Florentina Amelia Kin (Foto: Rosis/Floresa)

Floresa.co – Umurnya sudah tiga tahun. Mestinya pada usia seperti itu, ia sudah bisa berjalan ke sana kemari, bermain bersama anak-anak sebayanya.

Namun, bocah bernama lengkap Florentina Amelia Kin itu hanya bisa berbaring. Duduk pun ia belum mampu.

Flora, demikian ia bisa disapa adalah putri sulung dari pasangan Rivansius Afri (23) dan Maria Susanti Remung (25), warga Ngusu, desa Balus Permai, kecamatan Borong, kabupaten Manggarai Timur, NTT.

Setiap hari, Flora hanya terbaring di dalam rumah. Jika hendak ke luar rumah, ia harus digendong oleh orang tua atau orang lain.

Postur dan kulit tubuhnya tampak seperti bayi berusia tiga hingga lima bulan. Mungil dan halus.

Menurut sang ibu, Maria, putri sulungnya itu terlahir normal pada 29 Desember 2016. Namun, lima hari pasca lahir, tidak ada tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan pada tubuh anaknya itu.

“Biasanya kan kalau bayi baru lahir itu, setelah lima hari, pasti ada perubahan ukuran tubuhnya. Dia semakin terlihat besar. Tapi, Enu (nona) ini tidak ada perubahan. Ukuran badannya tidak pernah berubah,” kisah Maria kepada Floresa.co, Sabtu, 25 Januari 2019.

Sejak lahir, kata Maria, Flora juga tidak mau menyusu. “Kalau kasih ASI, dia menangis. Terpaksa kami beri susu formula,” ungkapnya.

Waktu terus berjalan, hingga pada usia setengah tahun sampai satu tahun, tidak ada tanda-tanda pada Flora untuk bisa duduk, merangkak serta mulai berdiri dan berjalan sendiri, seperti bayi lain pada umumnya.

Hingga kini, kedua kakinya terlihat kecil, tidak seimbang dengan badannya. Tulang lehernya lembek, sehingga tidak bisa menopang kepalanya.

Butuh Biaya untuk Beli Susu

Di tengah kondisi fisik Flora yang demikian, orang tuanya mengaku kesulitan untuk merawatnya dengan baik. Keterbatasan ekonomi menjadi kendala utama bagi keluarga kecil ini.

Flora yang setiap hari hanya bisa konsumsi susu formula, membuat ayahnya berpikir dan bekerja keras untuk mendapatkan uang.

“Saya ini petani. Selain bekerja di kebun sendiri, saya terpaksa harus bekerja di kebun orang agar bisa membeli susu untuk nona,” kata Rivansius, ayah Flora.

Rivansius mengaku mendapat upah Rp 30.000 per hari, jika bekerja di kebun orang. Uang tersebut, kata dia, hanya bisa memenuhi kebutuhan susu anaknya untuk rentang waktu satu setengah hari.

“Dari pagi sampai malam itu, dia habiskan empat saset susu Dancow. Satu saset itu kita beli dengan harga Rp 5000,” katanya.

Jika ditotal, lanjut Rivansius, sebulan ia harus mengeluarkan Rp 600.000 untuk kebutuhan susu putrinya itu. Jumlah itu, kata dia, belum termasuk kebutuhan lain dalam rumah tangga mereka.

“Penghasilan kami ini tidak menentu setiap bulan karena tidak setiap hari, orang butuh kami punya tenaga. Begitu juga dengan hasil kebun, tidak pasti ,” katanya.

“Sulit sekali rasanya,” lanjutnya.

Rivansius mengatakan, selama ini, keluarganya luput dari perhatian pemerintah, meski kondisi anaknya yang demikian.

Padahal, sebutnya, banyak keluarga lain yang terhitung mampu, justru mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Harapan saya, semoga ada orang yang berbaik hati, baik pemerintah atau siapa saja yang berbaik hati untuk bantu susu bagi anak saya,” pungkasnya lirih. (rosis/florsa)