BerandaARTIKEL UTAMAPerburuan Satwa Masif, Warga...

Perburuan Satwa Masif, Warga Kota Ruteng: Pemda Segera Buatkan Perda

Ruteng, Floresa.coJefri Teping, warga Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai meminta pemerintah daerah (Pemda) setempat merancang peraturan daerah (Perda) perlindungan terhadap satwa di kabupaten itu.

Hal itu ditegaskan Teping menyusul ditemukannya sejumlah pekerja bangunan di Puskesmas Kota Ruteng yang mengurung belasan burung di dalam sangkar dan dipajang di setiap sudut ruangan bangunan itu.

Fakta itu, kata Teping, bertolak belakang dengan pemberitaan yang menganggap Flores sebagai surga bagi para pengamat burung. Sementara, penangkapan dan penembakan liar terhadap satwa masif dilakukan.

“Harapan kita memang agar Pemda segera melihat ini sesuatu yang urgent. Semoga (secepatnya) bikin Perda tentang perlindungan satwa, pemilikan senapan angin dan penangkapan burung,” katanya kepada Floresa.co, Rabu, 5 Desember 2018.

Kabar tentang pengurungan burung oleh sejumlah pekerja bangunan di Puskesmas yang terletak di Jalan Ahmad Yani Ruteng itu diangkat Teping melalui akun media sosial Facebook-nya bernama “Arka Dewa” pada Selasa, 4 Desember pukul 16.12 Wita.

Selain melihat para pekerja bangunan, saya dibuat tercengang dengan keberadaan belasan ekor burung dari berbagai  jenis  burung khas Manggarai Flores dalam sangkar di setiap sudut ruangan,” tulis Teping.

Selain itu, Teping juga menyinggung fakta serupa yang ditemukannya di Golo Curu Karot beberapa waktu sebelumnya. Saat itu kata Jefri, dirinya hampir beradu fisik dengan pelaku saat dirinya memaksa pelaku melepaskan burung hasil tangkapan.

Burung berada dalam sangkar di Puskesmas Kota Ruteng. (Foto: Arka Dewa).

Kenyataan ini pernah juga terjadi beberapa bulan yang lalu di daerah Golo Curu Karot. Di sana saya melihat tiga kelompok penangkap  burung sedang asyik mengamati burung-burung yang terperangkap, sementara di sangkar yang mereka pegang sudah ada beberapa ekor burung yang berhasil ditangkap,” tulisnya.

Alasan saya melarang mereka menangkap burung karena burung-burung tersebut adalah bagian dari ekosistem untuk menjaga kesimbangan alam dan tentunya suara burung yang merdu merupakan daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung ke Golo Curu,” lanjutnya.

Menurut Teping, untuk mengisi kekosongan peraturan perundang-undangan setingkat Perda terkait perlindungan satwa, diharapkan pengambil kebijakan mengacu kepada peraturan lain sehingga bisa membendung aktivitas yang menghancurkan ekosistem itu.

Kendatipun di Manggarai belum ada Perda khusus untuk melarang perburuan satwa, tentunya kita bisa mengacu kepada Permen LHK No. 20 Tahun 2018, pada lampiran Permen ini terdapat lebih dari 900 jenis burung yang dilindungi,” tambahnya.

Selain aktivitas penangkapan burung di sekitar wilayah Kota Ruteng, dirinya juga menyoroti tindakan oknum yang kerap memburu rusa di Pulau Mules, pulau yang terletak di sebelah Selatan Iteng, Sater Mese.

“Yang juga tak kalah penting ialah pemburuan rusa di Pula Mules,” ujarnya.

Dan, sesaat setelah penemuan itu, Teping mengadukan sejumlah pekerja bangunan itu ke pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKDSA) Manggarai.

Namun, saat dikonfirmasi Floresa.co, pihak BKSDA belum memberikan jawaban terkait dengan perkembangan penanganan persoalan ini.

“Seijin pimpinan saya Pak. Perlu saya sampaikan sudah kami tindak lanjuti sesuai prosedur yang ada,” kata Juna salah satu staf BKSDA, Rabu, 5 Desember 2018.

Begitu pun Kepala BKSDA, Puji, hingga Jumat, 7 Desember 2018 siang, sama sekali belum memberikan keterangan setelah sebelumnya pada Rabu, 5 Desember, Floresa.co juga pernah menghubunginya.

ARJ/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Perusahaan-perusahaan yang Pernah dan Masih Mengantongi Izin Investasi di Taman Nasional Komodo  

Selama sekitar dua dekade terakhir, Taman Nasional Komodo menjadi bancakan investor untuk mengais rupiah. Meskipun berstatus wilayah konservasi binatang purba komodo, namun perusahaan-perusahaan masih mendapat izin investasi.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Catatan Sosialisasi Kenaikan Tarif ke TN Komodo: Irman Firmansyah Ajak Berdebat Secara’Akademis’ dan Pelaku Wisata yang Kukuh Menolak  

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Irman Firmansyah memantik keributan dalam ruangan setelah mengajak siapapun untuk berdebat, dengan catatan lawannya tersebut ialah seorang akademisi. “Kalau ada yang mau berdebat akademik, saya ‘open’, tapi sesama akademisi. Kalau yang tidak juga nanti akan habis waktu,” ujarnya.

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengapa Dirut BPOLBF Berani Klaim ‘Telah Sediakan 50 Destinasi Alternatif di Labuan Bajo’ Pada Momen Kenaikan Tarif ke TN Komodo?  

Pelaku wisata menduga bahwa salah satu alasan di balik kenaiktan tarif ini ialah karena laporan pihak BPOLBF yang mengklaim telah menyediakan 50-an destinasi alternatif di Labuan Bajo. Direktur BPOLF, Shana Fatina diduga memiliki peran dan berkepentingan di balik kebijakan kontroversi ini.