Rikard Rahmat

Oleh: RIKARD RAHMAT, alumnus Seminari Pius XII Kisol, tinggal di Jakarta

Saya mengenal Mgr Siprianus Hormat Pr, Uskup Ruteng yang baru saat beliau menjadi frater TOP (topper) – sebutan untuk frater yang sedang menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) – di Seminari Pius XII Kisol pada tahun 1991-1993.

Tahun pertama, dia menjadi subprefek di SMA, lalu tahun kedua, ketika saya kelas 2 SMP, ia menjadi subprefek SMP.

Kesan pertama, penampilannya rapi. Bahkan sampai saya lulus tahun1997, beliau adalah frater TOP ter-rapi dan ternecis. Apa pun baju yang dipakai, selalu stel-in. Umumnya, bagi anak seminari waktu itu (tidak tahu sekarang), berpenampilan rapi termasuk suatu kemewahan. “Siapa yang mau lihat,” begitu selalu alasannya kalau berpenampilan seadanya, pun kalau ke kapel pakai sandal jepit.

Sering kali, karena ia sendiri rapi, Frater Sipri menyemprot siswa-siswa yang berpenampilan berantakan. Maka, lahirlah ungkapan yang melegenda dari beliau: “Kemomos sekali kau ini”. Artinya itu tadi: berpenampilan berantakan.

Kalau suka rapi, biasanya juga suka tertib. Betul sekali. Frater Sipri ingin aturan-aturan hidup di seminari ditaati. Kalau saatnya belajar, jangan bikin ribut. Kalau ribut, marahnya  akan sangat ekspresif (tampak sekali muka marah).

Beberapa siswa yang keterlaluan melanggar peraturan dan nakal, bila kedapatan, pasti kena tempeleng. Sebaliknya, kalau saatnya olahraga, jangan diam melongo saja. Semua harus ikut olahraga, sesuai hobinya.

Tidak segan-segan ia menghukum siswa yang kedapatan melanggar aturan. Termasuk pengalaman tak terlupakan saya sendiri ketika bersama tiga teman lain kedapatan malam-malam – pada saa jam belajar – mencuri buah jeruk di lahan di atas gedung Patres, sebutan untuk komunitas para imam.

Singkat cerita, setelah ditempeleng sebagai tersangka, sambil membawa beberapa “tonggor” jeruk, kami disuruh tampil di depan pintu kelas sekadar menunjukkan kepada semua yang lain bahwa kami telah kedapatan mencuri.

Kesan kedua, lincah dan gesit. Dalam diri beliau, kami menemukan sosok yang sangat bergairah dan bersemangat dengan tugas dan karyanya. Tugas dilaksanakan dengan sepenuh hati, dengan semangat yang maksimal. Beliau tidak suka yang lamban-lamban atau dalam istilah Manggarai, lunggu lepe. Saat berjalan, berolahraga, dalam segala hal. Memang, selain dalam tugas harian yang utama, kelincahan beliau beliau tampak sekali dalam hal olahraga, termasuk harus bangun pagi-pagi tiap Selasa/Rabu pagi untuk lopas sampai ke daerah Watunggong, yang jaraknya sekitar 4 km dari kompleks seminari.

Frater Sipri bisa olahraga apa saja yang tersedia di Kisol: pimpong, basket, apalagi bola kaki dan voli. Semuanya jago. Satu-satunya pemain voli seminari Kisol yang bisa memblok derasnya smes Om Matu dari Aimere, iya Frater Sipri.

Kalau Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bilang, “Romo Sipri (selama) di KWI bekerja dengan baik dan tekun, pelayanannya besar dan menyenangkan” (Rabu, 13 November 2019), itu tidak ada salahnya sama sekali. 100% pas.

Kesan ketiga, ramah dan bisa berteman dengan siapa saja. Frater Sipri dengan mudah bergaul dan melebur, pun dengan anak-anak SMP seperti kami. Tidak jaim. Meskipun mendidik dengan tegas dan keras, kami merasa tidak ada jarak. Karena Frater Sipri pandai merangkul kembali.

Kesan keempat, straight to the point (menyatakan sesuatu apa adanya di pikiran). Pikiran dan perasaan disampaikan apa adanya, baik lewat kata-kata maupun roman muka. Tutur kata dan wajah Frater Sipri tidak pernah menipu atau mengelabui. Apa yang dikatakannya atau diungkapkan, itulah yang ada di hatinya.

Maka, Frater Sipri tidak suka siswa-siswa yang banyak berpura-pura atau basa-basi. Istilah beliau: “munafik”. Pura-pura sopan di hadapan pembimbing (frater atau romo), padahal sampai di asrama paling nakal dan melanggar peraturan. Seakan-akan mau mengatakan, di segala situasi, tunjukkan siapa kamu sebenar-benarnya. Jangan pernah berupaya untuk menjadi pribadi yang lain (apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain), tetapi tetap jadi diri sendiri.

Setelah membaca ulang apa yang telah saya tulis di atas, kebetulan atau tidak, saya kok melihat sosok Frater Sipri seperti ini persis yang dibutuhkan Keuskupan Ruteng (KR) saat ini.

Pertama, rapi. KR persis membutuhkan sosok yang mampu merapikan tata kelola keuskupan, terutama sekali tata kelola keuangan dan program-program pastoral. Memang sudah saatnya harus rapi, dengan mengikuti prinsip-prinsip manajemen modern: akuntabel, transparan, dan sebagainya. Tidak bisa lagi pakai cara lama.

Kembarnya rapi, ya tertib. Sosok uskup yang sendiri tertib sangat dibutuhkan KR saat ini. Tertib dalam bicara, tertib dalam penampilan, tertib dalam gaya hidup, tertib dalam menjalin relasi (termasuk dengan perempuan). Di sini, kita bicara kesalehan. Sorotan ke KR justru pertama-tama di sini.

Harapannya, kalau pucuk pimpinan menghayati cara berada seperti ini, yang di bawah-bawah mesti sudah saatnya tahu diri. Umat KR sangat mendambakan gembala-gembala yang sederhana dan saleh hidupnya. Inspirasi dan gairah untuk mewujudkan transformasi di dalam Gereja KR lahir dari pribadi-pribadi yang lurus dan saleh, dari pucuk pimpinan sampai ke bawah (klerus/rohaniwan/i). Sebaliknya, sangat sulit. Pengalaman di KR sudah membuktikan.

Bagaimana dengan yang “tetap tidak saleh?” Uskup Sipri juga sosok yang pas, yang pasti berani untuk bertindak tegas dan terukur.

Kedua, lincah dan gesit. KR butuh sosok uskup yang lincah dan gesit. Pertama-tama, mampu membaca tanda-tanda zaman, menyikapinya melalui serangkaian kebijakan (rencana 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, 100 tahun), lalu mengeksekusinya dengan cepat, lincah, dan gesit.

Sebagaimana lazimnya setiap terobosan demi perubahan, pasti akan ada saja pihak internal yang melawan. Hal ini pasti tidak akan menimbulkan pergolakan, karena Uskup Sipri pandai merangkul dan memberdayakan.

Ketiga, untuk itu, networking dan kerja sama dengan segala pihak perlu dijalin. Di sini, butuh kemampuan bergaul dan sikap ramah. Hanya saja, godaan besar bisa terjadi di sini, kalau tidak hati-hati. Keramahtamahaan dan pergaulan yang luas (dengan umat, perempuan, pebisnis, pemerintah) bisa sangat menggoda.

Tetap perlu hati-hati untuk mengambil jarak yang pas. Kalau tidak, bisa terjerumus. Kalau bisa mengambil jarak yang pas, keramahtamahan justru jadi modal yang besar untuk menggerakkan semua pihak membangun KR di segala bidang, termasuk dalam bidang ekonomi umat.

Keempat, umat KR membutuhkan sosok uskup dan klerus yang jujur. Ekstremnya, kalau Gereja butuh uang, sampaikan dengan jujur. Umat pasti kasih. Ini Gereja kita bersama. Yang umat butuhkan: gunakan uang itu dengan benar. Kalau seminari butuh umat sumbang rutin Rp 2.000,00 tiap tahun, yang akan menghasilkan 1,4 miliar (700.000 umat), sampaikan secara terbuka dan apa adanya, umat pasti mengerti.

Di tangan Uskup Sipri, kami ikut berdoa semoga harapan-harapan ini terwujud. Amin