Sambutan umat Wae Rebo atas kedatangan Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng, Pr beserta rombongan ke desa Wae Rebo pada Rabu (19/4/2017). Uskup disambut dengan pengenaan pakaian adat setempat, kepok manuk kapu, dan tarian Sanda menuju rumah adat.

Ruteng, Floresa.co – Banyaknya kunjungan wisatawan ke kampung tradisional Manggarai di Wae Rebo, membuat warga setempat kesulitan untuk mengikuti perayaan-perayaan keagamaan Katolik. Maka dari itu, mereka meminta Gereja untuk memberikan pelayanan khusus terutama pada hari-hari raya dan pembangunan rumah ibadat.

Permintaan itu mereka sampaikan dalam dialog dengan Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng, Pr yang datang ke kampung wisata itu pada, Rabu 19 April 2017.

“Kami menghadapi arus kunjungan wisatawan yang tiap tahun makin meningkat. Kami gelisah, karena kami ingat pariwisata, lantas agama dilupakan. Kami mengikuti kegiatan pada hari raya tetapi bagaimana dengan kesan orang-orang luar tentang penerimaan kami,” kata perwakilan umat, Misel Ovan.

Selama ini, jelas Ovan, banyak wisatawan datang ke kampung Wae Rebo pada hari hari libur, termasuk hari minggu dan hari-hari raya keagamaan. Padahal saat itu mereka mestinya mengikuti ibadat atau Misa di Gereja Paroki. Ini, kata dia, secara perlahan-lahan bisa mengikis iman katolik mereka.

Uskup Hubert Leteng, Pr sedang menyiram halaman rumah adat Wae Rebo dengan air berkat.
Uskup Hubert Leteng, Pr sedang menyiram halaman rumah adat Wae Rebo dengan air berkat.

Ovan pun menyampaikan harapan warga Wae Rebo kepada Uskup Ruteng agar kehidupan rohani mereka tetap terpelihara di tengah kesibukan melayani wisatawan.

“Dengan kehadiran Yang Mulia, bisa memberi kebijakan untuk masa depan kami, dalam hal iman kekatolikan kami,” ungkapnya.

Selain itu, Ketua Adat masyarakat Wae Rebo, Aleks Ngalus menyatakan sangat gembira dengan kunjungan Uskup Leteng. Sebagai umat Katolik, kata dia, selama ini warga sangat rindu akan kunjungan kegembalaan seperti ini.

“Saya sebagai tua adat Wae Rebo mewakili seluruh masyarakat Wae Rebo mengucapkan terima kasih atas kepedulian bapak Mgr. Hubertus yang telah datang mengunjungi kami. Meski sulit, ia masih sampai di Wae Rebo demi umatnya,” katanya.

Harapan yang sama juga ia sampaikan kepada Uskup, yaitu pelayanan kerohanian bagi umat Wae Rebo. Selain banyaknya wisatawan yang datang pada hari Minggu dan hari raya, mereka mereka harus menempuh perjalanan jauh untuk mengikuti perayaan di Gereja Paroki Denge.

“Wae Rebo adalah bagian dari Gereja Keuskupan Ruteng. Kami berharap apa yang menjadi kegelisahan kami di Wae Rebo ini, juga dirasakan dan diperhatikan oleh Keuskupan,” lanjutnya.

Menanggapi keluhan umat Wae Rebo, Uskup Leteng menyatakan keberadaan Wae Rebo sebagai objek wisata dunia memang perlu mendapat perhatian khusus. Pengembangan pariwisata, kata dia, perlu diimbangi dengan pelayanan rohani yang cukup agar umat tetap teguh dalam iman Katolik.

“Iman kita di sini harus kuat karena yang datang bukan hanya mereka yang seiman dengan kita. Kita sendiri harus kuat. Apa pun iman mereka yang datang, kita tidak boleh goncang,” tegas Uskup Leteng.

Terkait pelayanan rohani pada hari Minggu dan hari raya, Uskup yang dithabiskan pada tahun 2010 menggantikan Mgr. Eduardus Sangsung, SVD itu berjanji akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Pelayanan hari Minggu, demikian dia, akan diatur oleh pastor paroki.

Sedangkan, mengenai harapan akan pembangunan rumah ibadat, lanjutnya, umat pertama-tama perlu menyediakan lahan yang cukup. Pihak keuskupan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk membantu pembangunannya.

“Keuskupan Ruteng telah membentuk komisi budaya dan kepariwisataan yang menangani karya pastoral bagi daerah seperti Wae Rebo. Keuskupan melalui komisi ini akan berkoordinasi dengan dinas terkait di pemerintahan atau dengan lembaga-lembaga lain dan para donatur,” jelasnya.

Menyambung pernyataan Uskup Leteng, tokoh masyarakat Wae Rebo, Lukas Dirman menyatakan warga Wae Rebo bersedia menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah ibadat sebagaimana yang diharapkan oleh Uskup Ruteng.

“Saya sudah tanyakan saudara-saudara di sini, mereka akan menyiapkan lahan,” tegas Lukas.

Ia pun berharap pihak-pihak lain juga memerhatikan mereka dalam mengatasi sejumlah keterbatasan objek wisata kampung tradisional Wae Rebo.

“Kami berharap tidak hanya gereja tetapi juga semua saudara-saudara seiman di mana pun di dunia ini dapat membantu kami dalam keterbatasan ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Pastor Paroki Denge, Romo Marsel Amat, Pr menjelaskan posisi objek wisata kampung tradisional Wae Rebo dalam peta Keuskupan Ruteng dimana merupakan bagian dari paroki Denge Keuskupan Ruteng.

“Wae Rebo adalah salah satu KBG dari Stasi Lenggos. 130 kk. sebanyak 33 Kepala keluarga menetap di kampung Kombo,” jelasnya.

Menurut Romo Marsel, selama ini pelayanan kerohanian mereka belum maksimal karena letaknya yang jauh dan terisolasi.

“Kami tidak rutin datang ke sini. Kami datang melayani mereka menjelang perayaan Paskah dan Natal, serta dalam rangka persiapan penerimaan sakramen-sakramen,” pungkasnya.

Kunjungan Uskup Leteng ke Wae Rebo menjadikan dirinya sebagai uskup pertama dalam sejarah Keuskupan Ruteng yang  datang ke kampung wisata itu.

Ikut serta dalam rombongannya, perwakilan Yayasan Bina Nusantara Jakarta, Lisa dan kawan-kawan, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Rm. Martin Chen, dan beberapa umat dari Ruteng. (ER/ARJ/Floresa).