Inosentius Mansur Pr. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: INOSENTIUS MANSUR

Menjelang kematian-Nya, Yesus membasuh kaki para murid. Dalam tradisi Timur Tengah pada umummnya, tindakan pembasuhan kaki merupakan hal biasa, tetapi dilakukan oleh hamba, bukan oleh tuan. Maka, cukup logis, jika Petrus mengajukan keberatan dan bahkan berani menolak tindakan Yesus tersebut. Tidak mungkin guru membasuh kaki para murid. Kalau sebaliknya, pasti bisa diterima.

Tetapi, Yesus tetap pada pendirian-Nya dan malah menganggap Petrus tidak bisa menjadi bagian dari-Nya jika menolak. “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku” (Yoh. 13:8).

Dalam tulisan ini, saya hendak merefleksikan relevansi sosial politik dari tindakan pembasuhan kaki itu.

Simbolisisasi

Pembasuhan kaki para murid merupakan tindakan simbolik. Ada beberapa hal yang patut kita refleksikan dari tindakan simbolik itu. Pertama, apa yang dilakukan Kristus merupakan simbol pelayanan. Melalui pembasuhan kaki, Yesus tak hanya hadir dan berada bersama – lagi setara dengan manusia, tetapi juga menampilkan diri sebagai pelayan.

Pembasukan kaki merupakan tindakan afirmatif, sebab ia sendiri telah mengatakan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Ia rela menanggalkan jubah yang merupakan simbol kebesaran, dan ingin menjadi hamba.

Selain itu, dalam dan melalui tindakan itu, Yesus sekaligus mengajarkan kepada murid tentang betapa pentingnya tindakan pelayanan dalam aktualisasi sosial mereka. Para murid mesti benar-benar menampilkan diri sebagai hamba Tuhan, bukanya bos-bos yang menuntut dilayani dan bahkan membebani orang lain.

Apa yang dilakukan Yesus ini juga merupakan kritikan terhadap elite-elite Yahudi pada waktu itu sebab mereka memosisikan diri sebagai “bos-bos” yang harus dihormati dan dilayani dimana-mana. Tindakan pembasuhan kaki merupakan bagian dari pola pewartaan yang seringkali menginterupsi elitisasi dalam ruang publik Yahudi.

Jika kebanyakan elite bangsa Yahudi ingin mendapatkan perlakuan khusus, ingin mendapatkan penghormatan dan dengan demikian ingin dilayani, maka Yesus justru sebaliknya.

Ia menawarkan sebuah cara antitesis, sikap radikal dan kesejatian pelayanan. Jika pada saat itu, ruang publik, adat istiadat dan ayat-ayat Kitab Taurat “diprivatisasi” secara kolektif oleh ahli-ahli taurat dan pemuka-pemuka agama, Yesus justru memastikan bahwa adat-istiadat, ruang publik dan ayat-ayat kitab taurat mesti dipakai sebagai rujukan dan ditafsir secara reproduktif-konstruktif untuk membebaskan dan menempatkan orang Yahudi sebagai subyek yang pantas dihormati. Mereka tidak boleh ditindas. 

Dengan demikian, kritikan Yesus atas deviasi dalam praksis sosial bangsa Yahudi, yang tidak hanya disampaikan lewat kata-kata, tetapi juga lewat tindakan.

Kedua, sarana yang dipakai Yesus dalam tindakan pembasuhan adalah air. Dalam tradisi Gereja Katolik, air memiliki banyak makna. Dalam perayaan Ekaristi misalnya, air seringkali dicampur dengan anggur sebagai lambang perpaduan langit dan bumi. Selain itu, air seringkali dipakai oleh imam untuk membersihkan diri (dosa) sesudah menerima persembahan dari umat (Bdk. Maryanto, 2004). Sementara itu, secara sederhana, air selalu dipakai sebagai sarana untuk membersihkan. Tanpa air, tindakan pembasuhan kaki para murid tidak mungkin dilaksanakan. Air adalah ungkapan pembersihan diri dari dosa.

Metanoia Politik

Metanoia berasal dari kata bahasa Yunani, metanoeo yang berarti berbalik. Berbalik yang dimaksudkan di sini adalah dari kegelapan kepada terang. Dalam tradisi Katolik, kata ini seringkali diartikan sebagai pertobatan.

Menurut saya, peristiwa pembasuhan kaki dapat direfleksikan sebagai titik pijak bagi praksis elite-elite politik kita untuk berbalik, untuk kembali kepada terang atau untuk bertobat. Sebab, merupakan hal yang tak terbantahkan lagi bahwa praksis perpolitikan tanah air kita akhir-akhir ini seringkali salah kaprah dan bahkan cenderung menindas atau memarginalkan rakyat.

Alih-alih diharapkan menjadi instrumen artikulatif-akomodatif, politik seringkali dipakai untuk melegitimasi hasrat-hasrat sekular parsial. Politik pun didegradasi ke episode yang  paling memprihatinkan.

Buktinya, elite-elite politik tidak lagi tampil sebagai pelayan, melepaskan privilese, bertindak sebagai “hamba” rakyat, tetapi seringkali berkiprah sebagai “bos-bos” dalam ruang publik.

Mereka enggan melepaskan segala keistimewaan, tetapi malah ingin mendapatkan kemudahan dalam banyak aspek kehidupan. Elite-elite politik kita menggunakan jabatan politik untuk mempermudah mereka sendiri dalam banyak hal dan mampersulit rakyat dalam hampir semua dimensi kehidupan. Mereka seringkali diuntungkan dan rakyat acapkali dirugikan. Elite-elite politik tidak menjabarkan esensi politik secara benar, tetapi mendekonstruksinya untuk mendukung kepentingan mereka sendiri. Jabatan publik dipelintir berdasarkan perspektif kapitalis. Elite-elite politik tidak menjadi pelayan, tetapi menjadi tuan.

Maka, tidak heran ada disparitas ekstrem antara elite-elite itu dengan rakyat. Mereka menjadi semakin kaya dan rakyat menjadi semakin menderita. Bahkan mereka cenderung hegemonik, tidak mendengarkan kritikan dan bahkan mencap orang yang mengkritiknya dengan label yang tidak benar.

Karena itulah, kita berharap agar para pemimpin publik mesti “berbalik”. Mereka harus bertobat dan melakukan metanoia politik. Mereka harus menjadi pelayan yang berusaha untuk memudahkan rakyat mendapat akses pelayanan publik. Mereka harus melepaskan “kebesaran” dan turun untuk melayani dan berusaha untuk mendengarkan keluhan rakyat. Mereka juga mesti membantu rakyat untuk bisa memanfaatkan ruang publik secara bebas. Mereka tidak boleh mencaplok apa yang seharusnya diberikan kepada rakyat.

Seperti air yang digunakan Yesus saat pembasuhan kaki, pejabat publik juga harus menjadi “air”, yang membersihkan dan merestorasi peradaban publik yang terdistorsi secara masif dan sistematis. Politik mesti menjadi sarana sakral, untuk “membersihkan” kekhilafan kolektif-politik yang selama ini telah dikotori oleh tindak-tanduk kontraproduktif mereka sendiri. Elite-elite politik atau pemimpin publik mesti “bertobat” dan mengembalikan politik pada hakikatnya.

Kata Yesus, “sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:15). Kata-kata Kristus ini akan terlaksana secara baik, jika elite politik ataupun pemimpin publik mengembalikan politik pada esensinya dan bertindak sebagai pelayan yang membebaskan dan bukannya membelenggu rakyat. 

Penulis adalah rohaniwan dan pemerhati politik dari Seminari Ritapiret – Maumere