Floresa.co – Anggota DPRD NTT, Yohanes Rumat meminta kontraktor untuk segera mengganti dan memasang kembali pipa-pipa air yang rusak akibat proyek jalan provinsi jalur Bealaing-Mukun-Mbazang, tepatnya di  Golo Robo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Air yang sebelumnya dialiri melalui instalasi pipa yang kini sudah rusak itu, dimanfaatkan oleh ratusan rumah tangga di Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba.

Politisi PKB itu mengatakan, sebagai wakil rakyat, ia kecewa dengan prilaku kontraktor yang tidak bertanggung jawab itu.

“Atas kejadian terhadap kerusakan instalasi pipa air yang sudah ada di wilayah pengerjaan jalan provinsi yang saat ini sedang dikerjakan, sebagai anggota DPRD provinsi NTT, saya minta kepada kontraktor untuk normalkan kembali hak pelayanan air minum bersih terhadap kebutuhan masyarakat,” kata Rumat kepada Floresa.co, Sabtu, 11 Januari 2020.

Ia juga meminta kepada pihak Dinas Pekerjaan Umum NTT untuk memberi teguran kepada kontraktor yang bersangkutan.

“Sebab, masyarakat sangat dirugikan. Kalau tidak digubris oleh pemberi proyek (PU) dan kontraktor, maka ini pelanggaran, yang mana masyarakat bisa lapor ke pihak berwajib,” tandasnya.

Sebelumnya, kepada Floresa.co, Maria Bur, warga Desa Rana Mbata, mengaku kesal dengan pekerja proyek jalan Provinsi NTT, yang mengerjakan jalan Golo Robo-Mbata pada ruas Bealaing-Mukun-Mbazang yang tidak bertanggung jawab atas kerusakan pipa air akibat penggusuran jalan itu.

Material tanah dan batu yang digusur menggunakan alat berat saat pengerjaan jalan itu menindis dan merusak pipa-pipa air menuju Rana Mbata, tepatnya di sepanjang jalur Golo Robo.

“Kami sudah lima bulan alami krisis air, karena pipa-pipa air sudah rusak akibat penggusuran jalan (provinsi) dari Golo Robo itu,” kata Maria Bur, salah seorang ibu rumah tangga kepada Floresa.co, pada Kamis, 26 Desember 2019.

Menurut Maria, sejak pipa-pipa itu rusak, mereka terpaksa membeli air yang dijual menggunakan mobil-mobil tangki dengan harga Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per tangki.

“Air yang kami beli itu hanya untuk kebutuhan masak, minum dan WC,” katanya.

Sedangkan untuk mandi dan mencuci pakaian, katanya, mereka harus berjalan kaki hingga lebih dari satu kilo meter menuju sumber air yang ada di wilayah itu.

Pantauan Floresa.co, pipa-pipa air dari Golo Robo menuju mbata  tampak tidak tersambung lagi dan dibiarkan tergeletak dan berserakan di pinggir jalan Golo Robo-Mbata.

Pipa-pipa itu ada yang sudah rusak akibat ditindis alat berat.

Warga berharap, pihak yang mengerjakan proyek jalan itu memperbaiki pipa-pipa air menuju Desa Rana Mbata itu.

Pengerjaan hotmiks jalan provinsi jalur Bealaing-Mukun-Mbazang itu, tepatnya dari Mukun hingga Jere dikerjakan oleh PT Wijaya Graha Prima.

Jalan Mukun-Jere itu tampak sudah mulus.

Papan informasi proyek tampak masih berdiri tegak di pinggir jalan sebelum memasuki Kampung Jere dari arah Desa Rana Mbata. Papan tender itu dipasang di titik akhir pengerjaan yang menjadi tanggung jawab PT Wijaya Graha Prima tersebut.

Informasi yang dihimpun Floresa.co, pengerjaan lanjutan jalur itu, yakni dari Jere menuju Desa Rana Mbata, dikerjakan oleh PT Agogo. Namun,Floresa.co tidak melihat papan tender proyek pengerjaan jalan tersebut.

Selain itu, tampak belum ada tanda-tanda penyiraman hotmiks pada jalur itu.

Satu unit eksavator terlihat masih diparkir di pinggir jalan setelah melewati kampung Jere dari arah Ruteng.

Sebagian jalan itu tampak sudah disirami krikil dan sudah digilas.

Sedangkan di beberapa titik, masih telihat genangan air membentuk kolam dan berlumpur, karena belum  disirami krikil.

ADR/Floresa