Benang yang ditolak oleh masyarakat Desa Bea Kondo. (Foto: Ist)

Ruteng, Floresa – Proyek bantuan benang untuk warga di Desa Bea Kondo, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai memicu persoalan,

Sebanyak 410 warga penerima bantuan itu mengembalikan 307,5 lusin benang atau 3.690 gulungan karena kualitasnya rendah. Sementara itu, ada dugaan penyelewengan dana desa dalam penanganan proyek itu.

Fabianus Jamo, salah seorang warga yang juga Ketua RT 06 mengatakan, bantuan benang itu merupakan bagian dari anggaran dana desa untuk tahun 2018, yang tercantum dalam Rincian Rencana Kegiatan Desa (RRKDes).

Berdasarkan RRKDes itu, jelasnya, setiap pengrajin mendapat 36 gumpalan/gulungan atau setara dengan 3 lusin. Namun, pada tahun 2018, setiap pengrajin hanya mendapat 27 gumpalan/gulung.

Dengan demikian, kata dia, masih ada 9 gumpalan yang belum diperoleh warga, yang jika diuangkan mencapai sekitar Rp 55.196.250.

Ia menambahkan, sisa benang 9 gumpalan itu ternayata diperoleh di penghujung tahun ini atau saat pencairan dana desa tahap terakhir untuk 2019.

Ia menduga, terjadi penyimpangan realisasi belanja tahun 2018.

Soal lain, jelas dia, kualitas benang yang buruk.

“Kualitasnya tidak bagus, makanya kami tolak dan antar kembali ke desa,” pungkasnya, Kamis, 5 Desember.

Matias Nama, warga lain  menjelaskan benang-benang itu mudah kusut dan putus, yang berakibat buruk pada “produktivitas dan kualitas hasil tenunan.”

Ia mengatakan, selama ini warga umumnya menggunakan benang bermereka Yamalon, yang kualitasnya bagus dengan harga Rp 14.000 per gumpalan.

Untuk tahun anggaran 2019, berdasarkan APBDes, pagu anggaran untuk bantuan benang  sebesar Rp 88.200.000 untuk pengadaan benang dengan harga Rp 14.958 per gulungan atau gumpal.

Ketua BPD Desa Kondo, Damasius Jama menjelaskan apa yang disampaikan masyarakat terkait penolakan benang karena kualitasnya buruk benar adanya.

Ia menjelaskan,  bantuan benang untuk tahun 2019 juga tanpa sosialisaasi.

“Saat ini di kantor desa masih ada 491, 36 lusin yang masih menumpuk, dengan total anggaran 88.200.000,” katanya.

Engkos Pahing/Floresa