BerandaPOLITIKSidang Kasus Lando-Noa Kembali...

Sidang Kasus Lando-Noa Kembali Ungkap Peran Bupati Dula

Floresa.co – Sidang lanjutan kasus korupsi proyek jalan Lando-Noa di Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat dengan tersangka Jimi Ketua terus bergulir di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Kupang.

Jimi adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dalam kasus degan kerugian negara sekitar Rp 1 miliar itu.

Dalam sidang Selasa, 30 Januari 2018, lima orang saksi dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk memberi keterangan, termasuk dua orang yang sudah divonis penjara terkait kasus ini, yakni Kepala Dinas PU, Agus Tama dan kontraktor perlaksana, Vinsen Tunggal, direktur PT Sinar Lembor Indah.

Anton Ali, kuasa hukum Jimi mengatakan, pasca pembacaan dakwaan dari JPU dalam sidang sebelumnya, pihaknya tidak melakukan eksepsi, tetapi langsung meminta JPU mendatangkan para saksi.

“Dari keterangan para saksi, tidak jauh berbeda dengan yang ada di BAP (Berita Acara Pemeriksaan – red) polisi,” katanya.

“Dalam fakta persidangan, tetap diungkapkan bahwa yang menunjuk PT Sinar Lembor Indah adalah bupati,” ujar Anton.

“Bupati yang menunjuk lebih dulu,” katanya.

Keterangan para saksi itu, kata dia, tidak berbeda jauh dengan apa yang sudah disampaikan dalam kesempatan sebelumnya.

“Tidak ada yang baru. Hanya saja, pengakuan kontraktor Vinsen Tunggal bahwa dia sudah habikan dana Rp 1 miliar lebih memperbaiki jalan itu, pasca proyek itu di-PHO (provision hand over/serah terima pertama – red),” katanya.

“Dia bilang kerja berkali-kali, karena curah hujan tinggi,” katanya.

Sidang lanjutan kata Anton dijadwalkan pada 13 Februari mendatang.

Perihal mengungkap peran Dula dalam kasus ini, bukan cerita baru.

Anton sendiri sebelumnya mengatakan, proyek  itu dikerjakan atas surat disposisi bahwa terjadi bencana alam di Mabar yang dibuat Bupati Dula.

Disposisi itu, menjadi kekuatan bagi Pemda Mabar untuk menggelontorkan APBD kabupaten Rp 4 miliar. Jalur Lando-Noa merupakan jalan provinsi.

“Klien saya bekerja sesuai dengan perintah,” kata Anton pada April tahun lalu.

Sementara itu, Aleks Tunggal, ayah dari Vinsen Tunggal juga sebelumnya mengaku bahwa pengerjaan proyek itu dilakukan atas perintah dan arahan Bupati Dula.

“(Saya) diperintah bupati. Ia minta segera memulai pengerjaan. Bupati minta tolong dan bilang, segera turunkan alat berat,” katanya. “‘Tolong saya punya rakyat’” ujar Aleks, mengutip pernyataan Dula.

Ia mengatakan, dalam telepon itu Dula menjelaskan, ada undang-undang yang mengatur terkait kondisi emergency atau darurat.

“Tidak usah takut, tolong bantu rakyat saya dulu, mereka sudah maki-maki saya,” katanya.

Ferdinand Ambo/ARL/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.