Alumni Sanpio angkatan 1973 berpose di depan kapel Sanpi. (Foto: Facebook Rm Dion Labur Pr)

Floresa.co – Sukacita meliputi komunitas Seminari Pius XII Kisol (Sanpio), sebab para alumni yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah itu periode 1973-1979 mengunjungi alma mater mereka, Jumat, 27 Juli 2017.

Para pembina bersama para guru menyambut kedatangan para alumni 73’ secara adat Manggarai dengan kepok yang dibawakan oleh Fr Valdy Karitas.

Para alumni kompak dengan mengenakan seragam kaus berkerak berwarna merah dengan tulisan angka 73’ pada bagian depan baju. Rombongan mereka dikomandoi oleh Bapak Agus Kabur, yang kemudian menjawab kepok mewakili teman-teman angkatannya.

Para alumni kemudian diajak untuk beristirahat sejenak, sambil menikmati ubi dan kopi.

Praeses Seminari Pius XII Kisol, Romo Dyonysius Osharjo Pr dalam sambutannya mengingatkan bahwa Sanpio adalah ibu.

“Seorang ibu, selalu merindukan anak-anak yang pernah dirahiminya untuk kembali”, katanya.

Ia lantas memperkenalkan kondisi terkini seminari dan semua anggota komunitas juga para pembina dan para guru yang hadir. 

Setelah ramah-tamah di pendopo seminari, para alumni bertatap-muka bersama para seminaris bertempat di aula.

Setiap alumni diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Mereka mempunyai kenangan yang beragam ketika menjadi seminaris di era 70-an.

Ada yang pernah menjadi pemain bola hebat, menjadi ketua osis, pengurus kuburan, menjadi koster, dan pengurus orang sakit. Semuanya diakui telah membentuk karakter mereka hingga saat ini.

Mengukir Kisah Sukses

Para alumni datang dengan beragam latar belakang kesuksesan. Ada yang sukses sebagai seorang imam. Ada pula yang sukses sebagai tokoh masyarakat, dosen, guru, aparatur sipil negara, pekerja media, dan sebagainya.

Sosok yang paling menyedot perhatian adalah Pemred Metro TV, Bapak Don Bosco Selamun.

Ia merasa bersyukur pernah mengenyam pendidikan selama 6 tahun di Sanpio. Baginya, hal yang paling berkesan tatkala menjadi seminaris adalah pengalaman berorganisasi. Pada waktu dan tempat tertentu orang bisa menjadi pemimpin, tetapi di saat dan tempat yang lain ia bisa menjadi anak buah.

“Saat tertentu anda ketua osis, tetapi di kelas anda adalah warga kelas dan taat pada pemerintahan kelas,” katanya.

“Hal ini jarang ditemukan di tempat lain”, lanjutnya.

Don Bosco Selamun, alumni Sanpio yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Metro TV sedang berbincang-bincang dengan para seminaris. (Fptp: Facebook Rm Dion Labur Pr)

Diakui oleh beberapa orang alumni bahwa prinsip-prinsip hidup yang ditanam sejak masuk seminari, menjadi prinsip hidup mereka masing-masing.

Bapak Ferdi Lehot dengan tegas mengungkapkan “Say yes, it is yes. Say no, it is no” sebagai prinsip hidup yang didapatnya dari didikan seminari. Prinsip ini membawanya kemana-mana.

Sedangkan Pater Bernad Raho SVD lebih menekankan ‘pelajaran kesusahan’ yang didapatnya di seminari sebagai kunci kesuksesannya.

Berkat ‘program kesusahan’, dirinya terbantu untuk mengatasi beragam kesulitan dan tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan sebagai seorang imam.

Pater Bernad juga menekankan agar para seminaris dilatih untuk mengenal kesusahan sejak kecil mengingat instantisme yang sedang merasuki dunia dewasa ini.

Buku Untuk Sanpio

Kunjungan para alumni angkatan 73’ diakhiri dengan penyerahan buku secara simbolis oleh Bapak Don Bosco Selamun kepada Rm Praeses Seminari Pius XII Kisol, Romo Dyonysius Osharjo Pr. Para alumni juga berjanji untuk mengirim buku-buku bermutu secara berkala bagi Seminari Pius XII Kisol.

“Jangan menjadi sekolah yang standar, harus di atas rata-rata” demikian pesan Bapak Don menutup sambutannya dalam sesi penyerahan buku.

Janji ini lantas mendapat sambutan dan tepuk tangan dari para seminaris, sebab bukan menjadi cerita baru jika seminaris selalu mempunyai minat baca yang tinggi. Hadiah buku dari para alumni akan menambah referensi bacaan di perpustakaan.

Mereka juga tidak lupa menitipkan harapan agar Seminari Kisol tetap menjaga mutu pendidikan dan pembinaan, mengingat kuantitas seminaris yang berbeda dengan kuantitas zaman mereka.

Jumlah seminaris yang mencapai angka 500-an siswa menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendidikan dan pembinaan.

Setelah tatap-muka berakhir, para alumni dijamu makan siang bersama bertempat di kamar makan para pembina. Para alumni juga mendapat kenang-kenangan berupa sebuah buku biografi tentang Pater Frans Mido SVD.

Selanjutnya mereka meluangkan kesempatan untuk berkeliling kompleks seminari sambil mengambil gambar di beberapa tempat kenangan.

Tepat pukul 15.00 para alumni 73’ meninggalkan Seminari. Terima Kasih untuk kunjungannya, Sanpio selalu merindukan kalian. Viva Sanpio. (Laporan Fr Lolik/ARL/Flores)