BerandaARTIKEL UTAMAMengenal Motif Songke-Kain...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co – Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tiga motif kain tenun sulam atau songke.

Ketiga motif itu adalah motif Jok Lamba Leda, Congkar dan Rembong.

Warna dasar motif Manggarai Timur tersebut adalah hitam. Namun, seiring perkembangan zaman, warna lain juga bisa digunakan sebagai warna dasar tenun sulam Manggarai Timur.

Songke Jok Lamba Leda

Tenunan ini berasal dari Kecamatan Lamba Leda. Pada kain tenun ini terdapat beberapa gambar yang memiliki makna berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat di Manggarai Timur umumnya, khususnya di wilayah Lamba Leda.

  1. Jok: melambangkan rumah gendang atau rumah adat Manggarai Timur;
  2. Wela Runus: salah satu bunga berukuran kecil yang tumbuh di Manggarai Timur.
  3. Wela Ngkaweng: Salah satu bunga berukuran agak besar yang memiliki keunikan: satu kuntum bunga terdiri atas beragam warna.
  4. Mata Manuk: melambangkan mata Tuhan. Berbentuk ruit.
  5. Titian: melambangkan jembatan atau penghubung.
  6. Sui/garis pembatas: melambangkan kehidupan masyarakat Manggarai Timur yang dibatasi oleh aturan adat-istiadat.
  7. Natas/Punca: selalu berada di bagian depan sarung jok Lamba Leda yang melambangkan bahwa natas (halaman kampung) selalu berada di tengah-tengah kampung dan berfungsi sebagai tempat bermain anak-anak.

Songke Congkar

Kain tenun ini berasal dari wilayah kecamatan Sambi Rampas. Tenunan ini memiliki beberapa gambar yang sama dengan songke Lamba Leda, seperti mata manuk, wela runus, wela kaweng, jok dan titian. Sedangkan beberapa gambar lain seperti bintang, garis komando, garis pemisah; menjadi ciri khas tersendiri bagi Songke Congkar.

  1. Wela Runus
  2. Bintang: letaknya selalu di ujung atas Songke Congkar. Melambangkan bahwa Tuhan itu maha tinggi, selalu di atas kehidupan manusia.
  3. Wela Kaweng
  4. Mata Manuk
  5. Titian
  6. Jok
  7. Garis Komando: melambangkan satu kesatuan masyarakat Manggarai Timur.
  8. Garis pemisah: melambangkan strata sosial masyarakat Manggarai Timur.

Songke Rembong

Berasal dari kecamatan Elar. Tenunan ini memiliki corak gambar yang agak berbeda dengan tenun sulam Lamba Leda dan Congkar. Corak Tenunan ini hanya terdiri dari garis vertikal dan horisontal dan bunga-bunga dalam garis.

Natas menjadi  satu-satunya  corak yang sama dengan tenun sulam Lamba Leda.

  1. Natas
  2. Garis Horisontal: sebagai pembatas bagian atas dan bawah yang melambangkan bahwa setiap ada masalah di masyarakat, selalu ada penyelesaiannya melalui musyawarah dan tidak melewati batas adat di kampung.
  3. Garis vertikal yang ukurannya besar selalu berdampingan dengan garis vertikal kecil. Ini melambangkan orangtua yang selalu rukun dan harmonis dengan anak-anaknya.
  4. Bunga-bunga kecil dalam garis vertikal melambangkan persatuan yang kuat dari generasi yang dilahirkan. Selain itu juga melambangkan tentang musyawarah adat selalu menghasilkan kesepakatan.

Songke Manggarai Timur biasa digunakan pada acara-acara adat dan acara lain yang bersifat formal.

Sumber: Dinas Kooperasi, Perindustrian dan Perdagangan Manggarai Timur/Rosis Adir

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Saat Generasi Penenun Songke Semakin Tua, Karya Intelektual Perempuan Adat Manggarai ini Kian Suram

Rendahnya penghasilan dari menenun, membuat sejumlah ibu-ibu penenun muda di Lamba Leda Utara berhenti dari pekerjaan tersebut. Dan biasanya, di antara mereka memilih merantau ke Kalimantan sebagai buruh sawit.

Pasca UNESCO dan IUCN Kunjungi Taman Nasional Komodo, Meluruskan Klaim Pemerintah

Kami mencatat setidaknya empat klaim pemerintah yang perlu diluruskan karena mengabaikan fakta. Keempatnya, adalah terkait penyangkalan akan keberadaan resort wisata di Loh Buaya, soal dialog dengan warga Kampung Komodo, penyangkalan perubahan zonasi untuk bisnis wisata di TNK serta ketidakterbukaan informasi soal konsesi bisnis perusahaan-perusahaan swasta.

Hadang Penggusuran Kebunnya untuk Proyek Pariwisata, Warga di Labuan Bajo Sempat Ditangkap Polisi

Kebun jati milik warga ini digusur untuk pembukaan jalan ke area 400 hektar di Hutan Bowosie, yang akan dikembangkan menjadi kawasan bisnis pariwisata, bagian dari proyek strategis nasional.

Surat Permohonan Maaf Guru THL kepada Kadis PK Matim

Borong, Floresa.co – Polemik guru tenaga harian lepas (THL) di Manggarai...