Kerikil baru disiram untuk pengaspalan Jalan Lete-Lait, Kecamatan Kota Komba, Matim.

Borong, Floresa.co – Kualitas lapen pada ruas jalan kabupaten jalur Lete-Lait, di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) diragukan warga setempat. Pasalnya, proyek milik dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) itu diduga dikerjakan tidak sesuai petunjuk teknis (Juknis).

“Kami kuatir lapen tidak bertahan lama, karena pada hari Jumat kemarin (16 November 2018) itu, kami lihat pekerja melakukan penyiraman aspal sementara hujan berlangsung,” kata Erasmus Eman, warga Lait, Desa Gunung Baru, Sabtu, 17 November.

Menurut Erasmus, ketika penyiraman dilakukan saat hujan, maka aspal tidak lagi bisa merekatkan batu, kerikil dan pasir.

“Aspal otomatis akan membeku dan itu tidak akan bertahan lama mengikat kerikil, batu dan pasir,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, batu lima-tujuh dalam proyek tersebut hanya disusun pada titik tertentu saja oleh para pekerja.

“Tidak semua badan jalan yang diaspal itu disusun batu lima tujuh,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa batu lima tujuh yang dipakai dalam pengerjaan lapen jalan dari desa Gunung menuju desa Gunung Baru itu merupakan batu yang mudah hancur.

Sementara itu seorang warga lain, Vinsensius Joman, mempertanyakan jadwal pengerjaan ruas jalan itu yang jatuh pada bulan November. Pasalnya, kata Joman, di wilayah itu, setiap November, hujan selalu mengguyur. Dan, hal itu, katanya tidak akan mendukung kualiltas jalan.

“Kenapa tunggu musim hujan baru dikerjakan? Apakah anggaran pengaspalan jalan Lete-Lait ini ditetapkan pada pembahasan perubahan anggaran oleh DPRD dan pemerintah, sehingga mulai dikerjakan pada bulan November?” tanya Vinsensius.

BACA JUGA: Siram Aspal Saat Hujan, Proyek Ketua Partai Demokrat Matim Diduga Tak Berkualitas

Menurutnya, jika pengerjaan ruas jalan itu ditetapkan pada pembahasan anggaran tahun 2018, mestinya sudah dikerjakan sejak bulan Juli atau Agustus lalu.

Ia mengaku kesal dengan langkah pemerintah mengatur jadwal pengerjaan proyek pengaspalan jalan itu tepat pada musim hujan karena akan berdampak buruk pada kualitas jalan.

“Lebih baik jalan ini tidak diaspalkan saja. Karena, di mana-mana itu, kalau pengaspalan jalan dikerjakan pada musim hujan begini, pasti tidak bertahan lama,” pungkasnya.

Sementara, Kontraktor, Gaspar Enduk membantah laporan warga yang menyebutkan bahwa hanya di tititk tertentu saja digunakan batu lima-tujuh. Ia menegaskan bahwa, dirinya sudah mengerjakannya sesuai dengan Juknis.

“Saya rasa itu tidak benar itu. Semua pake batu lima-tujuh. Kalau kita tidak pake batu lima tujuh, lapennya tidak bagus,” katanya.

Ia juga membantah dugaan kualitas jalan yang buruk akibat aspal baru disiram pada bulan November yang sudah memasuki musim hujan. Pasalnya, dugaan warga, jika penyiraman aspal dilakukan saat hujan, kualitasnya tidak terjamin.

“Kita kerja berdasarkan kontrak. Dan kontraknya masih lama yakni hingga Desember. Kalau kerja lewat dari masa kontrak, memang saya salah. Tetapi, masa kontrak belum selesai selama 150 hari,” ujarnya.

“Kalau soal hujan dan tidak, kita mengerti, kita tau. Dan, kami masih punya tanggung jawab dalam masa pemeliharaan selama satu tahun setelah masa kontrak,” tambahnya.

Pantauan Floresa.co, Minggu sore, 18 November, tampak pada titik nol pengerjaan jalan tersebut terpajang papan informasi proyek.

Papan Informasi Proyek. (Foto: Floresa).

Pada papan itu dituliskan bahwa proyek milik Dinas PUPR Manggarai Timur itu dikerjakan oleh kontraktor CV Mixuse, dengan konsultan perencana CV Nivunua Konsultan dan pengawasan, CV Graha Duta.

Selain itu dituliskan juga bahwa jangka waktu pengerjaannya 150 hari, dengan total dana Rp 874. 552.161, 96. Sedangkan tanggal mulai dan berakhir serta volume pengerjaan tidak dicantumkan.

Tampak penyiraman awal aspal untuk mengikat batu telford dengan batu 5-7 dan batu 3-5 (krikil) hanya dilakukan pada batas luar jalan yang mau dilapen tersebut. Sedangkan pada bagian tengah tidak disirami aspal.

Selain itu, di sepanjang jalan yang mau diaspalkan itu hanya terlihat satu tumpukan batu 5-7. Tumpukan batu 5-7 itu terlihat sekitar 300 meter setelah batas jalan yang sudah disirami aspal.

ARJ/ Floresa