Floresa.co – Acara pergantian tahun rupanya bukan budaya baru bagi keturunan Suku Sikeng yang bermukim di Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara itu sudah dilakukan oleh Suku tersebut sejak zaman dahulu kala hingga saat ini.

Dalam menyambut tahun baru, biasanya keturunan Suku Sikeng melakukan ritual adat, yakni torok atau ker (ucapan syukur dan permohonan) kepada Tuhan, leluhur dan alam, tentang kehidupan yang telah lewat dan yang akan datang.

Torok atau ker tersebut biasanya dilakukan oleh tetua adat dalam suku melalui hewan kurban, ayam dan babi. Hewan kurban itu sekaligus untuk memberi makan leluhur diakhir dan diawal tahun.

Ritual adat pergantian tahun ala Suku Sikeng biasanya dilakukan pada bulan September atau Oktober, setiap tahun.

“Dilaksanakan pada bulan September atau Oktober karena pada bulan tersebut biasanya kami mulai membuka kebun baru untuk tanam padi di ladang,” jelas Yohanes Banis, salah seorang tetua Suku Sikeng disela-sela acara Legha Kiwan di rumah adat suku tersebut pada Jumat malam, 5 Oktober 2018.

Mbata

Warga suku sikeng selalu melakukan mbata untuk meramaikan acara legha kiwan.

Mbata adalah sejenis atraksi musik tradisional manggarai yang alatnya terdiri dari gong dan gendang. Gong dan gendang dipukul dengan ritme tertentu, mengiringi lagu-lagu khusus.

Mereka bernyanyi bersama-sama. Pria dan wanita bersahut-sahutan, melantunkan lagu, mengungkapkan kegembiraan, syukur, dan permohonan kepada Tuhan, leluhur dan alam, atas kehidupan.

Kopi, tuak, sepa (siri dan pinang yang dikunyah) dan mbako (rokok) menjadi teman setia mereka semalaman suntuk, sambil mendendangkan lagu-lagu mbata, hingga pagi menjelang.

Takung Wae

Sebelum malam legha kiwan keturunan Suku Sikeng melakukan ritus takung wae di mata air.

Takung wae adalah ritual pemberian makan leluhur dan alam yang menjaga mata air, sambil memohon agar mata air selalu mengalirkan air yang sehat bagi warga kampung.

Selain itu, mereka juga memohon agar mata air tidak mengering, meskipun kemarau melanda.

Mboas wae woan, gembuk wae teku (permintaan kepada leluhur, alam dan Tuhan Allah agar sumber air tidak mengering),”jelas Yohanes.

Telur ayam dan ayam, siri, pinang dan tembakau menjadi sesajian di mata air itu.

Merawat Budaya dan Adat

Keturunan  Suku Sikeng hingga kini masih menjaga kelestarian budaya dan adat warisan leluhurnya.

Mereka selalu melakukan ritual-ritual adat setiap tahun, sesuai dengan kebiasaan nenek moyang mereka pada zaman dahulu.

“Kami meyakini bahwa ritual-ritual adat adalah sesuatu yang sangat sakral,” kata Yohanes.

“Jika kami tidak lakukan, maka akan ada akibat seperti bencana, melanda keturunan suku kami,” lanjutnya.

Keturunan Suku Sikeng kata dia, akan terus mempertahankan budaya dan adat yang diwariskan leluhurnya, meskipun pengaruh budaya barat terus melaju mengikis adab.

“Generasi suku kami tidak akan lupa dengan adat. Sebab, kami melakukan ritual-ritual adat setiap tahun, melibatkan generasi muda,” katanya.

“Intinya, kalau tidak melakukan ritual-ritual itu, pasti ada akibatnya. Jadi, kami yakin, adat kami tidak akan hilang sampai kapan pun,” tutupnya.

Rosis Adir/Floresa