BerandaPOLITIKProyek Lando-Noa, Mengapa Harus...

Proyek Lando-Noa, Mengapa Harus Pakai Dana APBD Mabar?

Floresa.co – Proyek jalan Lando-Noa di Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) yang hingga kini ramai dibicarakan karena adanya indikasi korupsi dalam proses pengerjaannya, dibiayai dengan dana APBD Mabar.

Pemkab Mabar beralasan, kebijakan memakai dana APBD kabupaten untuk memperbaiki jalan yang seharusnya menjadi tanggung jawab provinsi itu, merupakan respon atas situasi darurat yang dialami masyarakat.

Karena itulah, mereka menyediakan dana APBD 2014 senilai Rp 4 miliar.

Agar dana itu bisa cair, Bupati Dula membuat disposisi bahwa terjadi bencana alam di daerah wilayah Lando-Noa. Penetapan status bencana itu menjadi kunci untuk bisa menyalurkan dana dari kas daerah.

Usai diperiksa kedua kali di Polres Mabar pada Sabtu, 30 September 2017 terkait kasus ini dengan status sebagai saksi, Bupati Dula menegaskan kembali bahwa disposisi soal bencana itu diambil setelah ada telaahan dari Dinas Pekerjaan Umum (PU).

“Ada telahan sfaf dari Dinas PU, memohon supaya bupati keluarkan surat pernyaatan bencana alam, karena itu satu-satunya persyaratan agar cepat ditangani mengatasi kondisi darurat,” katanya.

Wartawan sempat menanyakan kepada Dula, jika itu bencana alam, mengapa tidak menggunakan dana yang memang khusus dialokasikan untuk bencana alam atau dana tak terduga.

Dula pun menjawab, “di lokasi yang sama sudah dianggarkan melalui APBD,” katanya.”

“Lebih baik dana tak terduga itu dipakai periode berikutnya, siapa tahu ada bencana. Makanya, kita lebih baik pakai dana yang ada, daripada ada pendobelan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dula menjelasakan, dirinya diperiksa kedua kali dalam kasus ini karena ada permintaan pemeriksaan ulang dari pihak kejaksaan.

Pertanyaan yang disodorkan, jelasnya, tak beda jauh dengan pemeriksaan sebelumnya.

“Pertanyaan tetap dari kejaksaan. Jadi menambah kembali dari (pemeriksaan) yang lalu. Ditanyakan kembali, dan kami jawab kembali,” ungkapnya.

Dula menegaskan bahwa dirinya siap untuk kembali hadir, apabila aparat kepolisian maupun kejaksaan masih membutuhkan keterangan lanjutan darinya selaku kepala daerah.

“Soal jadwal sidang lanjutan, saya belum tahu. Tetapi intinya saya siap,” katanya (Ferdinand Ambo/ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.