Puing rumah warga yang terbakar di Gurusina, kampung tradisional di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu'u,  Kabupaten Ngada. (Foto: dok.)

Floresa.co – Gurusina, sebuah kampung tradisional di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu’u,  Kabupaten Ngada. Kampung yang dikenal sebagai obyek wisata, selain kampung adat Bena, ini dihuni sekitar 36 kepala keluarga.

Aksesnya sangat mudah. Hanya menghabiskan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam dari kota Bajawa jika menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Namun bencana kebakaran yang terjadi pada Senin 13 Agustus 2018 lalu, menyebabkan pesona kampung itu pun ludes bersama 32 unit rumah adat yang dilahap si jago merah. Ada pun sisanya sebanyak empat unit rumah berhasil diselamatkan.

Taksasi kerugian yang diderita warga mencapai puluhan miliar karena nilai bangunan dan biaya ritual adat saat pembangunannya mencapai Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar perbangunan.

Sebanyak 36 kepala keluarga yang menghuni kampung adat itu, kini berada di tenda pengungsian yang dibangun Dinas Sosial setempat.

Meski kebutuhan mereka sedikit terpenuhi dari donasi berbagai pihak yang bersimpati, namun mereka mengkhawatirkan upaya untuk membangun kembali tempat tinggal seperti sedia kala.

Mateus Siagian, salah satu pelaku pariwisata dari Labuan Bajo, Manggarai Barat yang mendatangi lokasi kejadian mengatakan warga setempat sangat sedih atas kejadian tersebut.

Selain menangisi kebakaran rumah adat, warga juga memikirkan biaya untuk membangun kembali rumah tersebut sesuai dengan bentuk awal.

“Menurut mereka, rumah adat itu tidak dibangun sembarang. Harus melalui ritual adat dan membutuhkan biaya sangat besar, dengan kisaran Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar,” ujar Matheus, Rabu, 15 Agustus 2018.

Saat tiba di lokasi kejadian, Matheus membagikan foto dan video melalui media sosial dan mendapat tanggapan positif dari pihak-pihak yang peduli dengan kampung adat tersebut.

“Setelah postingan di FB ada teman dari Rumah Asuh di Jakarta atas nama pak Yori Antar langsung respon,” tuturnya.

Yori bersedia membangun lima rumah adat bersama rekan-rekannya. Tetapi dengan syarat harus sesuai dengan rumah adat aslinya. Yori juga tak ingin proses pembangunannya dilakukan oleh kontraktor.

Ferdinand Ambo/Floresa