BerandaARTIKEL UTAMACaleg Mengaku Serahkan Uang...

Caleg Mengaku Serahkan Uang Rp 70 Juta Untuk Ketua KPU Mabar

Labuan Bajo, Floresa.co Robertus Din, Ketua KPU Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga menerima uang suap dari salah seorang calon legislatif di daerah itu. Penyuapan dilakukan untuk meloloskan caleg tersebut dalam Pemilu 2019.

Dugaan tersebut terbongkar setelah adanya pengakuan pemberi uang yakni Petronela Madina. Petronela merupakan caleg nomor urut 8 PDI Perjuangan daerah pemilihan (Dapil) Manggarai Barat 1.

Dihubungi melalui selulernya, Selasa, 21 Mei 2019 malam, Petronela mengaku dirinya sebagai pihak yang menawarkan uang dan disetujui Robertus.

“Saya yang tawarkan dia to. Dia iya iya (setuju),” ujar Petronela.

Proses tawar-menawar dan pemberian uang dilakukan sebelum pelaksanaan pencoblosan.

“Sebelum (pencoblosan). Apa gunanya kasi sesudah (pencoblosan). Saya kan kasi sebelum,” ujarnya.

Saat ditanya, berapa total uang yang diminta Robertus dan dipenuhi Petronela, ia menjawab: “Delapan puluh (juta). Yang dia terima tujuh puluh (juta). Yang sepuluh (juta) itu diterima PPK. Marsel.”

Ia menugaskan menantunya untuk mengantarkan uang tersebut. Awalnya uang itu hendak diantar ke rumah Robertus. Namun Robertus keberatan sehingga mereka bertemu di depan Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo.

Penyerahan uang dilakukan di dalam mobil berwarna putih yang digunakan Robertus.

“Setelah terima (uangnya) dia bilang Oma terima kasih. Saya bilang, mengerti saja kah dengan saya punya tuak. Iya Oma. Begitu,” tutur Petronela.

Ia mengatakan, pemberian uang sebanyak Rp 70 Juta untuk Ketua KPU dan Rp 10 juta untuk PPK itu dimaksudkan agar dirinya lolos dalam Pemilu.

“Supaya saya bisa masuk kursi kedua to. Sil Syukur yang kursi pertama. Ternyata ini saya punya suara dasar sendiri. Dari merekanya mana?” ujarnya.

Namun hasil rekapitulasi di KPU, Petronela hanya meraih 800 suara. Padahal berdasarkan hitungan Paulina sendiri, ia meraih 1015 suara. Ia pun gagal menduduki kursi DPRD.

Petronela pun kecewa. Apalagi saat dihubungi melalui selulernya, Robertus tak pernah merespons. Petronela juga pernah mendatangi kantor KPU Mabar, namun Robertus tak berada di tempat.

Petronela pun pasrah. Ia tak berniat meminta agar uang tersebut dikembalikan.

“Saya juga tidak minta. Orang mau kasi baik. Tidak kasi juga baik. Tuhan yang melihat itu,” ujarnya.

Floresa.co telah berupaya untuk mewawancarai pihak KPU Mabar melalui ketuanya yakni Robertus Din. Namun ia tak menjawab.

NAN/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

10 Pelukis asa NTT Gelar Pameran Lukisan di TIM

Jakarta, Floresa.co - 10 orang pelukis asal Nusa Tenggara Timur (NTT)...

Konservasi vs Investasi

Oleh: GREGORIUS AFIOMA, Peneliti pada Sunspirit for Justice and Peace Pemerintah perlu...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.