Labuan Bajo, Floresa.co – Asosiasi Kapal Wisata (Askawi) Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) menolak rencana investasi PT. ASDP Indonesia Ferry yang hendak beroperasi di Taman Nasional Komodo (TNK). Pasalnya, investasi tersebut dinilai menciptakan banyak persoalan dalam industri pariwisata di wilayah itu.

“Investasi PT. ASDP membunuh komodo, membunuh budaya dan kearifan lokal serta membunuh sumber kehidupan msyarakat lokal,” kata Ketua Askawi, Achyar Abdi dalam konferensi pers di Hotel Beta Bajo, Jumat 12 Oktober 2018.

Rencananya, kapal Ferry bermuatan masal itu akan membuka rute transportasi menuju pulau Komodo, Rinca dan beberapa pulau lain dalam kawasan TNK.

“Sebagai stake holder dan salah satu bagian dari pelaku industri pariwisata di Labuan Bajo Askawi menolak dengan tegas rencana Investasi PT ASDP,” kata Achyar.

Menurut Achyar, investasi itu akan mengganggu kelestarian ekosistem TNK yang telah ditetapkan menjadi Taman Nasional oleh UNESCO sejak tahun 1991 dan ditetapkan sebagai New 7 Wonders.

Kawasan itu, jelasnya, merupakan tempat hidup Komodo, satu-satunya hewan purb yang dalam legenda masyarakat lokal disebut ora dan konon  memiliki hubungan darah dengan masyarakat Komodo.

“Oleh karenanya keistimewaan Taman Nasional Komodo tersebut patut dan wajib kita jaga dengan cara yang istimewa pula,” katanya.

Pasalnya, kata Achyar, keistimewaan TNK tidak dapat dibanding dan disandingkan dengan keberadaan Kebun Binatang Taman Safari yang dikenal sebagai obyek tujuan wisata konvensional. “TNK wajib dijaga keaslian dan kealamian segenap ekosistemnya,” katanya.

Memaksa atau setidaknya memberi ruang bagi PT. ASDP mengoperasikan ferry bermuatan massal itu, kata Achyar, membuat TNK selevel dengan taman nasional lain yang levelnya berada di bawah TNK. Bahkan berpotensi menimbulkan kepunahan.

“Sekaligus berpotensi mengubah kondisi budaya dan sosial ekonomi masyarakat lokal yaitu menghilangkan kapal phinisi sebagai warisan budaya  bahkan budaya nasional, karya kreatif sebagai warisan nenek moyang bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Achyar, selain Askawi sebagai komunitas penyedia jasa kapal wisata, investasi itu juga mengancam sumber mata pencaharian dan kehidupan masyarakat lokal.

“Juga komunitas profesi lain seperti pemandu wisata, agen perjalanan, komunitas petani dan nelayan,” jelasnya.

“Lebih jauh pun berdampak kepada masyarakat lokal yang bergantung kepada pariwisata atau jasa tersebut di atas secara keseluruhan dengan fungsinya sebagai tulang punggung keluarga  dan menopang usaha kecil dan menengah sekaligus penopang ekonomi bangsa,” lanjutnya.

Achyar menambahkan, Askawi berkomitmen memberikan kontribusi nyata kepada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Tentu sebelumnya kami mengharapkan kehadiran Pemda Mabar selaku otoritas dan regulator menyusun perangkat dan instrumen peraturan sebagai payung hukum yang memungkinkan kontribusi dan kewajiban yang hendak kami berikan dan kelak hasilnya dapat dipergunakan kembali,” tutupnya.

ARJ/Floresa