Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Manggarai Timur, Frederika Sock. (Foto: Floresa).

Borong, Floresa.co – Anggota Komisi C DPRD Manggarai Timur (Matim) Siprianus Nejang menanggapi tudingan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Frederika Soch yang menyebut DPR berperan dalam pengangkatan sejumlah guru THL di Dinas yang dipimpin Frederika itu.

Menurutnya, tudingan itu tidak berdasar dan merendahkan perjungan dia dan rekan-rekannya di Komisi C, yang membidangi pendidikan di lembaga tersebut.

“Saya sesal (karena) pernyataan Frederika merendahkan kami punya perjuangan yang tinggi sekali orientasinya. Orientasi kemanusiaan kalau dibilang to,” kata Sipri Rabu, 5 September 2018.

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Floreseditorial.com pada Selasa, 4 September 2018, portal yang biasa menjadi corong Kadis Frederika mengklarifikasi beragam soal pelik di dinas yang dipimpinnya itu, Frederika menyebut anggota Fraksi PKPI itu menitipkan guru THL atas nama YR.

Namun, Sipri menepis tudingan tersebut. Menurutnya, YR sudah menjadi guru THL sebelum Frederika menjabat sebagai Kadis.

Dan, usaha dia dan rekannya di Komisi C terkait nasib guru yang dipecat dan dipotong gajinya oleh Frederika semata karena menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.

“Bukan titipan. Guru-guru Dinas Pendidikan Manggarai Timur itu sudah mengajar bertahun-tahun. Lalu, ketika mereka minta bantuan, mereka di depan saya, tidak mungkin kita tutup mata,” katanya.

“Lalu juga, hal yang sama, di luar keluarga saya. Begitu kita tau, kita angkat. Asalkan memenuhi syarat mereka sudah lama mengajar di Manggarai Timur,” katanya.

Selain itu, demikian Sipri, ia menghendaki agar guru-guru THL tersebut mendapat perlakuan yang pantas dari Kadis Frederika. Apalagi, katanya guru-guru tersebut sudah bertahun-tahun mengabdi di Matim.

“Kadis itu hadir di saat kondisi pendidikan Matim terang benderang. Sementara guru-guru itu ada sejak pendidikan di Matim gelap gulita. Makanya pantas disebut Kadis plin-plan,” jelasnya.

“Kita hanya mau mereka mendapat kelayakan setelah sekian tahun menjadi THL,” ujarnya.

Sipri menilai, pernyataan Frederika tersebut cerminan kegagalannya dalam mengemban tugas mulia sebagai Kadis PPO.

“Jadi, pada intinya begini, apa yang dia sampaikan itu sebenarnya memamerkan apa yang tersembunyi di dalam diri dia. Karena kerja dia yang rendah. Karena orientasi keluarga, dia proyeksikan itu ke orang lain, termasuk ke saya dan ke Pa Mias (Dupa),” katanya.

Karena sejumlah kebijakan kontroversinya tersebut, Frederika, kata Sipri disebut sebagai momok menyeramkan bagi guru-guru THL.

“Kebijakan dia itu kebijakan yang mencabut nyawa, sehingga dia tampil sebagai Kadis pencabut nyawa untuk guru THL,” tutupnya.

ARJ/FLORESA