Floresa.co – Seorang imam di Keuskupan Ruteng mengingatkan umat untuk mengambil sikap hati-hati terkait polemik di keuskupan itu yang memanas selama sebulan terakhir.

Imam itu, Pastor Paroki Borong, Rm John Mustaram Pr menyampaikan peringatan dengan nada mengancam dalam kesempatan pengumuman sebelum mengakhiri Misa Pernikahan di Stasi Jawang, 27 Juni lalu.

Mengambil sikap berseberangan dengan puluhan imam yang memilih kontra dengan Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng, dalam pengumumannya itu, Rm John mewanti-wanti umat untuk tidak perlu mengikuti langkah para imam.

“Pastor yang menghina uskup, dia tidak punya isteri anak, kalau dia dikutuk, dia mati sendiri,” kata Rm John.

“Tapi, kalau umat yang punya keluarga terlibat menghina uskup, memfitnah uskup, nanti kena kutukan (juga),” lanjutnya.

Ia menambahkan, “kalau suaminya ikut (menghina uskup), isteri anak yang kena (kutukan). Kalau isteri yang ikut, suami dan anak yang kena.”

“Ingat itu baik-baik!” tegasnya.

Ia menyatakan, uskup tidak dipilih oleh umat dan oleh para pastor, tetapi ditunjuk oleh Vatikan.

BACA: Media Vatikan Publikasi Berita Terkait Polemik di Keuskupan Ruteng

“Karena itu, (siapapun) tidak punya wewenang memecat uskup selain Vatikan. Dan saya berharap, umat tidak terpengaruh dalam soal ini,” ungkapnya.

Ia juga meminta agar umat tidak ikut-ikutan menghina uskup lewat media massa, termasuk media sosial.

“Banyak yang getol sekali menulis di media sosial. Hati-hati! Menghina imamat uskup itu sangat berbahaya,” katanya.

Pernyataan Rm John dalam Misa itu didapat Floresa.co dari rekaman yang sudah viral di sejumlah grup Whats App dan kini  salinan rekaman itu ada pada Floresa.co.

Rm John juga menuding para imam yang mengkritik uskup berupaya “menjual nama umat.”

“Katanya uskup meminta stipendium di paroki-paroki. Saya kira itu mengada-ada. Banyak imam berpengalaman bahwa uskup tidak pernah minta stipendium,” katanya.

Ia juga mengkritisi klaim bahwa setiap kali uskup berkunjung ke paroki, umat merasa kehadiran uskup itu adalah skandal bagi umat.

“Itu umat di mana? Umat di paroki mana yang pernah menolak uskup? Kita tidak pernah mendengar bahwa uskup ditolak oleh umat,” katanya.

“Bagaimana kelompok imam ini mengatakan bahwa umat telah menolak uskup,” lanjutnya.

Dalam rekaman pengumuman itu, Rm John juga mengkritik upaya pengunduran diri para imam, termasuk atasannya Vikep Borong, Rm Simon Nama Pr.

Menurut dia, mereka seharusnya sudah meninggalkan tempat tugas.

“Karena begini, jabatan Vikep, jabatan Vikjen, jabatan pastor paroki adalah jabatan pemberian dari uskup. Vikep itu pembantu uskup di lapangan. Nah, kalau Vikep yang diangkat uskup itu berseberangan dengan uskup, seharusnya mengundurkan diri, tanpa tunggu diberhentikan,” katanya.

Ia menambahkan, demikian juga pastor paroki. “Saya selaku pastor paroki menjalankan tugas uskup. Nah, ketika saya menolak uskup, berseberangan dengan uskup, saya seharusnya mengundurkan diri dari tugas sebagai pastor paroki dan harus meninggalkan tempat tugas,” ungkapnya.

Ia lalu mengecam para imam yang tidak juga meninggalkan tempat kerja.

“Sudah menjual umat sebagai suatu penipuan besar bahwa umat menolak uskup, sesudah itu mengundurkan diri, tapi ngotot tetap tinggal di tempat kerja. Penipuan luar biasa,” katanya.

Dalam rekaman itu, Rm John juga secara eksplisit mengkritik Rm Simon yang beberapa waktu lalu menggelar pertemuan dengan anggota dewan dan tokoh masyarakat di Borong.

Ia mengatakan, pertemuan itu tanpa persetujuannya sebagai pastor paroki.

Menegaskan sikapnya membela Uskup Leteng, ia mengatakan sudah delapan Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Borong yang menemui uskup dan menyampaikan sikap mereka.

“(Mereka) setia mendukung uskup yang sah, menolak segala pemfitnaan, segala caci maki yang diarahkan kepada uskup,” katanya.

Di bagian akhir pengumumannya, ia juga menjelaskan bahwa ada tiga Vikep yang menolak uskup, yakni Vikep Borong, Vikep Reo dan Vikep Labuan Bajo.

Hanya satu vikep saja yang tidak menolak, yakni Vikep Ruteng, katanya.

Ia pun menanyakan kepada umat, “Mau ikut ketiga Vikep atau mau ikut satu Vikep?”

Umat kemudian terdengar menjawab, “Mau ikut satu Vikep,” lalu ia kembali menegaskan, “Jangan ikut disesatkan.”

Terkait isi rekaman pengumuman itu, Floresa.co sudah mengonfirmasinya kepada Rm John pada Kamis, 13 Juli 2017.

Dalam tanggapannya, ia menyatakan, apa yang ia sampaikan adalah urusan internal paroki, dan karena itu “tidak bisa dijadikan konsumsi media tanpa persetujuan” dari dirinya.

Ia menjelaskan, pengumuman itu yang bertujuan untuk menyadarkan umat dalam paroki, adalah kepentingan paroki.

Ia menambahkan, terkait polemik di keuskupan, pihaknya tidak membenarkan siapa pun. “Kami cuma tidak setuju dengan cara-cara yang dipakai untuk memojokkan uskup,” katanya.

Ia mengurai, ada pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungwabkan, seperti tudingan praktek simoni (menjual sakramen) dan uskup ditolak umat di paroki.

“Itu di mana? Jangan ada generalisasi. Media massa juga harus bisa membuktikan data sebelum dimuat dan harus konfirmasi kebenaran data,” katanya.

Rm John tidak memberi tanggapan terhadap pertanyaan Floresa.co terkait apakah ada ajaran Gereja Katolik yang memberi kuasa mengutuk bagi para imam atau uskup.

Ia juga tidak merespon pertanyan mengapa ia menyampaikan masalah itu dalam momen Misa Pernikahan.

Meski ia menolak untuk mempublikasi isi pengumumannya itu, namun, redaksi Floresa.co mengambil posisi sebaliknya, dengan pertimbangan besarnya dampak pernyataannya sekaligus memberi ruang bagi sejumlah pihak yang ia tuding untuk memberi klarifikasi.

Kritikan

Dihubungi terpisah, Romo Simon Nama mengatakan, ia menyayangkan pernyataan Rm John itu.

“Harusnya membicarakan polemik di keuskupan pada momen yang sesuai. Sangat disayangkan bahwa hal itu disampaikan dalam Misa Pernikahan,” katanya.

Ia menjelaskan, dirinya memang pernah menggelar rapat dengan tokoh umat.

Namun, jelasnya, rapat itu dalam rangka menjelaskan alasan sikapnya dan puluhan imam lain, agar tidak menimbulkan kebingunan di tengah umat.

“Kami menjelaskan masalahnya kepada umat, namun tidak dengan tujuan mengarahkan mereka untuk mengikuti sikap kami. Umat punya pilihan bebas,” lanjutnya.

Penyelenggaraan rapat itu, menurut dia, juga berdasarkan rekomendasi salah satu rapat beberapa waktu lalu dengan Vikjen, Rm Beni Bensi Pr.

“Kami para Vikep diminta untuk mengumpulkan DPP paroki untuk menjelaskan polemik yang terjadi belakangan,” katanya.

Sementara itu, Rm Robert Pelita Pr, Vikep Labuan Bajo, yang ikut disinggung Rm John mengatakan, pernyataan-pernyataan Rm John sangat murahan.

“Bagaimana dia mendukung orang yang bersalah dengan pernyataan-pernyataan yang sangat naif, bukannya memberi pencerahan kepada umat,” katanya.

Ia pun mengingatkan, “jangan membangun iman umat di atas fundasi yang rapuh.”

“Mengancam orang dengan kutukan hanya menumbuhkan iman yang dangkal. Orang patuh pada Tuhan karena ada ketakutan,” katanya.

Ia menambahkan, dalam pengumumannya Rm John tidak menjelaskan pokok tudingan para imam yaitu terkait penyalahgunaan uang dan soal dugaan pelanggaran janji selibat oleh Uskup Leteng.

“Artinya ia hanya menyentuh pucuk persoalan, akarnya tidak,” katanya.

Sementara itu Rikard Rahmat, umat Katolik Manggarai diaspora yang ada di Jakarta mengatakan, “ancaman kutukan itu primitif.”

“Para pastor seharusnya melihat krisis yang terjadi dengan hati dan kepala yang bening. Kalau ada yang salah, akui dan katakan ada yang salah. Itu yang diinginkan umat sekarang,” katanya.

“Skandal ini sudah sangat jelas dan nyata, jangan ditutup-tutupi, apalagi pura-pura tidak tahu,” lanjut Rikard.

Ia menegaskan, satu-satunya yang perlu dibela adalah iman umat dan masa depan Gereja Keuskupan Ruteng.

“Ini juga seharusnya menjadi kepentingan Uskup Ruteng. Pengakuan bahwa uskup telah terlibat dalam skandal yang serius setidaknya meringankan penderitaan umat. Perlu jiwa besar untuk mengakui dan meminta maaf,” katanya.

“Semakin uskup berlagak seolah tidak ada apa-apa, semakin rusak Gereja Keuskupan Ruteng.”

Pastor Peter C Aman OFM, imam Fransiskan asal Manggarai yang kini mengajar teologi moral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta mengatakan, Rm John sudah nendiskreditkan para pastor di depan seluruh umat.

Ia menambahkan, pengumuman yang ia sampaikan dalam Misa itu tidak bermakna karena umat sudah tahu persis apa yang terjadi.

“Berupaya menutup mata hati umat terhadap fakta yang sudah jadi buah bibir, ibarat menegakkan benang basah,” katanya.

Ia menjelaskan, sangat tidak relevan memanfaatkan mimbar untuk membicarakan masalah itu, apalagi di dalam Misa Pernikahan.

“Orang yang bersukacita akhirnya diancam dengan kutukan,” tegas Pastor Peter.

Penyelewengan dan Skandal

Polemik di Keuskupan Ruteng mulai mencuat ketika pada 12 Juni lalu, 69 imam menyatakan mengundurkan diri dari sejumlah jabatan karena kecewa pada Uskup Leteng.

Uskup itu dituding menyelewengkan dana yang diambil dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan dari keuskupan yang jumlahnya mencapai lebih dari 1,6 Miliar.

Mereka menyatakan kecewa karena dalam beberapa kali pertemuan dan dialog dengan uskup, mereka tidak mendapat jawaban yang memuaskan soal pengggunaan dana itu.

Uskup hanya menyatakan, dipakai untuk membiayai kuliah Boy, anak orang miskin yang sedang studi pilot di Amerika Serikat.

Namun, para imam meragukan alasan itu dan mencurigai bahwa uang itu dipakai uskup untuk dikirimkan kepada seorang perempuan, yang diakuinya sebagai anak angkat.

Uskup Leteng dilaporkan memiliki relasi intim dengan perempuan itu, menurut penuturan Sipri Palus, seorang mantan pastor yang mengaku mengetahui banyak informasi soal Mgr Huber dengan perempuan tersebut.

Hingga kini, Mgr Hubert tidak pernah membantah, juga tidak mengakui tudingan terhadap dirinya.

Beberapa kali permintaan Floresa.co untuk mengklarifikasi tudingan itu tidak direspon Uskup Leteng. (ARL/ARJ/Floresa)