BerandaARTIKEL UTAMAMari Berjalan Bersama

Mari Berjalan Bersama

Oleh: EDEL JENARUT

Para sahabat yang baik, kita semua pernah miskin dan bahkan mungkin masih miskin. Kita tidak memiliki apa apa.

Mengapa kita ingin mempertahankan Pantai Pede di Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk menjadi seperti Pantai Kuta di Bali, semata-mata karena memikirkan kita yang ternyata masih miskin.

Berjuang agar Pantai Pede tetap menjadi ruang terbuka adalah berjuang bagi teman-teman yang tidak punya kekuatan ataupun kemampuan finansial hanya untuk mendapatkan kesenangan gratis.

Mungkin, beberapa dari kita sekarang, sudah bisa menginap di hotel-hotel – yang dengan kekuasaannya, mampu mengklaim indahnya matahari dari terbit hingga terbenamnya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mampu? Siapa yang berdiri bersama mereka?

Kamu bilang, semua “sah demi hukum”. Hukummu itu berpihak pada siapa?

Coba lihat, Hotel Sylvia dan Hotel Ecolodge. Di tempat itu, sempadan pantai telah diklaim pemilik hotel. Tidak ada masyarakat yang bebas lalu lalang. Bahkan, saat melintas saja pun dilarang berisik.

Sebagian dari – yang tinggal di Jakarta misalnya, dengan segala kemampuan yang kita miliki, yang mungkin hanya singgah sekali setahun di kampung, bisa menginap di hotel dengan pemandangan matahari terbit hingga terbenam, karena kita mampu. Kita memiliki uang untuk bisa mengakses bebas wilayah di belakang hotel-hotel di Labuan Bajo.

Sedangkan, saudara-saudari kita, termasuk anak-anak dari keluarga pas-pasan, yang hidup, tinggal dan berjuang sepanjang hidupnya di Labuan Bajo harus gigit jari. Mereka harus membayar saat ingin menengok dan menikmati indahnya wilayah pantai.

Karenanya, dengan segala kerendahan hati, saya mohon, kita yang jauh, mari berdiri bersama, berdiri bersama kaum yang terpinggirkan.

Kita sudah lihat dan rasakan bagaimana kejamnya Ancol pada masyarakat Jakarta. Masyarakat diharuskan membayar setiap kali ingin berenang, ingin piknik.

Lalu, mengapa kita lakukan hal yang sama pada sesama saudara-saudari kita di kampung?

Sebentar lagi kita semua akan mati.

Tegakah kita melihat anak cucu kita meratapi hasil keputusan kita hari-hari ini?

Edel Jenarut, berasal dari Manggarai, sekarang berdomisili di Depok, Jawa Barat

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Diduga Mencemarkan Nama Baik, UNIKA St. Paulus Polisikan Pemilik Akun ‘Ishaq Catriko’

Ruteng, Floresa.co – Pihak Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng...