Martinus Adat, seornag penyandang tuna netra bersama isteri dan anaknya yang mengidap gangguan jiwa. (Foto: Floresa)

Mano, Floresa.co – Enam puluh empat tahun yang lalu, Martinus Adat lahir dalam kondisi tuna netra. Warga Kampung Nancang-Mano, Kelurahan Mandosawu, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur itu sama sekali tidak bisa melihat.

Beruntung pada saat kecil hingga dewasa, ia  tinggal di sebuah panti asuhan di Kupang, di mana ia kemudian belajar untuk bisa beraktivitas secara mandiri, termasuk mengenal nominal mata uang.

Ia tingga di Kupang selama 20 tahun dan baru kembali ke kampung halamannya pada tahun 1990.

Setahun kemudian, ia menikah dengan Paulina Dihus. Tahun 1993, putri yang menjadi anak satu-satunya dari Martinus – Paulina lahir. Ia diberi nama Fransiska Jemina.

Sejak kecil, Fransiska memperlihatkan tanda-tanda mengalami gangguan jiwa. Ia selalu berbicara dan tertawa sendiri.

Karena kondisinya demikian, ia tidak disekolahkan.

Saat menginjak usia remaja, Fransiska sempat tinggal di salah satu biara susteran di Mano. Namun, ia kabur dan kembali ke rumah orangtuanya.

Paulina banyak membantu pekerjaan di rumah yang tidak bisa dilakukan oleh Martinus.

Kondisi menjadi lebih sulit bagi keluarga ini, ketika pada 2007, Paulina yang juga mulai mengalami gangguan jiwa.

Ia jarang keluar rumah dan selalu bicara sendiri. Sejak Paulina sakit, tak ada lagi orang yang bisa membantu Martinus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.

“Selama ini saya yang masak nasi untuk mereka (Fransiska dan Paulina),” kata Martinus, Jumat malam, 13 Desember 2019, saat Floresa.co menyambangi rumahnya.

Martinus tidak banyak mengeluh. Ia sudah terbiasa hidup dalam situasi keluarganya yang demikian.

Ia mengaku dapat menyambung hidup keluarganya karena tetangga dan orang-orang yang menaruh peduli dengan mereka.

“Ada orang yang kasih beras, ada juga yang kasih uang,” katanya.

Ia mengatakan, jika musim panen cengkeh, ia biasa mengolah uang pemberian orang untuk mendapatkan laba.

“Kalau ada orang kasih sampai dua ratus ribu begitu, saya biasa beli cengkeh yang anak-anak jual itu. Mereka kan tidak biasa jual sampai satu kilo (gram). Saya beli yang mereka jual satu-dua mok,” katanya.

Laba dari bisnis itu, kata dia, ia manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Ya, paling hanya bisa beli beras satu-dua kilo (gram),” katanya.

Ia mengaku bersyukur karena tahun ini pemerintah sudah membantu keluarganya melalui dana Program Keluarga Harapan (PKH).

Ia berharap agar pemerintah juga bisa membiayai pengobatan istri dan anaknya.

Rosis Adir/Floresa