Jerigen milik warga yang tengah dipakai untuk menampung air yang bocor dari pipa PDAM Tirta Komodo di Tuke Tai Kaba, Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa co – Terbatasnya ketersediaan air bersih masih menjadi problem serius bagi warga kota destinasi pariwisata premium Labuan Bajo dan sekitarnya. Mengatasi soal itu, warga harus menempuh banyak cara, termasuk memanfaatkan air dari pipa-pipa yang bocor.

Pantauan Floresa co, Kamis 28 November 2019, sejumlah warga di Tuke Tai Kaba, tepat di pinggir ruas jalan Trans Flores berbondong-bondong menada air menggunakan jerigen dari pipa bocor milik PDAM Tirta Komodo.

Selain warga Tuke Tai Kaba, warga dari sejumlah titik dari dalam kota Labuan Bajo juga ikut memanfaatkan air dari pipa-pipa bocor itu.

“Kadang orang dari Labuan Bajo juga datang tada air malam-malam membawa mobil,” ujar Riki warga yang saat itu sedang menada air menggunakan jerigen.

Namun, tidak diketahui, kemana air yang dialirkan melalui pipa-pipa yang bocor itu.

Baca Juga: Krisis Air di Labuan Bajo: Ironi Kota Pariwisata

Selain di Tuke Tai Kaba, pandangan serupa juga ditemukan di salah satu titik di ujung Kampung Kaper, Desa Golo Bilas jika bertolak dari kota Labuan Bajo.

Selain memanfaatkan air itu untuk kebutuhan di rumah mereka di Labuan Bajo, di sana, warga di sekitar bahkan berbondong-bondong memanfaatkan air itu untuk mandi.

“Kami datang dari Wae Bo. Di rumah kami ada PDAM tapi jarang ada keluar air. Makanya kami datang ambil air disini,” kata salah seorang warga yang tengah mandi.

“Kami berharap pipa bocor ini jangan ditutup supaya kami tetap mandi dan bisa ambil air disini,” tambahnya.

Di titik kedua ini, nampak beberapa kendaraan roda dua dan roda empat berparkiran untuk mengangkut air yang sudah ditampung.

Persoalan Menahun

Warga tengah menunggu antrian untuk menampung air. (Foto: Floresa).

Apa yang terjadi hari ini di Labuan Bajo, tidak berbeda dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya, setidaknya sebagaimana terekam dalam riset yang pernah dibuat oleh Dr. Stoma Cole dan Marta Muslin Tulis pada 2015.

“Hanya 24 % dari populasi (52.000) yang terhubung ke suplai air perpipaan tapi air umumnya hanya berjalan di pipa dua kali seminggu dan selama beberapa jam pada suatu waktu,” demikian hasil penelitian mereka.

“Hal ini membuat kebanyakan orang tergantung pada sesuatu yang tidak diatur, tidak dapat diandalkan, sementara kualitas penyedia swasta seringkali diragukan atau harus mengumpulkan dan membawa air dari pasokan publik,” demikian menurut mereka.

Baca Juga: Miliaran Dana Digelontorkan, Proyek Air di Kota Pariwisata Labuan Bajo Mubazir

Harga yang dibayarkan untuk air yang dipasok swasta, kata mereka, sangat tinggi dan melanggar hukum internasional.

“Pembelian terkecil seharga Rp 75 per liter, membebani keluarga Rp 15.000 per hari setara 30 % pendapatan untuk keluarga dengan pendapatan minimum,” demikian menurut mereka.

Meski tidak mengulas lebih jauh, mereka mensinyalir bahwa para pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi pasokan air dan penjualannya.

Pada 2015, Floresa.co pernah mengungkap praktek penyedotan air dari pipa milik PDAM oleh warga di Labuan Bajo, yang memiliki hubungan dekat dengan salah satu anggota DPRD perioden itu. Modusnya, mereka menampung air di rumah mereka, lalu kemudian menjualnya kembali ke warga di Labuan Bajo, di mana per tangki 1.100 liter adalah Rp 100.000.

Belum ada penelusuran lebih lanjut saat itu, terkait dugaan keterlibatan pihak lain, termasuk pihak PDAM dalam bisnis sumber daya publik itu.

Warga menampung air di ujung Kampung Kaper, Desa Golo Bilas hingga malam hari. (Foto: Floresa).

Sementara praktek demikian tidak ditangani serius oleh aparat, proyek terus bermunculan. Dan, sejauh ini, tidak ada yang benar-benar berhasil, setidaknya dengan melihat krisis yang terus terjadi.

Baru-baru ini, salah satu anggota DPRD Fraksi Nasdem, Marten Mitar mempertanyakan kinerja PDAM mengingat masalah air di dalam dan sekitar kota Labuan Bajo yang tak pernah terselesaikan.

Marten menyangsikan jika perusahaan daerah itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Potret yang ada, masyarakat terus dilanda krisis air. Sementara di sisi lain, hotel-hotel hampir tak pernah mengalami krisis air.

“Tapi, yang menjadi soal, tidak ada keluhan air dari perusahaan-perusahaan besar seperti hotel. Kesimpulan yang saya dapat bahwa, semestinya eksistensi PDAM melayani kebutuhan masyarakat luas, bukan pada investor,” katanya.

“Oleh karena itu saya meminta kepada pemerintah, untuk menjelaskan secara detail, apa sesungguhnya persoalan air bersih di kota Labuan Bajo,” tegasnya.

NAN/ARJ/Floresa