BerandaPARIWISATAPendapatan Jadi Nelayan Lebih...

Pendapatan Jadi Nelayan Lebih Pasti, Warga Komodo Ini Enggan Jadi Pelaku Pariwisata

Labuan Bajo, Floresa.co – Abdul Mana, salah satu warga Pulau Komodo menyatakan tetap ingin menekuni profesi sebagai nelayan ketimbang menjajal souvenir seperti warga lainnya. Menurutnya, pendapatan menjadi nelayan lebih pasti dan menjanjikan.

“Pendapatan sebagai nelayan lebih menjanjikan daripada Pariwisata. Saya baru saja pulang dari laut, bawa hasil tangkapan 140kg Cumi,” kisahnya Senin, 25 November 2019.

Saat ini, sekitar 90 porsen warga di pulau itu beralih profesi dari nelayan menjadi pelaku pariwisata. Menurut Abdul profesi nelayan ialah warisan leluhur yang harus ia pertahankan.

Baca Juga: Skenario Baru untuk Kehendak Lama Menguasai Taman Nasional Komodo  

Ia mengatakan, setiap hari dirinya dapat menjual 100 kilogram cumi yang kemudian dilepas kepada pengepul dengan harga Rp20.000 per kilogram.

“Lumayan lah Pak (menjual cumi). Jual souvenir tidak pasti pendapatannya. Kalau tamu beli, baik. Kalau tidak susah,” imbuhnya.

Senada dengan Abdul, salah satu pedagang souvenir di Loh Liang membenarkan kendala saat menjajal souvenir.

Baca Juga: Delapan Perusahaan yang Beroperasi Dalam Taman Nasional Komodo

Menurutnya, selain persaingan dengan sesama pedagang, juga soal rekayasa destinasi. Walaupun banyak wisatawan datang, tetapi tidak membeli souvenir yang mereka jajal.

“Contohnya Kemarin pak, kapal besar muat 1.000 orang labuh di Loh Liang. Mereka hanya liat komodo, (sedangkan) jualan souvenir kami tidak laku,” keluhnya.

Ia berharap, ke depan, pemerintah dan agen travel memikirkan solusi terhadap masalah ini sehingga mereka selaku warga lokal mendapat manfaat dari pariwisata.

“Banyak turis yang jawab tidak ada uang saat kami tawarkan barang,” pungkasnya.

ARJ/Floresa

 

 

 

 

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Diduga Mencemarkan Nama Baik, UNIKA St. Paulus Polisikan Pemilik Akun ‘Ishaq Catriko’

Ruteng, Floresa.co – Pihak Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng...