BerandaARTIKEL UTAMAJangan Pernah Main-main dengan...

Jangan Pernah Main-main dengan Campak dan Rubella

Floresa.co – Mulai 1 Agustus 2017, pemerintah telah melaksanakan imunisasi nasional vaksin gratis campak dan Rubella. Vaksinasi akan diberikan di sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP di enam provinsi di Pulau Jawa.

Sementara di luar Pulau Jawa juga bakal dilaksanakan tahun depan. Merujuk data Kementerian Kesehatan, sasaran dari program imunisasi ini 75 persen di antaranya berusia 7-15 tahun. Sisanya berusia enam tahun ke bawah.

Lalu mengapa imunisasi ini penting?

Masyarakat, khususnya para orang tua banyak yang belum mengetahui efektivitas vaksinasi campak dan rubella harus diberikan secara berulang. Imunisasi campak dan rubella dapat memberikan kekebalan yang sangat tinggi, hingga lebih dari 90 persen. Namun, vaksinasi harus dilakukan berulang.

Tidak cukup waktu kecil saja, perlu ada pengulangan. Masalah yang terjadi di Indonesia banyak orang tua yang lupa bahwa setelah akan masuk sekolah harus diulangi lagi vaksinnya. Virus campak dan rubella tak dapat dihindari jika anak-anak belum kebal terhadap virusnya.

Direktur Surveilans Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Jane Soepardi mengatakan, rubella merupakan campak Jerman yang seringkali tak menimbulkan gejala. Banyak masyarakat belum familiar dengan virus tersebut.

Tanda-tandanya mirip seperti campak tetapi lebih ringan.

“Tidak bergejala jadi orang mana tahu. Campak dan rubella ini dua-duanya virusnya menyerang anak, penyakit anak. Kalau tak diintervensi sebelum 15 tahun, kami khawatir ibu hamil yang terinfeksi bisa sebabkan cacat bawaan pada buah hatinya,” kata dia.

Sayangnya, kata Jane, vaksin campak dan rubella dalam 20 tahun terakhir yang masuk ke Indonesia masih impor dan hanya bisa dibeli oleh kalangan menengah ke atas.

Dengan adanya vaksin tersebut, virus rubella pun menurun. “Virus campak dan rubella hanya ada di tubuh manusia. Imunisasi itu menyebabkan virus menurun tapi bolong-bolong enggak rata hanya diberikan pada menengah ke atas. Karena itu ayo bertekad bebaskan virus ini tahun 2020.”

Berikut ini adalah video tentang pengakuan para orang tua yang anaknya terkena penyakit campak dan rubella.

(ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.