BerandaPERISTIWADituding Lakukan Penipuan dalam...

Dituding Lakukan Penipuan dalam Jual Beli Tanah, Anggota DPRD Mabar Enggan Berkomentar

Floresa.coHaja Andi Risky Nur Cahya, anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) yang dilaporkan ke polisi atas dugaan penggelapan dan penipuan uang jual beli tanah enggan memberikan komentar.

Ditemui di kantor DPRD Mabar, Senin, 3 Februari 2020, ia mengatakan saat ini tidak ingin membicarakan kasus itu dan meminta wartawan untuk berkomunikasi dengan pengacaranya.

“Kalau mau bicara (kasus) itu, nanti saya kasih nomor HP pengacara saya”, ujarnya.

Anggota dewan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang bisa disapa Asma itu dilapor ke Polres Mabar pada Kamis, 30 Januari oleh Punama Sari, ahli waris  yang merupakan anak kandung dari Aisah, warga Kampung Londar, Kecamatan Macang Pacar.

Saat jual beli tanah seluas 3 hektar yang berada di Kecamatan Boleng, Asma menjadi perantara. Ia dituding menggelapkan lebih dari 1,8 miliar dana hasil penjualan tanah itu.

BACA: Anggota DPRD Mabar Diduga Lakukan Penipuan dalam Jual Beli Tanah

Pelapor menuding Asma menyerahkan sejumlah kwitansi kosong kepada Ibu Asiah yang tengah terbaring di RSUD Merombok dan diminta untuk membubuhkan cap jempol pada kwitansi kosong tersebut. Ibu Asiah kemudian meninggal dunia pada Desember 2018 lalu.

Edu Gunung, kuasa hukum pelapor menjelaskan, pasca Ibu Aisah meninggal dunia, kliennya mendatangi Ibu Asma menagih uang tanah yang belum lunas.

Namun, kata Edu, mereka kaget ketika Asma menjawab bahwa uang tanah itu sudah lunas.

Saat Asma ditanya, apakah benar ia menjadi perantara dalam penjualan tanah itu dan melakukan hal seperti yang dituding pelapor, Asma kembali menolak memberi tanggapan.

No comment, karena saya butuh pendamping,” katanya.

Ia menambahkan, ”bukan berarti saya tidak akan klarifikasi.”

“Tetapi untuk sekarang saya belum bisa menjawab, karena (kasus ini) sudah di ranah hukum,” katanya.

Asmah pun enggan memberikan nomor HP pengacaranya.

“Saya belum bisa beri ya, karena beliau masih sibuk,” katanya.

Pantauan Floresa.co, pada  hari ini, penyidik Polres Mabar memeriksa saksi pelapor.

Purnama Sari bersama suaminya, didampingi Edu Gunung selaku kuasa hukum mendatangi ruang penyidik untuk memberi keterangan.

FERDINAND AMBO/FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.