Jashinta Hamboer. (Foto: dok)

Oleh: JASHINTA HAMBOER, warga NTT

Tanggal 20 Desember 2017 yang lalu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan ulang tahun ke-59. Selama berdirinya sejak tahun 1958, provinsi ini sudah dipimpin oleh tujuh gubernur dari berbagai latar belakang pendidikan dan kemampuan. 

Tragisnya, predikat NTT dengan meme Nasib Tak Tentu terkadang lebih populer dari nama seharusnya, Nusa Tenggara Timur. Entah sampai kapan julukan Nasib Tak Tentu akan terus melekat.

Pada semester pertama tahun 2015, Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan bahwa NTT menjadi provinsi paling korup dan masuk dalam 10 besar penanganan kasus korupsi yang tidak tuntas, dengan kisaran angka kerugian negara Rp. 609,2 miliar.

Tragisnya lagi, di tengah tingkat korupsi yang tinggi itu, NTT seperti tak tersentuh oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Dalam hal pendidikan, NTT juga berada di nomor urut buncit, hanya berada di atas Provinsi Papua dan Papua Barat. Rendahnya pendidikan di NTT tidak terlepas dari gizi buruk dan stunting yang terus melanda.

Menurut Menteri Kesehatan, Nila Moeloek dalam salah satu kesempatan kuliah umum tahun 2017 di Kupang, anak mengalami stunting akibat kurang gizi saat dalam kandungan, sehingga anak akan tumbuh pendek dan berat badan tidak normal. Hal ini berpengaruh pada kecerdasan otak. Karena itu, kemampuan anak untuk bisa mencapai akademia yang tinggi semakin sulit dan berpeluang menjadi beban negara – yang seharusnya bisa menjadi aset.

NTT juga terkenal sebagai penyumbang devisa besar karena berhasil mengirim buruh migran dalam jumlah banyak. Namun, bila ada yang menjadi korban kekerasan, bahkan meninggal dunia, kita  hanya mendengar iba di permukaan. Setelahnya, mereka terlupakan.

Belum lagi kasus perdagangan orang (human trafficking) yang sangat tinggi, sampai-sampai NTT mendapat julukan baru sebagai Nusa Trafficking Tinggi.

Beberapa pihak sudah berusaha membantu mengatasi masalah ini, seperti Rumah Singgah di bawah pimpinan Sr Yosephina Pahlawati SSpS di Labuan Bajo dan Sr Eustochia Monika Nata SSpS di Maumere.

Butuh Seorang Mama

Sebentar lagi NTT akan memilih gubernur ke-8.  Kita tahu, di antara empat kandidat, berdiri seorang perempuan, Emi Nomleni yang berada di nomor urut dua.

Ia berdiri tegak dan tegar di tengah kandidat lain yang semuanya kaum bapak. Walau pasangannya, Marianus Sae masih ditahan KPK, Emi Nomleni seperti tak gentar. Sosoknya sederhana namun berwibawa.

Dalam  debat calon gubernur NTT yang lalu, ia tampil cerdas, penuh percaya diri, yang membuat banyak orang kagum.

Sangat nyata, betapa besar perhatiannya pada perempuan, masyarakat kecil dan pada keluarga sebagai cikal bakal masa depan negara.

Perolehan harta kekayaannya yang hanya Rp 440 juta, paling kecil dibandingkan harta para kandidat gubernur yang lain, sampai-sampai membuat heran seorang Bambang Widjajanto, mantan wakil ketua KPK.

Pada debat 5 April lalu, Emi memaparkan visi misinya untuk siap melayani NTT dengan hati.  Menurutnya, masih banyak mama di NTT yang menangis karena anaknya kurang minum dan makan yang cukup, tak dapat menyekolahkan anak, mengalami kekerasan, kesulitan akses kesehatan dan tak bisa menjual hasil kebun karena akses jalan yang rusak.

Karena itu, kata dia, NTT butuh pemimpin yang terus hadir dan melayani dengan hati. 

Emi adalah juga kader Partai Demokrasi Indonesia – Perjuangan (PDI-P) yang setia dan menghargai pluralisme. Prinsip PDIP sebagai sebuah parpol yang konsisten dan komitmen  menjaga NKRI dan Pancasila sangat dipegang teguh oleh Emi. Apalagi,  akhir-akhir ini NKRI dan Pancasila terganggu dengan aksi-aksi anarkis.

Tak dapat dipungkiri bahwa kita semua ada di dunia ini melalui pertaruhan nyawa seorang mama. Mama menjaga kita mulai dari dalam kandungan sampai seumur hidup kita. Mama akan berjuang keras untuk kesejahteraan keluarganya.  Kebaikan hati mama tak tertandingi.

Sepertinya, di tengah keterpurukan NTT yang ada selama ini, perlu ada terobosan dan warna lain yang harus memimpin NTT.

Sudah ada 7 gubernur laki-laki yang pernah memimpin NTT. Untuk pemilu gubernur tanggal 27 Juni 2018 ini, katakan pada dunia bahwa emansipasi di NTT sangat bagus.  Mari buktikan bahwa perempuan NTT masih ada. Kelembutan hati mama selalu menjadi penyejuk di tengah pengembaraan masyarakat NTT.