyakan tentang rekaman intimidasi yang ia lakukan terhadap Endak.

Namun, Mili memilih bungkam, lalu berusaha menghindari wartawan, bergegas meninggalkan kantor Bawaslu.

Saat itu, sebuah mobil Toyota Fortuner warna hitam dengan nomor plat B 1969 BJP sudah menunggunya di halaman kantor. Ia segera memasuki mobil itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Rekaman Intimidasi

Dalam rekaman terkait intimidasi terhadap Endak yang beredar luas selama beberapa hari terakhir, Mili mengaku ditelepon oleh bupati agar memberhentikan Endak lantaran suaminya tak mendukung petahana dalam Pilkada Manggarai 2020.

Bupati Kamelus Deno dipastikan akan kembali bertarung dalam Pilkada tahun ini dan kemungkinan besar akan tetap berpasangan dengan Victor Madur.

Endak yang ditemui wartawan di rumahnya pada Kamis, 6 Februari membenarkan intimidasi yang dilakukan Mili.

Intimidasi itu, jelas Endak, berawal dari postingan di akun Facebook suaminya. Dalam postingan itu, suaminya yang merupakan kader salah satu partai politik menulis tentang dukungan terhadap salah satu pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati

Lantaran Endak tak bisa memengaruhi agar suaminya mendukung petahana, ia lalu diintimidasi oleh Mili.

“Dia selalu marah saya, ancam pecat saya. Dia bikin saya tidak aman untuk kerja, sampai saya menangis di tempat kerja,” ujar Endak.

Ia juga dipindahkan dari ruang persalinan ke ruang tata usaha.

Dalam pemeriksaan hari ini, Mili dicecar dengan sejumlah pertanyaan. Namun, Komisioner Bawaslu enggan menjelaskan materi pemeriksaan itu.

Komisioner Fortunatus mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menyikapi setiap temuan dan pengaduan masyarakat terkait dugaan pelanggaran, termasuk soal netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Kami pastikan bahwa setiap dugaan pelanggaran netralitas ASN kami proses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Rekannya, Herybertus menambahkan, khusus terkait dugaan pelanggaran netralitas ASN, mereka sudah mengantongi delapan nama, dengan inisial MK, HN, AG, LS, HJ, RS, KJ, dan FG.

Beberapa di antaranya, kata dia, sudah dipanggil dan diperiksa.

“Mereka melakukan dugaan pelanggaran dalam bentuk sosialisasi, ajakan melalui media sosial, dan ajakan langsung untuk mendukung bakal pasangan calon tertentu,” ujar Hery.

ANS/FLORESA

Simak tanggapan Maximilian Kolbey terkait berita ini, dengan klik di sini!

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Bowosie: Bisnis Orang Pusat di Labuan Bajo?

Yosef Sampurna Nggarang berpandangan bahwa Badan Pelaksana Otoritatif Labuan Bajo Flores (BPO)-LBF lebih memberi kesan menjadi bagian dari oligarki yang ingin mengusai bisnis pariwisata di Labuan Bajo, dibanding berjuang agar mayoritas warga, terutama warga lokal bisa hidup dari pariwisata yang sudah mendunia itu dan kini dilabeli pariwisata super premium.

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.

“Pariwisata Holistik” Keuskupan Ruteng: Antara Kata dan Perbuatan

Keuskupan Ruteng sedang gencar mensosialisasikan konsep pariwisata holistik. Bagaimana sikap Keuskupan Ruteng terhadap sejumlah persoalan krusial yang dinilai berlawanan arah dengan prinsip pariwisata holistik itu?

Dikunjungi Bank Dunia, Warga Wae Sano Desak Batalkan Pendanaan Proyek Geothermal

"Kami menegaskan, sudah sejak awal tidak pernah sekalipun memberi persetujuan atas proyek geothermal Wae Sano. Kami sudah menyampaikan hal itu dalam surat yang telah kami kirim kepada Bank Dunia pada Februari 2020 dan Juli 2021," kata salah seorang warga