BerandaNUSANTARATPDI Apresiasi Langkah Polri...

TPDI Apresiasi Langkah Polri Tetapkan Rizieq Sebagai Tersangka

Floresa.co – Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPI) mengapresiasi langkah Polri menetapkan Rizieq Syihab sebagai tersangka dalam kasus pornografi.

Petrus Selestinus, kordinator TPDI menyebut langkah polisi itu sudah tepat atau on the track setelah sebelumnya menetapkan Firza Husein sebagai tersangka untuk kasus yang sama.

“Penetapan status tersangka terhadap Rizieq Shihab dipastikan dilakukan secara sempurna, dengan didukung oleh alat-alat bukti yang memadai sehingga tahapan-tahapan penyelidikan dan penyidikan menururt KUHAP, dipastikan telah dilalui tanpa ada yang terlewatkan,” kata Petrus dalam keterangan tertulis yang diterima Floresa.co, Selasa, 30 Mei 2017.

Ia menyebut, penetapan tersangka itu juga bagian dari respon Polri terhadap suara publik.

Petrus menyebut, TPDI mendukung penuh langkah Polri itu untuk kasus dugaan tindak pidana pornografi sebagai tindak pidana berat.

Namun, kata dia, Polri masih memiliki hutang kepada masyarakat berupa penyelesaian kasus lain Rizieq yang sudah dilaporkan.

Beberapa di antaranya adalah laporan PMKRI atas dugaan penodaan agama Kristen, kasus uang kertas bergambar palu arit, kasus ancaman pembunuhan terhadap pendeta dan kasus pencemaran nama baik.

Menurut Petrus, agar kasus-kasus itu juga bisa diproses, maka Polri tidak punya pilihan lain selain harus membawa pulang Rizieq dari pelariannya di luar negeri.

Jika Rizieq bisa kembali, kata dia, maka imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu bisa  mempertanggungjawabkan kasus pornografi maupun kasus-kasus lainnya.

Dengan ditetapkan Rizieq  sebagai tersangka menyusul tersangka Firza Hussen, kata dia, maka langkah Polri untuk mengeluarkan red notice sebagai bagian dari tindakan polisionil untuk menjemput paksa seorang tersangka karena berada di negara lain juga semakin mudah.

“Mayoritas rakyat Indonesia yang cinta NKRI, cinta Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945 menunggu kinerja Polri membawa pulang Rizieq,” katanya.

Pemulangan Rizieq  ke Indonesia, kata dia, juga sekaligus akan menjawab kegelisahan dan rasa keadilan publik atas belum dimulainya penyidikan kasus-kasus lain.

“Polri atas nama negara harus membuktikan bahwa negara hadir di saat masyarakat membutuhkan terutama demi menjamin rasa keadilan, ketertiban dan ketenteraman masyarakat di seluruh Indonesia,” tegas advokat Peradi ini. (ARL/Floresa)

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Surat Domba untuk Gembala: Bapa Uskup, Akhiri Penderitaan Gereja dan Umat Keuskupan Ruteng

Floresa.co - Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni...

Sudah Seharusnya Cara-cara Represif Ditinggalkan

Seharusnya polisi bisa bertindak lebih bermartabat dari sekadar mendaur ulang cara kekerasan. Pelaku wisata dan warga bukan musuh, apalagi mereka hanya ingin menuntut haknya. Menabur benih kekerasan hanya akan menuai konflik berkepanjangan.