Dalam foto ini, Ansy Lema, anggota DPR RI terpilih dari NTT periode 2019-2024 sedang bersama konstituennya saat masa kampanye Pileg 2019. (Foto: Ist)

Jakarta, Floresa.co – Anggota DPR RI Terpilih asal NTT, Ansy Lema mengapresiasi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Selasa, 6 Agustus 2019 yang menolak gugatan  Partai Gerindra terkait hasil perhitungan suara di Dapil NTT 2 yang meliputi 12 kabupaten di Pulau Timor, Sumba, Rote dan Sabu.

Majelis MK dalam amar putusannya menegaskan bahwa gugatan itu tidak dapat diterima,  karena dalil gugatannya kabur dan tidak jelas (Obscuur Libel).

Gugatan tersebut berpotensi mempengaruhi perolehan suara ketujuh DPR RI Dapil II NTT yang diperoleh Ansy  berdasarkan penetapan KPU.

Politisi muda PDI Perjuangan dengan nama lengkap Yohanis Fransiskus Lema ini menyatakan, putusan MK yang bersifat final dan mengikat memberikan legalitas hukum yang meneguhkan legitimasi rakyat kepada dirinya sebagai Anggota DPR RI Terpilih/

“MK sebagai muara terakhir pencari keadilan hukum telah memberikan putusan seadil-adilnya. Justitia est ius suum cuique tribuere; Keadilan harus diberikan kepada yang berhak menerimanya,” kata Ansy dalam pernyataan tertulis yang diterima Floresa.co,

ama proses persidangan, aktivis reformasi 98 itu mengaku diam dan tidak memberikan pernyataan apa-apa.

Ia mengaku ingin memberikan keleluasaan kepada MK untuk bekerja profesional dengan menjunjung tinggi independensi dan netralitas MK.

“Saya menjunjung tinggi independensi dan netralitas MK. Saya juga menghargai hak konstitusional pihak Pemohon yang mengajukan gugatan ke MK,” kata Ansy.

Ansy menyatakan, sejak awal  yakin bahwa gugatan tersebut tidak akan berpengaruh terhadap keputusan yang telah ditetapkan oleh KPU, karena  berpolitik dengan menjunjung tinggi politik nilai, mengedepankan logika dan etika.

Ansy menyebur diri menjalankan ‘politik jalan lurus,; pantang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan.

“Karena itu, manipulasi dan penggelembungan suara sebagaimana dituduhkan tidak pernah saya lakukan. Sejak awal saya menjalankan politik bersih, politik jalan lurus, tanpa manipulasi dan rekayasa, apalagi mencuri suara pihak lain. Selain tidak ada niat, saya tidak memiliki instrumen pendukung untuk melakukan kejahatan demokrasi,” tegas Ansy.

Politik beretika dan berintegritas, demikian Ansy, diperolehnya dari hasil belajar teladan dua guru politik, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Nurdin Abdullah yang menjalankan politik nilai dalam kontestasi elektoral.

BACA JUGA: Bertemu Ansy Lema, Ahok Sampaikan Rencana Kunjungi NTT

“25 tahun lebih saya menjaga integritas dalam politik, menjalankan politik nilai, masa hanya untuk jadi anggota DPR RI, saya harus mengkhianati nilai-nilai utama yang telah lama saya jaga? Pantang bagi saya mencuri suara pihak lain”, tandas Ansy.

Ansy mengucapkan terima kasih kepada MK yang telah bekerja profesional dan independen, juga kepada rakyat NTT yang telah mendukungnya.

BACA JUGA: Ansy Lema: Parpol Pro Pemerintah dan Oposisi Sama-sama Penting dalam Demokrasi

“Saya juga kepada berterima kasih kepada keluarga besar PDI Perjuangan NTT serta relawan dan simpatisan,” tambah mantan dosen sejumlah universitas di Jakarta itu.

Ansy menyadari bahwa dengan memilihnya rakyat menginginkan spirit baru dalam politik NTT.

Ia pun berjanji akan mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat sekaligus mewujudkan politik yang berkeadaban di NTT.