BerandaARTIKEL UTAMAApa yang Disesalkan dari...

Apa yang Disesalkan dari Pertemuan Pemkab Mabar dan Edi Danggur?

Floresa.coPertemuan pengacara Edi Danggur dengan Pemkab Manggarai Barat (Mabar) terkait masalah Pantai Pede mengundang beragam reaksi.

Sejumlah pihak menyatakan, seharusnya Pemkab Mabar tidak hanya mendengar masukan dari pihak yang jelas-jelas mendukung pengelolaan Pantai Pede oleh investor.

Edi Danggur dalam sejumlah pernyataannya mendukung hal tersebut dan menyebut bahwa Pantai Pede tidak serta merta menjadi milik Mabar sebagaimana digariskan dalam UU No 8 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Mabar.

Petrus Selestinus, pengacara yang juga memberi perhatian pada masalah Pantai Pede mengatakan, kehadiran Edi dalam dialog internal yang bersifat tertutup itu patut disesalkan.

“Karena selain dialog itu bersifat tertutup terutama untuk media, juga persoalan Pantai Pede sudah masuk dalam ranah publik sehingga dialog dimaksud seharusnya dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat, karena maayarakat Mabar memiliki hak untuk tahu,” kata Petrus dalam pernyataannya kepada Floresa.co, Rabu, 31 Mei 2017.

Meski demikian, ia berharap semangat dan roh perjuangan Edy sebagai advokat dan kuasa hukum Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama bisa memberi warna di dalam dialog dimaksud.

“Warna dan semangat anti korupsi dan membangun untuk kesejahteraan rakyat harus menyertai dialog antara Edi Danggur dengan ASN Kabupaten Mabar,” katanya.

Jika dialog itu kemudian menghasilkan sebuah kompromi untuk melawan kehendak rakyat dan menutup akses masyaraat tentang hal-hal yang bersifat publik, kata dia, maka semangat dan roh perjuangan Ahok sepertinya hilang dalam diri Edi bersamaan dengan berakhirnya Ahok menempuh upaya banding. (ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.