BerandaARTIKEL UTAMASurat Dula untuk Djudje:...

Surat Dula untuk Djudje: Tanah 30 Ha Itu Milik Pemda Mabar

Labuan Bajo, Floresa.coBupati Manggarai Barat (Mabar), Agustinus Ch Dula menulis surat pekan ini kepada Haji Muhammad Adam Djudje, di mana isinya menegaskan bahwa lahan 30 ha yang kini jadi polemik adalah milik Pemda Mabar.

Salinan surat yang dikirim pada 30 April 2018 itu dengan nomor Pem.131/119/IV/2018 didapat Floresa.co pada Kamis, 3 Mei dan sudah dikonfirmasi kebenarannya oleh pihak internal Pemkab.

Surat itu merupakan jawaban Dula atas surat yang dikirim pihak Djudje pada 7 Maret lalu.

Dula menjelaskan, dirinya berterima kasih atas penjelasan Djudje yang menegaskan bahwa lahan 30 ha itu bernama Toro Lama Batu Kalo dan merupakan milik Djudje, sementara yang merupakan milik Pemda adalah bernama Karangan.

“Dalam penjelasan saudara bahwa lahan Pemda yang diserahkan secara adat oleh Fungsionaris Adat Alm. Haji Ishajka tahun 1997 adalah Karangan, bukan Toro Lama Batu Kalo,” tulis Dula.

“Sedangkan menurut Pemda, lahan yang diserahkan oleh Alm. H. Ishaka adalah Toro Lama Batu Kalo yang satu hamparan dengan Karangan dengan nama Karangan/Toro Lama Batu kalo seluas kurang lebih 30 ha,” jelasnya.

Dula menegaskan, pada tahun 2015, lahan itu sudah diukur oleh BPN Provinsi NTT dan BPN Mabar yang didampingi oleh ahli waris ulayat Nggorang dan pihak Pemkab Mabar, di mana gambar lokasi yang diukur sudah sesuai dengan peta tahun 1997.

“Menurut Pemda, lahan yang dimiliki itu adalah lahan yang secara fakta diukur oleh juru ukur yaitu di Toro Lama Batu Kalo (bukan di Karangan), sementara saudara menyebut lahan Pemda itu di Karangan, tetapi tidak diukur,” jelasnya.

BACA:

“Pemda tetap berkesimplan lahan milik Pemda adalah Toro Lama Batu Kalo yang tidak bertentangan dengan hasil pengukuran oleh tim Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat saat itu walaupun saudara mengajukan keberatan kepada tim pengukuran,” tegas Dula.

Djudje adalah pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan 30 ha itu, yang menurutnya didapat dari Fungsionaris Adat Nggorang pada tahun 1990.

Dalam sejumlah pernyataan kuasa hukumnya, ia menegaskan bahwa lahan miliknya bernama Toro Lama Batu Kalo, sementara milik Pemda adalah di Kerangan.

Sejumlah pihak sebelumnya sudah membantah klaim itu, termasuk BPN Mabar yang menegaskan bahwa lokasi lahan itu sebenarnya sama, hanya namanya yang disebut berbeda-beda.

ARL/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

KPK Tantang Gereja Katolik Audit Keuangan

Floresa.co - Seorang anggota senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menantang Gereja Katolik...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...