BerandaPARIWISATATanah (di) Manggarai

Tanah (di) Manggarai

Floresa.co – Setelah seminggu kenyang dengan berbagai teori, perspektif studi agraria kritis melalui program Critical Agrarian Studies of Indonesia (CASI) yang diselenggarakan oleh Agrarian Resources Center (ARC) di Bandung, sejenak saya merefleksikan sederet ungkapan dalam budaya orang Manggarai seperti, “Tana Kuni agu Kalo”, “Uma Bate Duat”, “Natas Bate Labar”, “Gendang One Lingkon Peang”, yang kuat memberi pesan akan dalamnya relasi orang Manggarai dengan sebidang tanah.

Bahkan, budaya orang Manggarai dalam rupa upacara adat seperti penti, tari-tarian, busana adat dan rumah adat, tak lain merupakan objektifikasi dari tingginya ketergantungan hidup orang Manggarai dengan tanah melalui usaha ekonomi pada sektor agraris/pertanian. Karena itu, sulit menyebut diri sebagai ata (orang) Manggarai tanpa relasi yang tetap terjaga dengan sehamparan lahan pertanian. Sesulit membayangkan masyarakat Suku Bajo tanpa bentangan laut.

Refleksi relasi orang Manggarai dengan tanah ini, menjadi makin relevan di tengah struktur agraria global yang kian timpang, penguasaan tanah dalam jumlah besar untuk tujuan akumulasi pada satu pihak; keadaan landless pada pihak yang lain. Dengan demikian, tak sekadar menunjukkan romantisme orang Manggarai akan tanah kelahirannya, sebagaimana yang kerap dibangga-banggakan ketika melantunkan melodi “Kole Beo” atau “Wae Mokel Awon, Selat Sape Salen“, menyebut sederetan ungkapan adat di atas mesti selalu menghadirkan tanggung jawab pembangunan yang mengusung agenda utama merawat relasi orang Manggarai dengan tanah.

Karena itu, bukan merupakan sebuah kebetulan pula, slogan pembangunan “masyarakat Manggarai yang mandiri secara ekonomi dan beradab secara budaya” pada tiga Kabupaten di Manggarai Raya, secara lugas menunjukkan satu sapuan tatanan budaya masyarakat Manggarai yang ditopang kuat oleh berjalannya ekonomi pertanian. Gagal menyatukan dua elemen ini, slogan ini tak lebih dari sebuah lip service, seolah memberi sensasi akan keseriusan negara dalam mengurus pembangunan di Manggarai Raya.

Problem agraria, pelan tapi pasti, terjadi di Manggarai hari-hari ini. Yang paling tampak, terjadi di Kota Labuan Bajo dan sekitarnya. Penguasaan atas tanah-tanah warga pelan-pelan terkonsentrasi pada tangan segelintir orang. Menariknya, negara melalui berbagai regulasi juga menjadi bagian dari upaya mempercepat tercerabutnya kepemilikan dan akses orang Manggarai atas tanah.

Sementara itu, dalam konteks masyarakat pedesaan, program-program pembangunan pada sektor pertanian yang kerap salah urus; mulai dari sisi anggaran yang tampak berat sebelah, kurangnya pendampingan teknis terhadap petani hingga aksesibilitas petani terhadap pasar yang tidak memadai, mendorong gelombang migrasi warga pada wilayah pedesaan di Manggarai. Celakanya, di tengah-tengah problem agraria seperti ini, rakyat Manggarai dihadiri sensasi bagi-bagi sertifikat gratis oleh pemerintahan Jokowi. Ekonomi perbankan pun makin menghajar masyarakat pedesaan di Manggarai, dengan sertifikat tanah sebagai agunan.

Akhirnya, ajakan “Kole Beo, Laat Tana“, tidak lagi dipahami dalam amanah lagu-lagu lama karya seniman Manggarai untuk jangan bermusuhan antara sesama orang Manggarai gara-gara merebut lahan (neka raha rumbu tana); tetapi mengusahakan agenda-agenda pembangunan yang menghambat laju pencaplokan lahan di Manggarai yang juga kerap bekerja atas dalih pembangunan.

Jakarta, 30 September 2019, dalam perjalanan dari Bandung pulang menuju Tanah Manggarai.

Venan Haryanto, Peneliti

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Diduga Mencemarkan Nama Baik, UNIKA St. Paulus Polisikan Pemilik Akun ‘Ishaq Catriko’

Ruteng, Floresa.co – Pihak Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng...