Dalam foto yang viral ini, beberapa ekor anak anjing sedang menyusu pada induk mereka yang kepalanya sudah terpotong. (Foto: Ist)

Floresa.co – Foto yang memperlihatkan beberapa ekor anak anjing sedang menyusu pada induk mereka yang kepalanya sudah terpotong menjadi viral di media sosial.

Induk anjing itu rupanya menjadi salah satu sasaran program eliminasi anjing oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, sebagai langkah untuk apa yang mereka klaim upaya mencegah penyebaran penyakit rabies.

Menyusul ramainya pembicaraan tentang foto itu, Pemkab Matim membuat pernyataan klarifikasi kepada publik, perihal program pembasmian anjing itu.

Humas Pro Setda Matim dalam pernyataannya menyebut eliminasi anjing itu dilakukan atas dasar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 tahun 2010 tentang Penertiban Penanggulangan dan Pemberantasan Hewan Penular Rabies (HPR).

“Perda ini sudah lama diterbitkan dan juga sudah cukup lama diketahui masyarakat,” demikian pernyataan pers tersebut.

Disebutkan bahwa Perda ini untuk mengantisipasi terjadinya status Kejadian Luar Biasa (KLB) penularan HPR di Manggarai Timur.

“Saat ini HPR di Matim jumlahnya cukup tinggi,” demikian menurut Pemda Matim, meski tanpa didukung angka yang pasti terkait kategori “cukup tinggi” itu.

Program itu disebut “demi menjamin keselamatan nyawa manusia dan mengurangi korban yang berjatuhan akibat kena tular rabies.”

Petugas tim eliminasi disebut berasal dari TNI, Polri,  Satpol PP,  Dinas Peternakan,  Dinas Kesehatan, Pihak Kecamatan, dan Kelurahan.

Sebelum melakukan eliminasi, disebut ada beberapa tahap yang dilalui, salah satunya penyampaian lisan dan tulisan kepada warga melalui pihak kecamatan yang diteruskan ke kelurahan.

Sejauh ini, menurut Pemkab, baru sebagian desa di sembilan kecamatan yang sudah dikunjungi tim eliminasi.

Untuk wilayah Kecamatan Borong dan Kota Komba,  beberapa titik sudah dilakukan eliminasi antara lain di Desa Mokel, Desa Golo Meni,  Desa Golo Ndele,  Paang Leleng, Desa Golo Tolang,  Desa Lembur, Kelurahan Satar Peot, Kelurahan  Rana Loba, Kelurahan Kota Ndora, dan akan masih lanjut ke wilayah lainnya.

Terkait foto anjing yang viral sejak Rabu, 4 Desember itu, menurut Pemkab Matim, lokasi kejadiannya adalah di kampung Tanggo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, yang berada di Jalan Trans Flores, arah timur kota Borong.

Pemkab mengklaim, sebelum dilakukan eliminasi di kampung itu, pada hari itu terjadi satu kasus gigitan anjing dan sampai kini korbannya masih dalam perawatan.

“Wilayah dimaksud memang cukup banyak anjing dan masuk dalam daftar perhatian khusus petugas,” demikian menurut Pemkab.

Mereka menyatakan, di rumah yang dikunjungi saat eliminasi itu ada 12 ekor anjing dan sesuai ketentuan Perda, sebagiannya dieliminasi dan disisakan 2 ekor.

“Saat petugas hendak melakukan eliminasi,  anjing yang diposting itu menyerang petugas.  Sontak, petugas langsung ambil tindakan dengan menangkap dan membunuh anjing dimaksud.”

Usai  dibunuh,  petugas mengambil kepala anjing untuk sampel dan dibawa ke laboratorium.

“Sedangkan badan anjing persis seperti postingan itu diambil tuan anjing. Selanjutnya petugas tidak tau badan anjing itu dibawa kemana oleh pemiliknya,” demikian menurut Pemkab.

Mereka pun menyatakan, “petugas tidak membunuh anjing yang sedang menyusui anak.”

“Petugas tidak tahu kalau anjing itu ada anaknya. Warga dimohon tidak memprovokasi situasi sosial dengan postingan postingan tidak penting. Sampaikanlah sesuatu ke publik dengan baik dan cermat serta sesuai kenyataan,” demikian menurut Pemkab.

Mereka juga meminta pengguna medsos untuk cermat dalam memahami berbagai postingan.

“Dimohon jangan cepat ambil kesimpulan terhadap sesuatu yang dilihat, sebab terkadang kesimpulan yang hanya melihat ceritra akhir dari sebuah postingan akan menciptakan kegaduhan,” kata mereka.

“Petugas gabungan lapangan sudah dibekali dasar kerja yang benar, serta bertindak sesuai tahapan yang legal,” klaim Pemkab.

Sementara itu, program eliminasi anjing ini ramai dibahas di media sosial. Salah satu pengguna Facebook, John Dion mengkritik hal ini lewat postingannya, dengan tagar yang menyebut #BupatiManggaraiTimur dan #BapakAndreasAgas.

“Apakah sudah tidak ada langkah lain selain membasmi/memusnahkan hewan yang adalah anjing? Saya melihat bahwa pemerintah Kabupaten Manggarai Timur belum cukup jitu dalam menjalankan program pemberantasan rabies,” demikian tulis John.

“Lucu saja, jika anjing yang sehat mesti dibunuh! Sampai sekarang, berapa data pasti tentang pasien rabies di Manggarai Timur? Kedua, mungkin saja belum ada kajian ilmiah tentang rabies di Manggarai Timur yang dilakukan oleh dinas terkait,” lanjutnya.

Ia mempertanyakan langkah yang dilakuan terkait dengan  pendidikan kesehatan hewan dan kesehatan tentang rabies di level masyarakat, termasuk di kalangan petugas kesehatan.

Ia menyoroti kasus  pembasmian anjing di wilayah kabupaten yang pernah dilakukan pada tahun 2000-2003, di mana banyak anjing ditembak dan dipenggal.

“Ternyata isu rabies dibesar-besarkan, hoaks yang menimbulkan ketakutan di masyarakat. Alhasil, banyak anjing dibunuh oleh karena adanya instruksi pemerintah yang kacau. Adalah sebuah ide yang kacau dan tidak bertanggung jawab,” tulisnya.

“Lebih kacau jika ini dijadikan isu supaya terjadi pengadaan vaksin rabies dalam jumlah yang banyak! Semoga tidak,” tambah John.

Ia menambahkan, andaikan anjing bisa bicara dan mengatakan, “Pak, kera juga bisa menyebarkan rabies! Akankah Bapak Bupati dan jajaran membuat sebuah instruksi untuk membasmi semua kera di Manggarai Timur?”

Ia mengatakan sedih dan lucu  jika program ini dijalankan, “sementara banyak orang pintar yang setiap hari digaji untuk mengatasi persoalan ini.”

“Sekali lagi, mereka digaji bukan untuk membunuh anjing. Sebab jika mereka paham tentang rabies dan mengerti tentang data maka hal ini pasti dilihat sebagai sebuah pertunjukan ide yang lucu,” tulis John dalam postingannya yang sudah ramai dikometari dan dibagikan oleh pengguna Facebook.

Dalam postingan lainnya pada Kamis, 5 Desember, ia menulis, “Mengatasi persoalan rabies tidak bisa memakai asas balas dendam (terhadap anjing). Perlu terobosan. Kajian menjadi hal penting untuk menghasilkan strategi pemberantasan penyakit ini.”

ARL/Floresa