Grace, putri dari seorang penyandang gangguan jiwa sedang memberi makanan untuk ayahnya yang terpasung. (Foto: Floresa)

Floresa.coSejak 2012, Ediburga Nalon (42) melewati hari-harinya di pasungan.

Keluarganya tidak punya pilihan lain untuk mengamankan warga Desa Lidi, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur itu yang begitu agresif pada masa-masa awal ia terkena gangguan jiwa berat atau skizofrenia.

Karena keterbatasan pengetahuan tentang penyakit itu, keluarga meyakini ia terkena santet. Lantas mereka menempuh cara pengobatan tradisional, dengan mencari dukun.

“Sudah banyak dukun  yang kami datangi dan (ada yang) datang di rumah. Tapi, tidak ada tanda-tanda untuk pulih,” kata istri Edi, Selviana Jemalus (37) kepada Floresa.co, Minggu, 17 November 2019.

Ketika semua upaya itu gagal, mereka pun memasungnya di dapur dengan dua balok berukuran sekitar 20 × 10 cm dan panjang sekitar 2 meter.

Di tengah tekanan kebutuhan ekonomi keluarga, Selviana mengaku kesulitan untuk merawat suaminya dengan baik.

“Saya yang dulu hanya urus rumah dan anak-anak, terpaksa harus jadi kepala keluarga yang bertanggung jawab penuh untuk mencari uang,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, Selviana menjadi buruh tani. Dari pekerjaan itu, ia mendapat upah Rp 25.000 sehari.

“Untuk memenuhi kebutuhan (dari penghasilan itu), pasti tidak. Apalagi tidak setiap hari saya kerja di kebun orang,” ucapnya, lirih.

Kesulitan ekonomi membuat putra sulung mereka harus berhenti sekolah pada 2012, saat Edi mulai sakit.

“Ia berhenti sekolah setelah sambut baru (menerima sakramen komuni pertama),” kata Selviana.

Anak mereka ada empat orang. Anak kedua dan ketiga, kini menempuh pendidikan SMP dan SD di kampung Selviana di wilayah kabupaten Manggarai.

“Keluarga saya yang membiayai mereka,” katanya.

Selviana kini hanya mengurus suaminya bersama putri bungsu mereka, Grace, yang kini . duduk di bangku kelas 1 SDI Lidi.

Setia Melayani Ayah yang Sakit

Grace terlihat sangat memahami bagaimana melayani ayahnya.

Floresa.co menyaksikan bagaimana Grace menyiapkan dan mengantar sarapan untuk Edi.

“Kalau saya ke kebun, dia (Grace) yang beri makan bapanya pada siang hari,” kata  Selviana.

Mungkin, untuk anak-anak lain seusia Grace, waktu pulang sekolah adalah waktunya bermain dan bersenang-senang.

Namun, tidaklah demikian untuk Grace. Ia sudah terlatih untuk bertanggung jawab sejak usianya yang masih belia.

“Setiap pagi, sebelum Grace ke sekolah, saya selalu ingatkan agar ketika pulang sekolah urus makanan untuk bapa,” cerita Selviana.

Ditanya apa cita-citanya kelak, Grace menjawab dengan tatapan sendu.

“Saya mau jadi perawat, supaya bisa rawat ayah,” katanya dalam Bahasa Manggarai, sebuah cita-cita yang tentu tidak mudah untuk digapai mengingat situasi keluarganya saat ini.

ARD/Floresa