BerandaPERISTIWAKetua DPRD Manggarai Cek...

Ketua DPRD Manggarai Cek Proyek Lapen di Cibal  Barat yang Diduga Dikerjakan Asal Jadi

Ruteng, Floresa.co – Ketua DPRD Kabupaten Manggarai, Matias Masir meninjau lokasi proyek lapen di Kecamatan Cibal Barat yang diduga dikerjakan asal jadi oleh kontraktor.

Matias yang mendatangi lokasi proyek lapen jalur penghubung kampung Cibal dan Nanu Malip pada Selasa, 17 September 2019 mengaku mendapat laporan dari masyarakat bahwa lapen itu dikerjakan asal jadi dan kini kondisinya rusak parah.

Proyek lapen itu disebut dikerjakan oleh CV Wae Ces Murni pada akhir 2018, dengan pagu anggaran 539.334.000. Dananya bersumber dari Dana Alokasu Umum Tahun Anggaran 2018 akhir.

Usai mendatangi lokasi, di mana ditemukan sejumlah bagian jalan yang rusak, Matias mengaku langsung menghubungi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)  Manggarai agar segera dilakukan perbaikan, mengingat jalur itu merupakan  jalan utama warga sehingga harus menjadi prioritas.

“Kita dorong ke Dinas PUPR untuk segera memperbaiki jalan tersebut. Kita akan kawal sehingga perbaikan segera dilakukan,” kata Matias.

Sementara itu, salah seorang warga yang minta namanya tidak disebut berterima kasih kepada ketua dewan yang juga politisi Partai Amanat Nasional itu karena melihat secara langsung kondisi di lokasi.

Ia berharap, kedatangan Matias bisa mempercepat realisasi perbaikan.

Sementara itu, pihak Dinas PUPR Manggarai langsung mengecek proyek itu usai dihubungi oleh Matias.

Saat dihubungi Floresa.co, Selasa siang Melkianus Muardi, Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) mengaku sedang berada di lokasi

“Kami masi di lapangan untuk melihat kondisi jalan yang sebenarnya,” katanya.

Engkos Pahing/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.