Boni Hargens bersama rekan-rekannya di Walden University, Amerika Serikat. (Foto: Ist)

Floresa.co – Boni Hargens, akademisi yang juga pengamat politik kelahiran Manggarai baru saja sukses meraih gelar PhD di Amerika Serikat, di mana disertasinya mengawinkan teori oligarki dan kartel politik.

Boni yang kini masih berada di Amerika Serikat mengatakan kepada Floresa.co, ia berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang pada 21 November di Walden University, Minnesota dan oleh para penguji, kajiannya disebut “memuaskan dari semua aspek.”

Disertasinya berjudul Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia: Exploring the Legislative Process of 2007 Election Act  (Kartelisasi Oligarki di Indonesia Pasca Soeharto: Mengupas Proses Legislasi UU Pemilu Tahun 2017).

Boni, yang merupakan Direktur Lembaga Pemilih Indonesia juga tercatat menuntaskan studinya dengan nilai sempurna, di mana Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya 4.0.

Ia mengatakan selama beberapa tahun terakhir menuntaskan kuliahnya itu sehingga kerap “menghilang” dari media televisi di tanah air, tempat ia kerap tampil sebagai pengamat politik.

Boni mengatakan, dalam disertasinya itu, ia menyatakan bahwa kekuatan politik yang mengendalikan Indonesia setelah 1998 bukan lagi oligarki murni atau kartel partai politik murni, “melainkan sebuah kekuatan baru yang merupkan hasil perkawinan silang antara keduanya, yaitu kartel oligarkis.”

“Kartelisasi oligarkis adalah teori yang saya bangun untuk menggambarkan bagaimana oligarki partai membangun kartel politik untuk menguasai sumber daya negara demi kepentingan partai dan hegemoni okigarkis,” katanya, Kamis, 5 Desember.

“Jadi, ini koreksi terhadap teori-teori lama yang ada dalam mengkaji Indonesia pasca-Suharto,” tambah Boni.

Dengan mengambil studi kasus proses legislasi UU Pemilu Tahun 2017, Boni menjelaskan, meskipun tetap ada kekuasaan partisipatif dalam proses itu, namun tidak ada keseimbangan karena kontrol resmi terhadap politik tetap ada dalam kendali oligarki politik.

Boni mengatakan, implikasi kajiannya bagi perubahan sosial adalah termasuk mengingatkan anggota parlemen, pembuat kebijakan lain dan kelompok masyarakat sipil terkait begitu pentingnya memahami modus operandi kartel oligarkis.

Ia mengatakan, hasil studi ini akan menjadi referensi sangat berguna bagi aktivis prodemokrasi untuk mempertahankan esensi ontologis dari partisipasi publik dalam praktek berdemokrasi.

Boni yang kini masih berada di Amerika Serikat mengatakan, ia akan diwisuda pada 17-18 Januari 2020.

Selama studi doktoralnya, Boni juga mendapat penghargaan sebagai anggota Golden Key International, Phi Alpha Honor Society, dan National Society of Leadership and Success (NSLS).

Salah satu penghargaan yang diterima Boni dari kampusnya.

Boni Hargens berasal dari Anam, Kecamatan Ruteng. Ia merupakan lulusan SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur.

Ia dikenal sebagai pengamat dan penulis yang buah-buah pikirannya kerap muncul di media massa nasional.

ARL/Floresa