Pengaspalan jalan di Mombok, Desa Lengko Namut, Kecamatan Elar, Matim diduga tak berkualitas karena dikerjakan pada musim hujan. Kontraktornya ialah Ketua Demokrat Manggarai Timur, Dami Asram, (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Pengaspalan jalan di Mombok, Desa Lengko Namut, Kecamatan Elar, Manggarai Timur  (Matim) diduga tak berkualitas. Pasalnya, pengerjaan aspal baru dilakukan pada bulan November 2018. Padahal awal November, di wilayah itu sudah memasuki musim hujan.

Laporan warga yang diterima Floresa.co bahkan menyebutkan, pekerja disuruh mandor proyek untuk tetap melakukan penyiraman aspal meskipun di bawah guyuran hujan lebat.

“Hujan mulai sekitar jam dua siang. Tapi mandor proyek perintahkan pekerja untuk tetap kerja. Mereka siram aspal meskipun di bawah guyuran hujan lebat,” ungkap sumber Floresa.co, Jumat, 16 November 2018.

Penyiraman aspal saat hujan, kata sumber itu, menyebabkan aspal cepat membeku sehingga tak meresap di antara kerikil dan batu-batuan. Dengan demikian, cairan aspal tak sempat merekatkan lapisan batu, kerikil, dan sirtu.

Tak hanya itu, proyek tersebut juga diduga mengabaikan ketentuan penggunaan material.

“Ada beberapa bagian yang tidak menggunakan batu tiga lima dan lima tujuh. Dan itu justru pada bagian yang selama ini rusak paling parah,” kata sumber tersebut.

Ia menuturkan proyek tersebut dikerjakan oleh Dami Arsam. Dami merupakan Ketua Partai Demokrat Kabupaten Manggarai Timur. Beberapa hari awal penyiraman aspal, Dami Arsam terlihat memantau langsung proyek tersebut. Selama itu, material batu tiga lima dan lima tujuh digunakan dan penyiraman aspal dilakukan dengan baik.

Entah pembuatan saluran air dan bahu jalan ada dalam petunjuk dan teknis (Juknis) atau tidak. Jalan tersebut tak dilengkapi dengan bahu jalan dan saluran air. Akibatnya, saat hujan, air mengalir dan menggenangi badan jalan.

“Tapi beberapa hari ini pak Dami tidak ada. Yang ada di lokasi hanya pak Mikael. Dia tidak mau pakai batu tiga lima dan lima tujuh. Aspal juga dia paksa siram biar saat hujan,” tutur sumber tersebut.

Terpisah, Dami Asram menepis laporan warga tersebut. Menurutnya, pengerjaan jalan itu sudah sesuai Juknis.

“Penggunaan Material sesuai petunjuk, teknis dari batu 5 -7 sampai 2 – 3  ada semua,” katanya saat dihubungi Floresa.co, Sabtu, 17 November 2018.

Dami juga mengklaim bahwa dirinya sangat menjaga kualitas proyek jalan itu. Pasalnya, jalan itu ialah akses menuju kampungnya sendiri, sehingga tidak mungkin dikerjakan asal jadi.

“Sedangkan terkait pekerjaan saat musim hujan, kami melakukan penyiraman aspal pada saat belum hujan setiap hari dan kalau sudah hujan kami stop penyiramannya.”

“Saya jamin pelaksanaannya sesuai bestek (peraturan dan syarat-syarat pelaksanaan-red),” katanya.

Sementara, sumber tersebut berharap, pihak terkait dari Pemkab Matim hadir langsung untuk mengawasi pelaksanaan proyek tersebut.

“Sehingga kualitas proyek tersebut bisa diperhatikan,” ujarnya.

Pantauan floresa.co beberapa waktu lalu, papan informasi proyek tersebut terpampang di titik nol proyek, yakni Pertigaan Lapangan Sepak Bola Mombok.

Pada papan tersebut tertulis beberapa informasi proyek yakni Paket pekerjaan Peningkatan Jalan Mombok – Rana Kulan dengan nilai kontrak Rp 848.223.192,51.

Kontraktor proyek yakni CV Karunia Sejati Agung, Konsultan Perencana CV Sao Ria Plan, dan Pengawas CV Zemi. Selain itu tertulis pula tahun anggaran 2018 dan jangka waktu pelaksanaan 150 hari.

Namun tidak disebutkan volume pekerjaan dan tanggal mulai hingga selesainya pengerjaan proyek. Saat itu terlihat beberapa titik pendropingan drum berisi aspal di sepanjang ruas jalan tersebut. Drum aspal seluruhnya berjumlah 86 drom buah.

Beberapa warga yang ditemui saat itu menuturkan kerinduan akan perhatian pemerintah selama bertahun-tahun. Pasalnya ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Lengko Namut, Sisir, Compang Soba, dan Desa Rana Kulan itu rusak parah.

Kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan membuat empat desa di Kecamatan Elar itu terisolasi.

Kondisi jalan tampak seperti sungai. Bekas aliran air dan roda kendaraan membelah badan jalan dan membentuk lubang-lubang dan cekungan yang dalam. Bebatuan bekas lapisan telford terangkat dari posisi semula hingga membentuk onggokan batu seperti di sungai.

ARJ/Floresa