Julie Laiskodat Minta Penenun di Mabar Tekun

1651
Julie Sutrisno Laiskodat. (Foto: VisualIndonesia.com).

Floresa.co – Ketua Tim Pembina PKK Nusa Tenggara Timur (NTT) Julie Sutrisno Laiskodat meminta kelompok masyarakat penenun di Manggarai Barat (Mabar) untuk terus menenun hingga menjadikannya sebagai pekerjaan utama. Dia pun memastikan akan menjadi pembeli tetap.

“Kamu bisa menjualnya kepada siapa saja. Kalau pun tidak laku, nanti saya akan beli,” kata Julie Laiskodat di hadapan kelompok penenun di Kampung Perang, Desa Ponto Ara, Kecamatan Lembor, Mabar, Rabu, 17 Oktober 2018.

Julie berharap, tenunan yang dihasilkan berkualitas. Selain agar mampu bersaing juga agar penenun bisa mendapatkan keuntungan yang cukup.

“Rata-rata di NTT setiap kelompok penenun memiliki masalah. Untuk kelompok penenun di Mabar, kami siap beri bantuan benang. Tapi ada syaratnya kualitas harus dijaga,” katanya.

Julie juga mengamati bahwa proses menenuh tidak mudah. Selalu ada kendala. Maka, dirinya bersiap untuk mendukung penuh kelompok-kelompok penenun di seluruh NTT, termasuk di Mabar.

“Selama ini ada dua masalah yang dihadapi penenun di NTT yaitu benang sebagai peralatan menenun dan pemasaran.”

“Masalah tersebut dapat diatasi jika penenun dari hati mau serius menjadi penenun dan LeViCo siap membantu penenun baik bantu benang maupun pemasaran,” ujarnya.

LeViCo merupakan butik milik Julie Laiskodat yang didirikan untuk mempromosikan tenunan dari seluruh daerah di NTT. Julie mengaku sudah empat tahun memperkenalkan tenunan NTT di dalam negeri hingga level internasional.

Julie juga menyoroti komposisi penenun yang mayoritas hanya terdiri dari ibu-ibu. Sedangkan, orang-orang muda masih sangat sedikit. Dirinya memaklumi gejala itu karena masih terdapat anggapan profesi menenun kurang menjanjikan hingga membuat anak-anak muda memilih jalan lain untuk menyambung hidup.

“Pemuda-pemudi kita, sudah malas menjadi penenun. Rata-rata, sudah hampir mama saudah yang jadi penenun. Maka, pangsa pasarnya yang kita cari. Saya melihat itu, akhirnya saya mendirikan butik Levico untuk menjawab masalah penenun NTT,” akunya.

Namun, Julie juga mengaku bangga karena sejumlah masyarakat Mabar telah menyatu dalam kelompok-kelompok penenun dengan puluhan anggota. Menurutnya, keberadaan kelompok itu menunjukan respon positif masyarakat.

Selain itu, Julie juga menekankan pentingnya ketahanan mental pengusaha saat menekuni profesi menenun. “Harus ada mental, penenun harus bermental pengusaha atau bisnis,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Desa Ponto Ara, Rofinus Taso menjelaskan bahwa di desa yang dipimpinnya itu sudah terbentuk 3 kelompok penenun yang didukung penuh LSM WVI dan PKK desa.

Selain itu, Rofinus juga membeberkan bawah masih terdapat masyarakat yang tidak tergabung dalam kelompok, terapi aktif menenuh di rumah masing-masing. Sehingga, harapnya, kunjungan Julie Laiskodat merangsang masyarakat penenun untuk tetap berkarya.

“Aktifitas menenun di Desa Ponto Ara cukup bagus dan meningkat. Namun masih banyak kendala yang dihadapi penenun. Harapannya ke depan masalah tersebut diatasi karena respon masyarakat untuk menenun cukup tinggi,” kata Rofinus.

ARJ/Floresa