Borong, Floresa.co – Setiap tanggal 20 November, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) merayakan hari lahirnya.

Tahun ini, perayaan hari ulang tahun Matim dirayakan dengan semarak. Ada festival Tapa Kolo atau membakar nasi bambu, ada lomba menari, lomba lari dan lainnya.

Rangkaian kegiatan pada ulang tahun kabupaten itu tentunya sebagai bentuk kegembiraan atas usia yang bertambah.

Namun, ditengah keramaian perayaan hari ulang tahun ke-12 Matim pada Kamis, 20 November 2019, segerombolan masyarakat yang menamakan diri “Front Rakyat Manggarai Timur” berarak dari “traffick light” perempatan kantor Polsek Borong menuju Lehong-pusat pemerintahan kabupaten itu.

Front Rakyat Matim itu melakukan unjuk rasa karena tidak puas dengan kinerja Pemda Matim.

Dalam aksi itu, masyarakat membawa serta kado untuk hari ulang tahun Matim, yakni replika keranda mayat.

Menurut Front Rakyat Matim, replika keranda mayat itu sebagai simbol matinya nurani pemerintah Matim dalam menyikapi persoalan yang ada di masyarakat.

“Ini kado buruk untuk pemerintahan yang buruk,” teriak seorang pengunjuk rasa, sambil mengangkat replika keranda mayat bertuliskan ” RIP PEMKAB MATIM” “HIDUP RAKYAT”.

Dalam orasinya, mereka memerotes dua kebijakan pembangunan di Matim yang dinilai tidak pro rakyat dan merusak ekologi, yakni pembangunan pagar tembok pembatas di sisi timur pasar Borong; dan pengrusakan mangrove akibat pengusuran jalan di sekitar hutan Mangrove di kelurahan Kota Ndora.

ARD/Floresa