BerandaPERISTIWADitinggal Kekasih dan Tak...

Ditinggal Kekasih dan Tak Ingin Skorsing dari Kampus, Alasan SA “Gelap Mata”

Ruteng, Floresa.co – Aparat di Polres Manggarai mengatakan SA (23), tersangka kasus pembunuhan dan pembuangan bayi, sedang berada dalam kondisi tertekan sehingga “gelap mata” dan menghabisi bayinya sendiri pada Kamis malam, 24 Oktober 2019.

Menurut, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Bripka Anton Habun, berdasarkan pengakuann SA di hadapan penyidik, wanita asal Mbeling, Kecamatan Borong, Manggarai Timur (Matim) itu tidak mampu menanggung malu lantaran melahirkan anak tanpa ayah.

Lelaki yang menghamilinya telah lama pergi usai keduanya putus cinta.

“Laki-laki sudah pergi. Tidak ada yang bertanggungjawab atas bayi yang dilahirkan itu, sehingga dia gelap mata,” jelas Bripka Anton Selasa, 29 Oktober.

Anton tak menyebutkan identitas lelaki tersebut dengan alasan masih dalam proses penyelidikan. Lelaki tersebut tinggal dan bekerja di Bali. Selama pacaran, ia datang menjumpai SA di Ruteng.

Namun, sebelum mengetahui kehamilannya, hubungan SA dengan lelaki itu putus pada bulan Maret 2019. SA baru mengetahui kehamilannya pada bulan Mei 2019. Sayangnya, saat itu lelaki tersebut sudah menikahi wanita lain.

Selain tak ingin memiliki anak tanpa ayah, SA juga tak ingin mendapatkan sanksi skorsing kuliah dari kampusnya, Universitas St Paulus Ruteng. Kampus tersebut menerapkan sanksi skorsing kepada mahasiswa yang terbukti melakukan hubungan seks dan memiliki anak di luar nikah.

“Ada ketakutan jangan sampai kehamilannya diketahui pihak kampus,” kata Anton.

Sementara SA sudah berada di penghujung perjuangannya untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan. Mahasiswa semester 8 program studi Pendidikan Matematika itu akan menyelesaikan studinya tepat waktu. Ia bahkan akan menjalani ujian skripsi dalam satu hingga dua pekan ini.

Namun, upayanya menyembunyikan kehamilan selama ini gagal karena sang bayi dilahirkannya sebelum ia mengikuti ujian skripsi.

Selain takut sanksi dari kampus, SA juga takut pada kedua orangtuanya. Ia tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang seharusnya berbangga karena dirinya akan meraih sarjana tepat waktu. SA merasa akan ditolak orangtuanya karena tak bisa menjaga diri dengan baik.

NJM/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....