BerandaPOLITIKPelantikan Eselon II Manggarai...

Pelantikan Eselon II Manggarai Diduga Cacat Hukum  

Ruteng, Floresa.coPelantikan sejumlah pejabat eselon II di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai pada Senin 16 Desember 2019 diduga cacat hukum karena bertentangan dengan PP No. 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil.

“Pasal 107 huruf c point 6 PP No. 11 Tahun 2017 Tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil sangat jelas mengatur tentang usia jabatan pimpinan tinggi (JPT) pratama atau eselon II-B yaitu paling tinggi 56 tahun,” kata sumber Floresa.co yang tidak ingin disebutkan namanya.

Adapun pasal 107 pada peraturan pemerintah yang dimaksud adalah mengatur tentang persyaratan untuk menduduki jabatan pratama utama, madya dan pratama.

Pada huruf c point 6 mengatur  tentang usia ASN yg menduduki jabatan pratama, paling tinggi berusia 56 tahun.

Pada bagian penjelasan dari PP tersebut, tidak ada uraian lebih lanjut, hanya dituliskan bahwa pasal 107 yang dimaksud sudah jelas.

“Ada pejabat yang dilantik tersebut telah melampaui usia 56 tahun bahkan ada pejabat yang dilantik itu, usianya mau menjelang 58 tahun.”

“Usia yang lebih dari 56 tahun yang disayaratkan itu sudah mengindikasikan bahwa penetapan dan pelantikan pejabat eselon II tersebut diduga cacat hukum,” ungkap sumber tersebut.

Dia juga menambahkan, pelantikan tersebut juga tidak sesuai semangat visi-misi bupati Manggarai periode 2015-2020, Deno Kamelus, yaitu penegakan hukum.

“Pelantikan beberapa pejabat eselon II tersebut telah bertentangan dengan visi-misi bupati Deno Kamelus tentang penegakan hukum,” ujarnya.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Anglus Angkat, menjelaskan, pejabat yang dilantik itu belum masih berumur 56 tahun lebih.

“Soal umur itu, saya pikir begini. Ini kan belum jalan 57, masih 56 sekian. Belum masuk 57 dan diloloskan sesuai persyaratan itu (usia 56, maksudnya) di Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Manggarai. Soal administrasi, tentu ada pertimbangan di sana (BKPP Kabupaten Manggarai, Red),” jelas Angkat kepada Floresa.co usai pelantikan.

Diakui Anglus, selaku panitia seleksi (Pansel) untuk JPT hanya menyelenggarakan seleksi, soal administrasi itu merupakan pertimbangan yang dilakukan oleh BKPP Kabupaten Manggarai.

“Kami sebagai Pansel hanya lakukan seleksi, soal administrasi tentu ada pertimbangan di sana (BKPP Kabupaten Manggarai, Red),” akunya.

Namun, yang dipersoalkan oleh sejumlah kalangan di Ruteng ialah usia dari salah seorang pejabat yg dilantik yaitu Lorensius Santu yang berusia lebih dari 57 tahun.

Berdasarkan NIP-nya, Lorensius Santu lahir tanggal 12 Maret 1962 atau pada tanggal 12 Maret 2020 nanti, Lorensius Santu yang dilantik menjadi Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan sudah berusia lebih dari 57 tahun.

Untuk diketahui, sejumlah pejabat yang dilantik untuk menduduki jabatan eselon II atau JPT di kabupaten itu ialah Kanisius Nasak, berusia 50 tahun, kelahiran 5 April 1969, dilantik menjadi Kepala Dinas Lingkungan Hidup. Sebelumnya menjabat Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai.

Lalu, Venidiana Wanggut (55), kelahiran 30 Maret 1964. Dilantik menjadi Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika. Sebelumnya, menjabat Kabag Administrasi Sosial Setda Manggarai.

Sedangkan Lorensius Santu (58), kelahiran 31 Desember 1962, dilantik menjadi Asisten Administrasi Ekonomi dan Pembangunan. Sebelumnya, menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kabupaten Manggarai.

Selanjutnya, Bour Maximus (56), kelahiran 24 Februari 1964.  Dilantik menjadi Inspektur Daerah. Sebelumnya menjabat Kabag Hukum.

AKA/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

10 Pelukis asa NTT Gelar Pameran Lukisan di TIM

Jakarta, Floresa.co - 10 orang pelukis asal Nusa Tenggara Timur (NTT)...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Konservasi vs Investasi

Oleh: GREGORIUS AFIOMA, Peneliti pada Sunspirit for Justice and Peace Pemerintah perlu...

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.