BerandaARTIKEL UTAMABayi yang Lahir di...

Bayi yang Lahir di Usia ke-15 Tahun Pernikahan: Tanpa Lubang Anus, Jantung Pun Bocor

Denpasar, Floresa.coButuh waktu bertahun-tahun bagi pasangan Gregorius Goang (48) dan Yuliana Mei (33) untuk mendapat karunia anak.

Thomas Aquino Goang, putra tunggal mereka lahir tahun lalu di usia ke-15 tahun pernikahan.

Namun, berkah itu hadir sekaligus dengan ujian berat.

Thomas keluar dari kandungan dalam kondisi tanpa lubang anus, yang membuatnya harus segera mendapat perawatan medis untuk bisa bertahan hidup.

Keluarga asal Kampung Sok, Desa Compang Ndejing, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) ini segera mengambil langkah, membawa bayi itu ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Ben Mboi di Ruteng.

Di sana, Thomas menjalani operasi kolostomi, membuat lubang di bagian perutnya.

Namun, tantangan bagi keluarga ini tidak hanya sampai di situ.

Beberapa bulan lalu, Thomas lagi-lagi divonis menderita penyakit lain yang tidak kalah berat: jantungnya bocor.

Karena keterbatasan fasilitas dan tenaga medis  di RSUD Ben Mboi, pengobatan Thomas pun dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah di Denpasar, Bali.

“Di Bali, kita sudah hampir empat bulan lebih,” kata Gregorius saat ditemui di RS Sanglah.

Sejak awal, pihak rumah sakit menyarankan mereka untuk menjalani rawat jalan, hal yang kata dia memicu masalah lain.

Selama “proses rawat jalan, kondisi anak saya semakin parah,” katanya.

Melihat situasi demikian, pada Rabu lalu, 7 Februari, pihak RS memutuskan agar Thomas dirawat inap.

Kini, keluarga kecil ini melewati hari-hari mereka di Ruangan Angsoka, Lantai 3 Nomor 5, RS Sanglah.

Di ruangan itu, Thomas tampak hanya berbaring lemas. Sesekali, ia menangis ketika hendak buang air besar. 

Kata Gregorius, sakit anaknya makin kompleks. Tidak hanya bocor jantung dan haemoglobinnya rendah, tetapi juga demam, batuk dan pilek.

“Bahkan pernah, karena demam, bibirnya berwarna coklat kehitam-hitaman. Makanya, saya dan istri saya sangat cemas,” kata pria yang berprofesi sebagai petani ini sambil menitikan air mata.

Ia menjelaskan, para dokter sudah berjanji akan segera menangani Thomas.

“Yang saya dengar dari dokter, masih akan tetap dirawat intens, tetapi masih butuh waktu lama (untuk operasi),” katanya.

Ia menjelaskan, ditargetkan sekitar 2 atau 3 bulan lagi.

“Sebenarnya dari hari Kamis kemarin sudah ditangani untuk operasi, tapi karena kondisi fisik dari anak saya belum fit karena sering panas, makanya ditunda dulu,”  katanya.

Operasi jantung, jelasnya, akan jadi prioritas, baru setelahnya pembuatan lubang anus.

Ia mengatakan, biaya untuk rumah sakit ditanggung oleh BPJS. Namun, ia mengaku kini butuh biaya lain, selama mereka ada di Bali.

“Untuk kebutuhan hidup serta pembelian obat membutuhkan biaya yang cukup banyak. Saya sangat berharap, kami bisa mendapat perhatian khusus dari pemerintah,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelum ke Bali, mereka sudah mengajukan berkas permohonan bantuan ke Dinas Sosial Matim.

Namun, kata dia, pihak dinas menjawab, bantuan belum bisa diberikan karena ada masalah yang tidak dijelaskan secara rinci.

Dinas Sosial pun mengarahkan dirinya untuk coba membawa berkas tersebut ke Bagian Kesejahteraan Masyarakat.

Namun, katanya, sejak itu belum ada tindak lanjut dari para birokrat di kabupaten yang dipimpin Bupati Yoseph Tote itu.

Remigius Nahal/ARL/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....