Salah satu kisah yang diangkat dalam film produksi Tanakhir Films ini adalah tentang Romo Marselus Hasan, imam asal Keuskupan Ruteng, Flores yang menginisiasi penggunaan listrik tenaga air. (Foto: Ist)

Floresa.co – Film dokumenter Semesta yang mengangkat tujuh sosok dari berbagai pelosok di Nusantara – yang memiliki kepedulian merawat alam demi menekan lanjut perubahan iklim – mulai tayang di sejumlah bioskop pada hari ini, Kamis, 30 Januari 2020.

Seperti dilansir media Katolik, Katoliknews.com, salah satu kisah yang diangkat dalam film produksi Tanakhir Films ini adalah tentang seorang imam Katolik asal Flores yang menginisiasi penggunaan listrik tenaga air.

Di situs Cinema XXI, di Jakarta, film itu tayang antara lain di Blok M Plaza, Kelapa Gading XXI, Metropole XXI, Plaza Senayan XXI, Pondok Indah 1 XXI dan Setiabudi XXI. Di beberapa kota lain film ini juga ditayangkan. Di Yogyakarta misalnya, film ini bisa disaksikan di Empire XXI.

Film ini diproduseri oleh Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin, sementara sutradaranya adalah Chairun Nissa..

Chairun mengatakan, “kami sepakat membuat film tentang perubahan alam yang bukan sekadar mendokumentasikan, tapi juga ada cara bertutur yang puitik, dan ada story yang kami coba bangun dari setiap lokasi atau sosok (dalam film) ini.”

Ia menjelaskan, mereka yang menjadi sosok protagonis dipilih setelah melalui proses riset.

Apa pertimbangan memilihi sosok Romo Marselus Hasan, imam Keuskupan Ruteng yang menjadi Pastor Paroki St Damian Bea Muring, daerah pedalaman di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur?

Mandy Marahimin mengatakan, apa yang dibuat Romo Marsel adalah sejalan dengan apa yang mereka butuhkan, yakni “orang-orang yang dengan cara masing-masing sudah melakukan sesuatu yang memberi dampak positif pada lingkungan.”

“Selain itu kami memang ingin ada representasi keragaman agama, kepercayaan dan budaya dalam film ini,” katanya kepada Katoliknews.com.

“Romo Marsel juga memenuhi apa yang kami inginkan,” tambahnya.

Romo Marselus Hasan Pr. (Foto: Ist)

Di tengah situasi di Desa Bea Muring yang belum dialiri listrik sehingga masyarakat terpaksa menggunakan generator untuk sumber listrik, sejak 2012, Romo Marse bersama warga secara mandiri membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yang notabene merupakan sumber listrik yang berkelanjutan dan bersih.

Tidak hanya di Bea Muring, kini PLTMH sudah dibangun di daerah lain di Keuskupan Ruteng, yang wilayahnya mencapuk tiga kabupaten; Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Total lima unit PLTMH dibangun oleh Romo Marsel, bekerja sama dengan rekan-rekan imamnya, tenaga ahli dan umat setempat.

Dalam film ini, Romo Marsel dikisahkan menyelipkan pesan kepada umatnya untuk berdamai dan menjaga alam, terutama sumber mata air.

Kisah Tokoh Lain

Selain kisah Romo Marsel, film ini juga mengangkat sosok Tjokorda Raka Kerthyasa, tokoh budaya di Ubud, Bali, yang bersama umat Hindu menjadikan momentum Hari Raya Nyepi sebagai hari istirahat alam semesta.

Selama satu hari itu, penggunaan listrik, transportasi, dan industri dihentikan selama satu hari, hal yang ternyata memberi efek luar biasa dalam pengurangan emisi harian di Bali.

Lalu ada Agustinus Pius Inam, Kepala Dusun Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang memastikan pentingnya penduduk desa memahami dan mengikuti tata cara adat dalam melindungi dan melestarikan hutan.

Walaupun fokus utama film Semesta tentang perubahan iklim, unsur pemberdayaan perempuan dan komunitas juga menjadi salah satu poin yang diangkat.

Ini tercermin lewat pemilihan Almina Kacili, kepala kelompok wanita gereja di Kapatcol, Papua Barat yang bersama ibu-ibu anggota kelompoknya membantu penyeimbangan alam melalui “Sasi.”

Ini adalah sebutan untuk tradisi kearifan lokal yang menjaga keberlangsungan sumber daya alam dengan melindungi wilayahnya dari eksploitasi, terutama oleh nelayan-nelayan yang menggunakan peralatan ilegal.

Protagonis selanjutnya yang menempati wilayah paling barat Indonesia adalah Muhammad Yusuf, yang sehari-hari menjadi imam di Desa Pameu, Aceh.

Dalam setiap kesempatan tak henti ia memperingatkan penduduk untuk berdamai dengan alam, termasuk ketika memberikan khotbah di masjid.

Penonton juga akan diperkenalkan dengan figur Iskandar Waworuntu yang bertahun-tahun lalu memutuskan hijrah dari kehidupannya dahulu dan hidup dari sebidang tanah kering, sebuah tempat yang ia beri nama Bumi Langit.

Perjalanan Semeseta berakhir dengan kehadiran Soraya Cassandra, petani kota pendiri Kebun Kumara, Jakarta. Melalui sebuah kebun yang ia kelola di pinggiran ibukota, Sandra melakukan kampanye prinsip-prinsip belajar dari alam yang secara kreatif mengubah tanah di kota menjadi hijau kembali.

Ajakan Peduli Pada Ekologi

Dalam membangun kisah dari setiap tokoh atau lokasi, sutradara Chairun memakai struktur penceritaan tiga babak, yakni pengenalan, permasalahan, dan penyelesaian seperti yang biasanya dijumpai dalam film fiksi.

“Untuk sudut pandang, kami mencoba mengulik hal-hal ringan yang kita semua bisa lakukan dalam keseharian. Tujuannya agar penonton juga bisa memilih mempraktikkan bagian mana yang paling dekat dengan keseharian mereka,” katanya.

Berdasarkan pengalamannya menjelajahi berbagai daerah di Tanah Air, Nicholas Saputra yang juga dikenal publik sebagai aktor mengungkapkan krisis ekologi di Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan.

“Makanya penting untuk menjaga kondisi alam kita sekarang juga,” kata  pemeran tokoh Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta ini.

Mandy Marahimin menambahkan, berbagai istilah seperti perubahan iklim, pemanasan global, dan lain-lain jangan sampai membuat kita jadi apatis melakukan sesuatu untuk lingkungan sekitar.

“Tidak selalu harus butuh langkah-langkah besar pula untuk mengatasi kondisi tersebut,” katanya.

“Film ini menunjukkan bahwa langkah-langkah kecil yang kita lakukan juga bisa memberikan dampak besar untuk merawat dan melestarikan alam Indonesia.”

Katoliknews.com/ARL