BerandaARTIKEL UTAMAPemerintah Diminta Tertibkan Pub...

Pemerintah Diminta Tertibkan Pub Ilegal di Matim

Borong, Floresa.co – Andi Susilo, salah satu pengusaha tempat hiburan malam atau pub di Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), NTT, meminta pemerintah kabupaten tersebut untuk menertibkan pub-pub ilegal.

Hal itu disampaikan Andi, menyusul adanya pemberitaan tentang sejumlah ladies di kafe-kafe di Matim, terinfeksi HIV/AIDS.

“Saya minta dinas terkait turun periksa izin itu (pub),” ujarnya kepada Floresa.co,  Senin, 10 Desember 2018.

Menurut pemilik D’lobby Cafe itu, pub-pub yang tidak punya izin dari pemerintah, sebaiknya berhenti beroperasi.

Ia juga meminta pihak KPA Matim menyebut secara jelas nama-nama kafe yang ladiesnya terinfeksi penyakit mematikan itu.

Ia mengaku selalu menerima petugas dari KPA yang melakukan pemeriksaan sejumlah ladies di kafenya.

BACA JUGA: 

“Dua bulan lalu, ladies-ladies yang kerja di saya punya kafe, sudah diperiksa. Tapi, ada kafe yang tidak diperiksa,” katanya.

Menurutnya, kafe-kafe yang tidak diperiksa oleh petugas kemungkinan adalah kafe ilegal.

Ketika ditanya Floresa.co terkait praktek porstitusi terselubung di pub atau kafe di Matim, sebagai pemilik kafe, Andi mengaku tidak bisa membatasi soal itu.

“Kita (pemilik) juga tidak 24 jam di sana (pub). Kita kembalinya ke izin,” ujarnya.

Menurutnya, pub atau kafe yang tidak punya izin, itu yang liar. “Yang ada kemungkinan ladiesnya terinfeksi HIV/AIDS,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Perusahaan-perusahaan yang Pernah dan Masih Mengantongi Izin Investasi di Taman Nasional Komodo  

Selama sekitar dua dekade terakhir, Taman Nasional Komodo menjadi bancakan investor untuk mengais rupiah. Meskipun berstatus wilayah konservasi binatang purba komodo, namun perusahaan-perusahaan masih mendapat izin investasi.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Polemik Kenaikan Tarif Masuk: Ke mana Arah Pengelolaan Taman Nasional Komodo?

Jika pemerintah memang punya maksud serius untuk konservasi dengan membatasi kunjungan wisata [mass tourism], tetap ada jalan lain, misalnya mengatur lalu lintas wisata secara terjadwal. Kebijakan-kebijakan seperti ini seharusnya tertuang dalam Integrated Tourism Master Plan [ITMP]. Sayangnya, ambisi mengambil untung menutup mata pemerintah dalam pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi.

Catatan Sosialisasi Kenaikan Tarif ke TN Komodo: Irman Firmansyah Ajak Berdebat Secara’Akademis’ dan Pelaku Wisata yang Kukuh Menolak  

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Irman Firmansyah memantik keributan dalam ruangan setelah mengajak siapapun untuk berdebat, dengan catatan lawannya tersebut ialah seorang akademisi. “Kalau ada yang mau berdebat akademik, saya ‘open’, tapi sesama akademisi. Kalau yang tidak juga nanti akan habis waktu,” ujarnya.