BerandaARTIKEL UTAMAMusisi di Bali Donasi...

Musisi di Bali Donasi Rp 10 Juta untuk Bayi Asal Matim

Denpasar, Floresa.co – Bantuan terus mengalir untuk keluarga bayi Thomas Aquino Goang dari Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lahir tanpa lubang anus dan menderita penyakit bocor jantung.

Kini, Thomas bersama orangtuanya Gregorius Goang dan Yuliana Mei sedang berada di Bali untuk menjalani perawatan.

Hari ini, Kamis, 22 Februari 2018, para musisi di Denpasar yang bergabung dalam kelompok ‘‘Musisi Bali Peduli’’ mendatangi penginapan keluarga Thomas, di kos-kosan Jalan Tukad Banyusari. Mereka membawa bantuan Rp 10 juta.

Aksi sosial yang langsung diarahkan oleh musisi ternama di Bali itu yaitu D’Go Vaspa, Jun Bintang, Lebri, Hanz, Alit dan Kakul disambut dengan sangat haru oleh keluarga Thomas.

Air mata pun bercucuran dari mata orangtua Thomas.

Jun Bintang mengatakan kepada Floresa.co, dirinya dan D’Go Vaspa sudah mendengar informasi tentang Thomas dari sejumlah pihak sejak dua hari lalu.

“Yang kita dengar, kalau keluarga ini berasal dari luar Pulau Bali dan sangat membutuhkan biaya tambahan,” katanya.

Merasa perihatin dengan kisah keluarga Thomas, kata dia, mereka pun memilih menyisihkan dana kemanusiaan.

Ia menjelaskan, perkumpulan musisi yang terbentuk sejak 4 bulan lalu ini lahir saat bencana alam lentusan Gunung Agung di Karangasem, Bali, di mana ada banyak korbang pengungsian.

“Sejak saat itu, kami melakukan aksi ngamen massal. Dan, memang hasilnya hampir ratusan juta yang kita dapat,” katanya.

Dari dana sisa untuk para pengungsi itu, mereka bersepakat mengalokasikannya untuk aksi kemanusiaan. “Dan salah satunya untuk Thomas ini,” jelasnya.

D’Go Vaspa menambahkan, terkait jumlah sumbangan untuk keluarga Thomas,  sudah dikomunikasikan dengan semua anggota perkumpulan yang mencapai 60-an orang.

“Jadi, tugas kita memang di samping menghibur masyarakat, juga berbagi bila ada yang membutuhkan,” pungkas D’Go.

Ia pun berharap, semoga aksi sosial ini, bisa memancing banyak orang di Bali untuk bisa saling peduli terhadap sesama.

“Soal membantu, kita tidak boleh memilah-milah, pokoknya semampu kita dan siapa pun mereka, karena kita semua sama,” katanya.

“Dan juga, yang paling penting, aksi kami ini betul-betul tulus sesuai visi kami. Di sini, kami tidak ingin mencari popularitas,” lanjutnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keluarga Thomas yang berasal dari Sok, Desa Compang Ndejing sudah 4 bulan berada di Bali.

Thomas merupakan pasien rujukan RSUD Ben Mboi Ruteng yang harus mendapat perawatan intens di RSUP Sanglah.

Bayi yang lahir pasca 15 tahun pernikahan orangtuanya itu tidak memiliki lubang anus dan kini ditimpa penyakit lain, yaitu bocor jantung.

BACA JUGA:

Disaksikan Floresa.co, Thomas hanya terlihat berbaring lemas di atas tempat tidur. Ia sesekali menangis.

Thomas harus bisa kuat melawan waktu hingga menunggu jadwal operasi bertahap, yang didahului penanganan bocor jantung, lalu kemudian pembuatan lubang anus.

“Beberapa Minggu kemarin kami memang rawat inap di RSUP Sanglah, tapi sejak dua hari lalu, kita sudah diijinkan pulang. Namun, kami tetap menjalani rawat jalan,” kata Gregorius.

“Untuk sementara, kita tinggal di kos dulu,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, Thomas belum bisa dioperasi karena kondisi fisiknya belum stabil.

Ia pun sangat berharap, bisa segera mendapat kepastian dari pihak dokter. “Karena kita dengar juga informasi bahwa proses penyembuhan anak kami ini memakan waktu yang lama,” katanya.

“Saya minta dukungan doa dan terima kasih banyak bagi semua orang yang sudah banyak membantu,” lanjut Gregorius.

Aksi sosial untuk meringankan beban orangtua Thomas juga dilakukan oleh kalangan mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa NTT (Amanat).

Mereka memilih turun ke jalan untuk mengamen. Kepada Floresa.co, Rovinus Bou, ketua aliansi itu mengatakan, jumlah dana yang mereka peroleh lumayan.

Total yang mereka kumpul selama dua hari mencapai Rp. 1.825.000. “Kami sudah serahkan langsung kepada orangtua Thomas,” ungkapnya.

Remigius Nahal/ARL/ARJ/Floresa.co

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Perusahaan-perusahaan yang Pernah dan Masih Mengantongi Izin Investasi di Taman Nasional Komodo  

Selama sekitar dua dekade terakhir, Taman Nasional Komodo menjadi bancakan investor untuk mengais rupiah. Meskipun berstatus wilayah konservasi binatang purba komodo, namun perusahaan-perusahaan masih mendapat izin investasi.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Polemik Kenaikan Tarif Masuk: Ke mana Arah Pengelolaan Taman Nasional Komodo?

Jika pemerintah memang punya maksud serius untuk konservasi dengan membatasi kunjungan wisata [mass tourism], tetap ada jalan lain, misalnya mengatur lalu lintas wisata secara terjadwal. Kebijakan-kebijakan seperti ini seharusnya tertuang dalam Integrated Tourism Master Plan [ITMP]. Sayangnya, ambisi mengambil untung menutup mata pemerintah dalam pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab pada aspek sosial, ekonomi, dan ekologi.

Catatan Sosialisasi Kenaikan Tarif ke TN Komodo: Irman Firmansyah Ajak Berdebat Secara’Akademis’ dan Pelaku Wisata yang Kukuh Menolak  

Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Irman Firmansyah memantik keributan dalam ruangan setelah mengajak siapapun untuk berdebat, dengan catatan lawannya tersebut ialah seorang akademisi. “Kalau ada yang mau berdebat akademik, saya ‘open’, tapi sesama akademisi. Kalau yang tidak juga nanti akan habis waktu,” ujarnya.