BerandaARTIKEL UTAMADisambar Petir, Rumah Warga...

Disambar Petir, Rumah Warga di Lamba Leda Hangus Terbakar  

Borong, Floresa.co – Malang menimpa keluarga Yohanes Safrudin, warga kampung Wodong, Desa Goreng Meni Utara, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT). Hujan deras disertai dengan petir yang mengguyur kawasan tersebut pada Sabtu, 24 Februari 2018 siang mendatangkan musibah bagi keluarga itu.

Sekitar pukul 13.30 Wita lidah petir menyambar rumah Yohanes dan dalam waktu sekejap rumah semi permanen seukuran 6×6 meter persegi itu ludes terbakar.

Meski tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, namun korban harus menderita kerugian dengan taksasi mencapai Rp.40 juta.

“Kejadian ini baru dilaporkan karena akses jalan ke lokasi sangat sulit dan tidak ada jaringan komunikasi HP,” ujar Kapolsek Lamba Leda Iptu Edy Sumirat, Minggu, 25 Februari 2018.

Sementara itu Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Daerah Matim, Antonius Dergong, mengaku belum menerima laporan bencana tersebut.

Namun instansinya segera mengecek informasi tersebut melalui Kepala Desa setempat.

“Bantuan darurat segera kami droping ketika laporan resmi dari Kepala Desa/Camat sudah kami terima. Terimakasi banyak informasi dan kerjasamanya,” ujar Antonius.

Informasi kejadian ini diterima floresa.co dari laporan Kapolsek Lamba Leda, Iptu Edy Sumirat, melalui Kasubag Humas Polres Manggarai, Ipda Daniel Jihu, Minggu pagi. (EYS/ARJ/Floresa).

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Perusahaan-perusahaan yang Pernah dan Masih Mengantongi Izin Investasi di Taman Nasional Komodo  

Selama sekitar dua dekade terakhir, Taman Nasional Komodo menjadi bancakan investor untuk mengais rupiah. Meskipun berstatus wilayah konservasi binatang purba komodo, namun perusahaan-perusahaan masih mendapat izin investasi.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Polemik Kenaikan Tarif Masuk: Ke mana Arah Pengelolaan Taman Nasional Komodo?

Jika pemerintah memang punya maksud serius untuk konservasi dengan membatasi kunjungan wisata [mass tourism], tetap ada jalan lain, misalnya mengatur lalu lintas wisata secara terjadwal. Kebijakan-kebijakan seperti ini seharusnya tertuang dalam Integrated Tourism Master Plan [ITMP]. Sayangnya, ambisi mengambil untung menutup mata pemerintah dalam pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi.

Catatan Sosialisasi Kenaikan Tarif ke TN Komodo: Irman Firmansyah Ajak Berdebat Secara’Akademis’ dan Pelaku Wisata yang Kukuh Menolak  

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Irman Firmansyah memantik keributan dalam ruangan setelah mengajak siapapun untuk berdebat, dengan catatan lawannya tersebut ialah seorang akademisi. “Kalau ada yang mau berdebat akademik, saya ‘open’, tapi sesama akademisi. Kalau yang tidak juga nanti akan habis waktu,” ujarnya.