Andre Garu, anggota DPD RI saat berbuka puasa dengan warga Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Mabar.

Labuan BajoFloresa.co Anggota DPD RI dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Adrianus Garu, menghadiri acara buka puasa bersama warga Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat pada Sabtu, 26 Mei 2018.

Selain memohon berkat bagi kelangsungan hidup warga setempat, ia juga menyampaikan pesan-pesan persatuan kepada warga setempat.

Keberagaman di Manggarai khususnya dan Indonesia umumnya, kata Andre, tidak dimiliki negara lain. Oleh karena itu, keragaman tersebut harus tetap dijaga selama-lamanya.

“Kita ini satu selama-lamanya. Meskipun berbeda keyakinan dan itulah keindahan yang ada di tengah kemajemukan,” ujar Andre.

Ia mengatakan, persatuan dan persaudaraan sudah dibangun sejak dahulu kala dan diperkuat melalui hubungan kawin-mawin. Karena itu, dinamika bernuansa SARA di tingkat nasional tak akan mengusik kebersamaan di Manggarai.

“Apa yang terjadi di (tingkat) nasional tidak mengusik kebersamaan kita yang dibangun sejak lama. Persaudaran kita di Manggarai ini sudah sejak dahulu kala. Apalagi diperkuat dengan kawin-mawin,” katanya.

Dirinya berharap, masyarakat Muslim di Desa Macang Tanggar lebih konsentrasi untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan di wilayah itu. Apalagi Macang Tanggar berpotensi untuk menjadi desa wisata unggulan.

“Dua tiga tahun kedepan, saya akan perjuangkan supaya desa Macang Tanggar menjadi desa wisata unggulan,” ujarnya.

Ia juga mengarahkan agar pemerintah desa membuat proposal agar ia bisa memperjuangkan penyediaan fasilitas umum yang dibutuhkan warga setempat. Misalnya untuk mengatasi kesulitan air minum yang kerap dikeluhkan warga setempat.

“Kalau alokasi dari APBD II Mabar pembangunan air bersih itu kecil, maka kita perjuangakan dana APBD 1,” katanya.

Andre mengaku sudah berkali-kali meminta pemerintah desa Macang Tanggar untuk membuat proposal agar ia bisa memperjuangkannya ke Pemprov NTT.

“Tetapi sampai saat ini (proposal itu) belum juga ada. Saya siap bantu mendekati pemerintah provinsi demi kebutuhan air di wilayah ini,” ujarnya.

Abdul Hamis, Kaur Desa Macang Tanggar mengatakan warga di desanya kesulitan mendapatkan air bersih. Ia mengatakan debit airnya yang digunakan warga cukup besar. Namun jarak antara mata air dan pemukiman warga cukup jauh dan kemampuan anggaran untuk pengadaan pipa air sangat terbatas. Sehingga air yang sampai ke pemukiman warga sangat kecil.

“Kemampuan pipa tidak bisa membawa air ke sini. Bayangkan saja, dari mata air pipa 4 dim,sementara di tengah-tengah pipa 2 dim, dan memasuki bak penampung hanya pipa 1 dim. Akibatnya arus air kecil,” katanya.

Keluhkan Jalan Buruk

Selain kesulitan air minum, warga juga mengeluhkan kondisi jalan yang buruk. Haji Hasim, salah seorang tokoh masyarakat setempat, berharap Pemkab Mabar segera mengaspalkan jalan yang sudah mereka nantikan sejak lama.

“Sudah lama mereka datang ukur, tetapi sampai sekarang belum juga teralisasi,” ujarnya.

Akibat buruknya kondisi jalan menuju desa itu, kendaraan hanya bisa melintas saat musim kering. “Saat hujan tiba, kendaraan susah melintasi wilayah ini,” kata Hasim.

Pantauan Floresa.co, jalan menuju desa itu masih berupa jalan tanah. Jalan tersebut digusur sejak beberapa tahun lalu. Kawasan penyanggah Taman Nasional Komodo itu belum tersentuh aspal, meskipun hanya berjarak 10 kilo meter dari Labuan Bajo.

Ferdinand Ambo/EYS/Flores