Pengemudi angkutan di Labuan Bajo saat berdialog dengan pihak grab pada Rabu, 16 Oktober 2019. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Sopir angkutan umum yang tergabung dalam Asosiasi Angkutan Wisata Darat (AWSTAR) Manggarai Barat (Mabar), NTT memprotes rencana angkutan berbasis online, Grab untuk beroperasi di Labuan Bajo. Pihak asosiasi menilai, kehadiran perusahaan asal Malaysia itu dikhawatirkan akan mengancam pendapatan warga yang baru memulai usaha angkutan di wilayah itu.

Salah satu anggota asosisi, Toni Ndarung menilai, untuk saat ini, Grab belum layak untuk beroprasi di Labuan Bajo. Pasalnya, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo masih sedikit. Sementara, di sisi lain, terdapat sekitar 200 hingga 300-an angkutan umum yang aktif beroperasi.

“Dari sekian banyak mobil yang beroperasi itu, lebih dari setengah yang masih harus memenuhi kewajiban kredit,” katanya dalam konferensi pers di Labuan Bajo, Rabu 16 Oktober 2019.

Joni merincikan, dengan sistem pembayaran Grab yang sangat murah, yakni mencapai sekitar 12 ribu per kilometer, akan merugikan pengemudi angkutan yang sudah lama beroprasi di Labuan Bajo.

Di sisi lain, jarak tempuh dari satu titik ke titik lain dalam kota Labuan Bajo sangat dekat. Sementara itu, ia mengaku dalam sehari, hanya beberapa kali mereka mengantar atau menjemput tamu.

“Contoh, 10 kali dia trek satu hari, berarti cuman 120 ribu. Berapa biaya untuk kredit per bula, minyak, ongkos parkir bandaranya, mati. Belum saatnya Grab masuk Labuan Bajo,” rincinya.

Pengemudi lain, John Da Costa mengatakan, sebaiknya Grab mempertimbangkan kembali rencanya tersebut.

“Kalau Grab hadir di Labuan Bajo, Anda (Grab) seperti nyamuk malaria yang pura-pura masuk dan menghisap darah kami. Apa Anda tega melihat kami terkena penyakit malaria. Lalu, kami mati pelan-pelan,” contohnya.

Sementara itu, perwakilan Grab, Muhammad Helmi menyatakan sejauh ini, Grab masih melakukan pemetaan. Dia sendiri berjanji akan meneruskan sikap asosiasi kepada perusahaan Grab sehingga bisa mempertimbangkan kembali rencana melebarkan sayap bisnisnya ke Labuan Bajo.

“Mungkin nanti, saya lapor dulu ke pusat seperti apa perkembangannya, kalau memang masih bisa diterima, kita lanjutkan, kalau tidak bisa, kita mundur daripada ada gesekan,” katanya.

ARJ/Floresa